Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Kangmas Hejis

Pembelajar saja.

Komunikasi Publik Toni Blank, Vicky, dan Politisi

HL | 10 September 2013 | 08:47 Dibaca: 3560   Komentar: 52   18

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)

Komunikasi publik kita diwarnai dengan jargon-jargon yang semakin canggih, kosmopolit, dan kosong. Di mana saja kita dengar istilah-istilah yang mengesankan bahwa sang komunikator memiliki intelektualitas tinggi dan berkelas.

Setidaknya beberapa komunikator beranggapan bila mereka menggunakan kata-kata kunci yang njlimet maka akan terbangun citra diri yang positif. Kata-kata yang digunakan pun mesti dipilih yang berbau kosmopolit, yang mengesankan bahwa mereka berpengetahuan sangat luas, seluas kosmos.

Namun, itu semua merupakan kemasan komunikasi yang bagus tetapi isinya kosong. Dikatakan kosong karena apa yang sudah dikatakannya itu tidak dijalankan. Tidak ada sama sekali janji-janji, tekad, usul yang terwujud.

Sebetulnya hal itu tidak menjadi masalah manakala komunikasi publik seperti itu dilakukan oleh mereka untuk tujuan humor semata. Kita menjadi terhibur sehingga dapat dengan sejenak melupakan kondisi sosial-ekonomi yang semakin sumpek.

Celakanya komunikasi publik yang “lebay” itu justru melanda kehidupan politik kita. Para politikus seolah berlomba-lomba membanjiri publik dengan ucapan-ucapan yang bukan hanya kosong melainkan juga mengkhianati amanah yang diberikan publik kepadanya.

Para politikus sejatinya merupakan perpanjangan mulut publik agar menyuarakan kepentingan-kepentingannya dengan lebih kuat dan efektif. Tetapi, yang terjadi malah menimbulkan kekecewaan demi kekecewaan di hati masyarakat.

Tentu saja tidak semua politikus berkomunikasi seperti itu. Para politikus yang dimaksud di sini adalah mereka yang menyandang pengemban amanah publik namun perkataan dan perbuatannya tidak sejalan.

Mereka ini adalah para politikus yang korupsi, mengintimidasi, mendorong konflik fisik, mengadu-domba, menjelek-jelekkan pihak lain, memusnahkan kepercayaan orang lain, dan menganggap dirinya yang paling benar. Semua tindakan itu dilakukannya demi keuntungannya sendiri dan/atau kelompoknya.

Komunikasi publik yang semacam itu, kita sebut saja “komunikasi mbelgedez”—sepertinya diwakili oleh Toni Blank, Vicky Prasetyo, dan Politikus bermasalah.

Toni Blank adalah pria asal Jogjakarta yang saat ini menjadi selebritas dunia maya. Videonya banyak ditonton oleh ratusan ribu orang. Di Youtube video yang berjudul “Toni Blank Show” dibuat banyak edisi.

Saat ini, Toni Blank adalah salah satu penghuni sebuah panti sosial di kawasan kota Jogjakarta. Toni Blank harus dirawat di panti sosial karena mengidap schizophrenia dan hilang ingatan, atau dalam bahasa awam disebut ‘gila’ alias ‘tidak waras’.

Walaupun demikian, bukan berarti Toni Blank adalah orang bodoh. Bahkan timbul kesan bahwa Toni Blank termasuk orang yg cukup cerdas sebelum terkena schizophrenia. Ini dibuktikan dengan hobinya membaca apa saja, mulai dari sobekan kertas lusuh, koran dan majalah, hingga berita di internet (Blog Beeography).

Tak perlu heran jika Toni Blank punya pengetahuan umum yg cukup baik dan mengerti kejadian2 aktual yg sedang ramai dibicarakan di masyarakat dan media. Toni Blank juga cukup fasih berbahasa Inggris dengan pengucapan (pronounciation) yg cukup baik, setidaknya untuk seorang pengidap schizophrenia. Memang sebagian besar perkataan Toni Blank terkesan konyol, ngawur, dan asal alias “mbelgedez.”

Wajar jika banyak orang waras menganggap perkataannya tidak bermakna dan sekadar jadi bahan tertawaan saja. Namun jika diperhatikan secara lebih seksama, perkataan Toni Blank banyak berisi jargon-jargon teknologi. Ucapan-ucapannya sering menunjukkan adanya opini, keprihatinan, kegelisahan, perhatian, apresiasi, bahkan filosofi dari seorang Toni Blank.

Di dalam “komunikasi mbelgedez” juga dapat disebut Vicky Prasetyo sebagai salah satu ikonnya. Vicky Prasetyo adalah mantan tunangan Zaskia Gotik yang banyak dipergunjingkan di tayangan infotainment. Ia ditangkap oleh pihak Kejaksaan Negeri Cikarang pada pada Jumat (6/9/2013) di Hotel Shantika TMII, Jakarta Timur.

Menurut Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Cikarang, R.D. Pelupessy SH, pria pemilik nama Hendrianto bin Hermanto itu sudah menjadi buronan Kejaksaan Negeri Cikarang sejak 2012 atas tuduhan pemalsuan surat sengketa tanah (Liputan 6Com).

Akhir-akhir ini perkataan-perkataannya banyak ditonton orang di Youtube. Mari kita simak bagaimana gaya komunikasinya berikut ini.

Usiaku sekarang twenty nine my age ya tapi aku tetap merindukan apresiasi karena basicly aku seneng.. seneng musik walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya.. Gak, kita belajar ee.. apa ya.. harmonisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita gak boleh ego terhadap kepentingan dan kudeta apa yang menjadi keinginan. Dengan adanya hubungan ini bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia ya, tapi menjadi konfiden, tapi kita bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga.

Baik Toni Blank maupun Vicky Prasetyo secara eksplisit berkomunikasi penuh jargon yang sering sulit dipahami dari kacamata bahasa umum. Mereka terlalu asyik dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Namun yang membedakan keduanya adalah bahwa Toni Blank mengidap kondisi kejiwaan yang dimaklumi oleh publik bila perkataannya seperti itu. Bahkan banyak orang justru menaruh hormat kepadanya. Setidaknya Toni Blank menunjukkan kejujuran, tanpa bermaksud menunjukkan jati diri yang dibuat-buat.

Sebaliknya dengan Vicky. Di balik komunikasinya yang dianggapnya canggih itu justru banyak cerita yang negatif seputar dirinya. Di kalangan artis penyanyi dangdut ia terlibat skandal dengan penyanyi-penyanyi dangdut yang cantik.

Tak ketinggalan adalah politikus-politikus bermasalah. Bahkan komunikasi yang dilakukannya dikemas lebih canggih dan mengesankan lebih rasional. Namun, seperti yang kita saksikan, perilakunya jauh dari harapan publik. Jika seperti ini, mana yang lebih terhormat antara Toni Blank, Vicky, dan Politisi?*** [Kangmas Hejis]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | | 28 November 2014 | 11:45

Harusnya Nominal Subsidi Tetap 1500 Perak, …

Dhita A | | 28 November 2014 | 13:34

Terpana Danau Duma …

Lukman Salendra | | 28 November 2014 | 12:25

Senangnya Terpilih Menjadi Host Moderator …

Edrida Pulungan | | 28 November 2014 | 13:43

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46



HIGHLIGHT

Gerakan Sejuta Data Budaya Indonesia …

Sandra Nurdiansyah | 8 jam lalu

Media Utusan (Malaysia) Kembali Membuat Ulah …

Chairul Fajar | 8 jam lalu

Perkembangan Pandangan “Kiri” …

Bobby Rizky Irawan | 8 jam lalu

PreJebul: Rumah …

Kampretos | 8 jam lalu

Madura Touring …

Poernamasyae | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: