Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Christie Damayanti

Just a stroke survivor & cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as selengkapnya

Pilih Tinggal di Apartemen walau Kecil atau ‘Landed House’ di Pinggiran Jakarta?

HL | 22 August 2013 | 16:05 Dibaca: 1802   Komentar: 32   7

By Christie Damayanti

1377161739339901245

jakartacity.olx.co.id

Berangan2 memiliki sebuah rumah dari sebuah apartemen ( atau sebaliknya ) …..

Sebuah komentar di salah satu artikelku, sanat mengusik pikiranku. Mungkin biasa2 saja jika orang yag membaca tdak tahu duduk-persoalannya, tetapi untukku sebagai arsitek, urban planning serta pemerhati Jakarta, aku seakan tidak dianggap tahu oleh si komentator tersebut, tentang sebuah kota metropolitan selevel Jakarta ini, dianggap sebagai kota yang SEHARUSNYA sudah memakai kriteria2 status dan prestisius sebagai kota dunia ……

Si komentator tersebut sangat percaya diri bahwa kota Jakarta itu sekarang sudah seharusnya hanya membangun apartemen2 untuk tempat tinggal warganya, BUKAN perumahan ‘landed’ ( rumah tunggal di atas tanah ). Begitu aku membacanya, aku terpengarah …..

***

Seperti yang kita ketahui, Jakarta adalah sebuah ‘kota tumbuh’, bermula sejak jaman kolonial Hindia-Belanda, dari perkampungan kecil berkembang menjadi besar, menjadi perkotaan, dengan bangunan2 sederhana berlanggam Belanda peranakan, serta arsitektural Belanda, China serta budaya lokal. Dan itu terus berkembang sampai kemerdekaan. Setelah itu, pembangunan bangunan berlanggam Belanda tidak ada lagi. Yang ada, pemerintah mulai merawat bangunan2 yang ada sekarang, wlau pada kenyataannya sangat memprihatinkan ……

Lalu jamannya berubah. Penduduk Jakarta mulai mengerti tentang konsep2 perkotaan, terus dan terus sampai sekarang. Tetapi ternyata pun, konsep perkotaan jakarta dipenuhi dengan langgam budaya luaar, yang dianggap sebagai ‘kehidupan modern’. Desain2 bangunan di Jakarta, tidak sesjuai dengan budaya lokal sehingga konsep kota pun bergeser. Dari yang ( katanya ) tidak etis untuk bicara tentang sejarah bangunan Belanda serta China ( karena Jakarta adalah Jakarta, dengan budaya2 lokalnya, lihat tulisanku ‘Multi-Culture’ : Betawi, China Town dan Dutch Town untuk Tujuan Wisata Jakarta : Konsep Dariku, Mungkinkah? ), sampai dengan kenyataannya bahwa ‘lepas dari penjajahan secara fisik, jakarta juga diajah secara desain fisik kota’, dengan bangunan2 yang sebenarnya tidak cocok dengan fisik dan lingkungan Jakarta ( lihat tulisanku “Wah, Silau Banget, ya?” Cerita Tentang ‘Glassy Building’ dan Memangnya Jakarta Mau Diubah Menjadi ‘Kota Shopping?’).

Itu baru tentang fisik bangunan, yang terlihat kasat mata saja. Bagaimana dengan konsep hidup perkotaan?

Banyak sekali permasalahan dengan tergesrnya nilai2 desain serta tata ruang kota. Baik karena keengganan warga kota untuk membantu ‘Jakarta lebih baik’ dengan ketidak-peduliannya dalam keegoisan pribadi, maupun keadaan yang dianggap ‘modern’ bagi seelompok warga bahkan orang2 muda dan eksekutif2 muda yang merasa tidak modern jika mau tinggal di ‘landed house’( rumah tunggal di atas tanah ) yang jauh dari perkotaan! Mereka lebih memilih untuk mencari dan membeli apartemen deang luas sekitar 30 m2-an sampai 100 m2, dan dengan harga yang sangat mahal, tidak setara dengan ‘landed house’ …..

Itu memang fenomena sebuah kiota modern dengan generasi2 baru, yang lebih memilih kepraktisan, walau tidak diselingi oleh kepedulian. Apakah  ada yang peduli, bahwa kepraktisan itu akan ‘menghancur-leburkan’ mimpi2 warga kota menengah kebawah, secara mereka pasti tidak akan mampu untuk mempeli apartemen? Apakah ada yang terpikir,walau mereka mampu, tetapi mereka tidak bisa tinggal di apartemen dengan hanyya luas unit yang kecil serta tidak adanya kehidupan yang berhubungan dengan lingkungan alamnya? Untuuk, tinggal di apartemen adalah ‘penjara!’

13771618012038548939

www.apartemencondotel.thehive.com

Standard apartemen yang lumayan bisa ‘terbeli’ dengan luas unit sangat kecil! Jika untuk 1 keluarga dengan 3 anak saja, tidak manusiawi.

Ketika rumahku sempat direnovasi besar2an, kami tinggal di apartemen kami di kawasan Gandaria, selama 6 bulan. Pertama kali dengan naik turun seperti tinggal di hotel. Anak2ku pun bahagia luar biasa karena setiap pagi mereka berenang denganku, seblum makan pagi dan berangkat ke sekolah dan ke kantor. Sore hari, berjalan2 diseputar apartemen sambil menikmati udara sore, tetapi tidak banya yang dilakukan karena keterbatasan sebuah kompleks apartemen kami …..

1 bulan saja sepertiya kami bahagia. Setelah itu,mulai banyak keluhan2 kami. Anak2 tidak siap dengan kungkungan2 karena tidak boleh turun ke bawah jika tidak ada yang temani, apalagi main seperda karena lingkungan apartemen kami adalah di lingkungan premier dengan jalan besar ( walaupn ada di dalam kompleks, tetapi sangat terbatas ).nMereka sudah mulai berkeluh kesah tidak bisa bermain sepeda, bermain tanah atapun bermain sambil berteriak2 …..

Mamaku pun demikian. Tidak bisa bercocok tanam, secara di rumahku taman2 indah adalah karya mamaku. Dan jangan lupa, apartemen itu sangat terbatas dengan hanya 1 kendaraan yang boleh parkir gratis, yang lainnya bayar dengan bayaran yang tidak murah! Jika kita tertnggal barang di mobil, kita harus ganti baju dlu, naik turun lift, mencari mobil yang belum tentu parkir di tempat yang semestinya. Alu pagi dan malam hari, lit pun mcet dengan membawa warga apartemen yang berangkat dan pulang kerja …..

Hmmmmm, mungkin karena kami dibesarkan di keluarga2 Indonesia dengan pakem2nya, walau tinggal di abad modern, untuuk apartemen adalah penjara! Untukku, aku lebih baik menari rumah di pinggiran Jakarta dengan luas yang lumayan untuk keluargaku, dibanding tinggal di apartemen yang kecil.

Nah, apalagi warga kota yang notebene pasti paling tidak sama denga pemikiranku? Mereka tinggal di abad modern kota Jakarta, tetapi dengan keterbatasannya dalam perekonomian, mereka akan susah untuk memilih tinggal di apartemen. Jikapun mereka bisa, tetap saja seperti aku, sebagian besar akan lebih memilih mencari rumah lumayan besar di pinggiran Jakarta!

13771618692131693054

denahrumahterbaru.blogspot.com

1377161914434252063

jasadesainrumah.com

Untuk sebuah ‘landed house’, bisa dimungkinkan jika ada tambahan dana, kita bisa membangun perluasan rumah kiya. ‘Rumah tumbuh’, istilahnya ….. Dari yang sekedar rumah kecil type 21, bisa menjadi lumayan bagus dan mewah untuk ukuran sebuah rumah sederhana …..

Lagi. Jakarta sudah berada di sebuah negara dengan kehidupan2 ‘pakem’ dengan budaya2 lokal. Sejak dulu, budaya lokal adalah ‘kita tinggal di rumah2 tunggal di atas tanah / landed house’, dan itu tidak akan berubah, walau pada kenyataanya konsep hidup Jakarta semakin berubah. Orang2 muda sekarang ( apalagi yang bertempat tinggal di Jakarta, yang termasuk kaum ‘hedonis’ ) memang lebih menginginkan ‘kepraktisan’ saja, tanpa engerti tentang sebuah sejarah, ideologis arsitektural atau kehidupan budaya lokal. Dan untukku yang sangat memikirkan tentang idealisme, itu sangat ‘menyedihkan’ …..

Lalu, bagaimana hubungannya dengan si komentator di atas, dengan ceritaku? Dan bagaimana dengan konsep rusunami dari pemda dan developer2 bagi warga yang dipindahkan dari gubug di bantaran sungai atau di sepanjang rel KA?

Tunggu artikelku berikutnya …..

Profil | Tulisan Lainnya

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kurikulum 2013: Buku, Seminggu Dibagikan …

Khoeri Abdul Muid | | 20 August 2014 | 17:25

Hati-hati, Cara Mengutip Seperti Ini Pun …

Nararya | | 20 August 2014 | 20:09

Anak Sering Kencing (Bukan Anyang-anyangan) …

Ariyani Na | | 20 August 2014 | 18:03

Obat Benjut Ajaib Bernama Beras Kencur …

Gaganawati | | 20 August 2014 | 14:45

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 12 jam lalu

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 16 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 17 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 17 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: