Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Christie Damayanti

Just a stroke survivor & cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as selengkapnya

Tinggal di Apartemen? Monggo… Bermukim di ‘Landed House?’ Silakan Saja

OPINI | 22 August 2013 | 17:52 Dibaca: 1089   Komentar: 9   2

By Christie Damayanti

1377168348685291129

7architecturre.blogspot.com

Sebelumnya :

Pilih Tinggal di Apartemen Walau Kecil atau ‘Landed House’ di Pinggiran Jakarta?

Memilih tinggal di apartemen atau di rumah yang lebih nyaman tetapi jauh dari Jakarta, susah2 gampang. Semuanya terserah kita masing2. Tetapi yang ingin aku ketengahkan di artikel sambungan ini adalah sebuah komen yang membuat pikiranku terusik, bahwa dikatakan tentang kota metropolitan selevel Jakarta ini adalah salah kaprah jika tetap memikirkan membangun kota dengan pemukiman ‘landed house’, bukan bermukim di apartemen …..

Untuk kota Jakarta, adalah ‘TIDAK SALAH KAPRAH’ jika konseptor2 Jakarta tetap memunculkan ide2 pemukiman ‘landed house’. Seperti di artikelku sebelumnya, semuanya tergantung dari budaya dan sejarahnya. Jika bangsa2 lain seperti di negara2 maju, sudah lama sekali mereka membangun apartemen. Sekarang saja apartemen sedang  ‘booming’ di dunia, termasuk di Jakarta, tetapi mereka sudah puluhan tahun bermukim di gedung tinggi.

Karena aku sering ke Amerika, aku tahu sekali bahwa di kota2 Amerika ( kecuali kota2 besar seperti New York, Los Angeles atau Chicago serta San Francisco dan yang setara ), mereka lebih memilih tinggal di ‘landed house’. Pemda tetap membangun apartemen tetapi hanya 4 lantai, karena mereka lebih bisa berinteraksi dengan lingkungan dan alamnya. Tetapi jika di kota2 besar, memang mereka membangun apartemen2 tinggi, dengan harga yang memang sangat mahal! Dan warga kota menegah kebawah, mereka tetap memilih mencari dan membeli ‘landed house’ di pinggiran kotanya!

1377168441605317004

13771685031512617563

Lingkungan tempat tinggal adikku di Irving, Dallas di Texas Amerika Serikat. Apartemen pendek, hanya 4 lantai, tidak perlu lift, relatif murah untuk warga kota menengah kebawah.

Menurut mereka, lebih baik membeli rumah di pinggiran kota, dibanding harus menyewa apartemen di kota, sudah harganya mahal tetapi tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan dan alamnya.

Untuk negara2 kecil, mau tidak mau mereka harus bermukim di apartemen, seperti di Singapore atau Jepang. Sedangkan di Hongkong ( yang sekarang bedara di negara China atau Malaysia ) mereka masih bisa memilih, mau membeli atau menyewa  apartemen di kota atau membeli rumah di pinggiran kota, dan itu terserah dari masing2 warga. Begitu juga di Indonesia, khususnya di Jakarta …..

Konsep pemukiman Jakarta sendiri sudah jelas tentang ‘Poros Timur-Barat’ ( lihat tulisanku Semakin Bertambah Saja ‘Beban Jakarta’, ). Semuanya adalah ‘landed house’. Tetapi pemda pun tidak asal2an. Dengan perkembangan kota serta ke-modern-an secara globalisasi dunia, mereka mempercayakan konsep pengembangan pemukiman di dalam gedung tinggi ( apartemen ) kepada developer2 yang sebaiknya bekerja-sama dengan pemda. Dan konsep rusenami-lah yang sekarang sedang trend dalam masyarakat Jakarta. Bahwa warga Jakarta yang tidak mau tinggal di pinggiran Jakarta karena kepraktisah hidup dan memilih tinggal di partemen, silahkan saja! Mau apartemen murah di rusunami, monggo! Mau di apartemen mahal, ya juga silahkan saja ……

Juga tentang pembangunan apartemen murah dari pemda untuk ‘gusuran’ pemukiman dari bantaran kali atau dari sepanjang rel KA atau dari Waduk Sunter, mengapa Jokowi memilih untuk membangun apartemen murah? Mengapa tidak membangun rumah2 murah type-21? Padti ada alasannya!

Sangat tidak gampang memindahkan warga di bantaran sungai, atau di Waduk Pluit ataupun bongkaran2 pemukiman slum di Jakarta. Jangankan memindahkan rumah mereka, lah hanya ingin kepedulian untuk mereka sendiri saja tidak mudah! Mereka diminta untuk pindah karena pemukima mereka berbahaya atau karena harus di tata ulang demi semua warga, dan mereka diminta pibdah ke apartemen murah yang letaknya tidak jauh dari perkampungan kumuh mereka! Pun masih banyak yang berseteru dengan petugas2 pemda. Itu pemda inginkan mereka pindah tetap di Jakarta, BAHKAN tidak terlalu jauh dengan pemukiman mereka yang sebelmnya.

Bagaimana jika pemda meminta mereka tinggal di rumah2 mungil di pinggiran Jakarta ???? Apa tidak menambah masalah ???

***

Sebuah kota, apalagi di jaman modern seperti ini, konsep perkotaan haruslah fleksibel. Semua bisa berubah, sepanjang untuk yang lebih baik. Bahkan jika kita riset ke kota2 besar di negara2 maju ( seperti yang aku lakukan ketika menulis thesis S2 ku di beberapa negara ), tidak menutup kemungkinan untuk bisa ‘berbalik arah dan konsep’, sesuai dengan kebutuhan jaman.

Pergeseran2 konsep perkotaan seperti ini bisa dipahami, tetapi budaya serta sejarah dan ‘pakem2′ sebagai bangsa, bahkan semua bangsa, akan terus mengikutinya. Sehingga pergeseran2 tersebut akan sangat tergantung kepada orang2 muda sebuah bangsa. Kita lah sekarang yang harus mendidik mereka sebagai orang tua, bahwa mereka lah yang akan memimpin bangsa kita. Jika mereka benar2 tidak peduli dengan sejarah, budaya serta ‘pakem2′ leluhur, bangsa kita akan ‘terjajah’ oleh ke-modern-an yang labil dan tidak ada kepastian, karena sebuah kemodernan bukan sebuah kepastian! Dengan adanya ke-modren-an, budaya serta sejarah sebuah bangsa akan terkikis dan lambat laun menjadi punah. Dan kepunahan sebuah bangsa itu bukan karena fisik bangsanya, tetapi sejarah serta budayanya!

Jadi menurutku, Jakarta sudah bisa berada di tengah2 ke-modern-an tanpa kehilangan sejarah, budaya serta kehidupan yang berbangsa Indonesia. Tinggal kita sebagai warga kota yang DEWASA, kita harus terus memantau orang2 muda Jakarta untuk bisa ‘membawa’ Jakarta ke ibukota yang lebih baik. Sebagai warga kota yang DEWASA, kita BUKAN memaksakan kehendak dengan egoisme2 pribadi. Jangan karena sebuah ke-modern-an, tetapi Jakarta ‘digadaikan’ menjadi kota modern yang semu ……

Sekali lagi, apartemen adalah sebuah ke-modern-an, dan memang dibutuhkan untuk kepraktisan bagi pekerja dan orang muda. Tetapi ‘landed house’ pun masih mendapatkan apresiasi yang luar biasa untuk sebuah tempat tinggal. Dan pemahaman itu seharusnya bisa dimengerti untuk tidak adanya kesalah-fahaman.

Tinggal di apartemen? Monggo ….. tetapi mau bermukim di perumahan ‘landed house?’ Juga silahkan saja ……

Profil | Tulisan Lainnya

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 7 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 15 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 9 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 9 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 9 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: