Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Rindy Dwi Ladista

Aku penikmat rindu, seperti candu, seakan membelenggu,perlahan membunuhku.

IP Gue Gede, Pake Usaha Sendiri

OPINI | 25 July 2013 | 00:30 Dibaca: 269   Komentar: 1   1

Semester genap untuk tahun ajaran 2012/2013 resmi berakhir di hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Hal ini ditandai dengan terbitnya KHS mahasiswa berisikan nilai-nilai yang secara keseluruhan disebut IP. Bukan tanpa “adem anyem”, justru mahasiwa merasa deg-degan menunggu nilai-nilai bermunculan melalui situs siakad masing-masing perguruan tinggi, termasuk saya.

Pengisian nilai yang jauh-jauh hari sudah dijadwalkan administrator tak diiindahkan, para dosen yang terhormat baru sibuk mengisi seminggu sebelum deadline, bahkan banyak yang di hari terakhir. Mahasiswa dibuat pontang-panting ketakutan. Apalagi bila nilai tak sesuai harapan, harus ekstra tenaga untuk mondar-mandir ke kampus untuk meminta transparansi nilai.

Nah, ada satu yang selalu terjadi tiap KHS siap antar ke orang tua. Sang penerima IP kecil akan mengutuk sang penerima IP besar. Ungkapan-ungkapan seperti: “IP gede tuh ga akan jamin gampang dapet kerja” atau “Biarin aja IP gue kecil, yang penting usaha sendiri” atau ada lagi “Dia IP gede mah tapi otak kosong, mendingan gue”

Kalau boleh saya bilang, mereka itu kaum-kaum sirik. Sebab sekalipun saya ber-IP biasa saja tak pernah mengumpat seperti itu di media massa. Saya percaya itu rezeki mereka, walaupun mungkin saja jalan yang mereka atau yang saya tempuh tidak selalu jujur.

Tidak perlu munafik, selama hidup pasti kita pernah mencontek. Mencontek itu bukan hanya dalam konteks saat ujian, tapi juga dalam tugas. Tidak semua tugas dari dosen saya kerjakan 100% sendiri, ada kalanya ketika kelelahan, sedang tugas kuliah menumpuk, maka jurus terjitu yang saya ambil adalah BBM teman meminta foto jawaban. Selesai

Mari kita bahas satu per satu ungkapan yang sering muncul di permukan media massa

1. IP gede tuh ga akan jamin gampang dapet kerja

Iya, memang benar. Tapi itu juga jadi salah satu kualifikasi buat masuk kerja. Kalau jawabannya mau menjadi wirausaha Alhamdulillah. Tapi biasanya, fresh graduate akan cari perusahaan-perusahaan bonafid dahulu,  dan ip sekian akan jadi syaratnya.

2. Biarin aja IP gue kecil, yang penting usaha sendiri

Alhamdulillah sekali, teman kita ini jujur dalam perjalanan pendidikannya. Perlu diapresiasi. Sayangnya, orang-orang seperti ini cenderung terlihat pasrah akan keadaan. Alangkah baiknya bila usahanya ditambah lagi. Biar bisa lebih berbangga lagi dengan ungkapan baru “IP gue gede, pake usaha sendiri”. Lebih enak kan?

3. Dia IP gede mah tapi otak kosong, mendingan gue

Nah kalau yang ini sepertinya terjangkiti virus narsis. Coba perhatikan seksama bagaimana ungkapannya. Ini menandakan bahwa otaknya penuh dengan materi, bahwasanya teman kita ini punya daya ingat yang baik. Lalu mengapa IP nya kecil? Sepertinya ada yang salah.

Terlepas dari semua itu, bagi saya IP besar adalah sebuah kewajiban. Paling tidak, sebagai satu cara membahagiakan orang tua yang bersusah payah mencari rizki demi  memfasilitasi kita. Karena sebagai mahasiswa, kita juga berkewajiban memberi balasan yang indah untuk orang tua. Kita perlu jadi aktivis, yang juga memperjuangkan IP. Sebab IP memang bukan segalanya, tapi bukankah lebih baik bila menyandang predikat IP besar. Tak ada salahnya kan? Dan satu lagi, dengan cara yang jujur.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.

Bismillah, semoga semester selanjutnya marak dengan “IP gue gede, pake usaha sendiri. Ga nyontek. Diridhoi Allah dan orang tua”

Salam hangat dari penulis

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 6 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 6 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 12 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Definisi Administrasi dan Supervisi …

Sukasmo Kasmo | 8 jam lalu

Kabinet: Ujian Pertama Jokowi …

Hans Jait | 8 jam lalu

Kinerja Buruk PLN Suluttenggo …

Hendi Tungkagi | 8 jam lalu

Jokowi-JK Berantas Koruptor Sekaligus …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Luar Biasa, Indonesia Juara Matematika …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: