Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Esther Lima

No Biographical Info

Pantura 200 Tahun Lalu dan Kini

OPINI | 11 August 2013 | 11:47 Dibaca: 1206   Komentar: 23   15

1376195891534851974

De grote postweg, wikipedia

.

Libur Lebaran usai. Jutaan masyarakat kembali ke Jakarta lewat Pantura. Macet-macetan lagi. Tahukah anda, bahwa jalur Pantura telah berusia 200 tahun?

Pantura, dibangun pada tahun 1808 oleh Gubernur Jenderal Dutch East Indies, Herman Willem Daendels, disebut De Grote Postweg, atau Jalan Raya Pos. Terbentang dari Anyer hingga Panarukan, pada awalnya Pantura melewati Bandung, menuju Cirebon hingga Panarukan. Dibuat untuk memudahkan pengiriman logistik dan transportasi bagi tentara Belanda untuk melindungi Jawa dari serangan Inggris.

Karena mendesaknya kebutuhan jalan ini, maka Pantura diselesaikan dalam waktu 1 tahun, namun memakan korban jiwa sekitar 12.000 orang penduduk akibat kelelahan hebat, kelaparan dan malaria. Sebuah proyek yang berat untuk masa itu, dimana proses pemetaan, pembabatan hutan, melewati gunung, lembah serta menghadapi berbagai binatang mematikan harus dilewati untuk menghasilkan jalan raya yang memudahkan akses semua orang.

.

13761959581105198544

Ini adalah foto jalur Pantura di area Pasuruan, difoto pada tahun 1890 (sumber: Koninklijk Instituut voor taal-, land- en volkenkunde ).

.

Pada saat Jalan Raya Pos dibuat, menurut sensus Raffles, tahun 1815 penduduk Jawa berjumlah 4,5 juta jiwa. Tahun 1900, penduduk Jawa berjumlah 28,5 juta. Dengan jumlah penduduk tersebut, Jalan Raya Pos masih memadai.

Bagaimana dengan sekarang?

Menurut BPS, penduduk Jawa tahun 2000 sejumlah 118 juta, sementara tahun 2010 berjumlah 132,9. Dengan peningkatan kapasitas sedemikian besar, jalan yang digunakan masih sama. Indonesia yang sudah 68 tahun merdeka ini masih menggunakan jalan buatan Gubernur Jenderal Dutch East Indies, Herman Willem Daendels buat mudik lebaran.

1376196004837344084

Ini adalah foto jalur Pantura di area Pasuruan, tahun 2013 (sumber: wartabromo.com)

Jelas, lebar jalur Pantura sudah tidak layak lagi, sehingga dengan bobot kendaraan seberat dan sebanyak itu, maka jalan mudah berlubang dan harus terus diperbaiki. Padahal biaya memperbaiki jalan setiap tahun selama bertahun-tahun, jika dijumlah bisa jadi cukup untuk menambah kapasitas jalan.
13761960382110229280

Ilustrasi double decker road Pantura - Pansela
Sudah waktunya Pantura dibuat menjadi jalan tol bertumpuk ke atas (double decker road), menyusuri pantai utara dan pantai selatan Jawa sementara pengendara motor menuju port Tanjung Priuk, motornya naik kapal laut turun di Semarang, Surabaya, Madura, serta jalur selatan via Cilacap, sehingga mengurangi kecelakaan motor yang menelan korban jiwa sedemikian banyak setiap mudik lebaran.

Belanda, umumnya jika membangun, dirancang agar dapat digunakan paling tidak selama 100 - 200 tahun ke depan. Visioner.

Kenapa juga Pemerintah Indonesia hari gini masih menggunakan jalan 200 tahun lalu?

.

- Esther Wijayanti -

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: