Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Orang Palembang Menimbang Munarman…

OPINI | 01 July 2013 | 02:53 Dibaca: 4618   Komentar: 130   17

Palembang tidak hanya ngetop  dengan empek-empeknya, Palembang juga terkenal dengan ketegasan orang-orangnya, mereka tidak menyukai basa-basi, kalo ngomong langsung ke inti permasalahan tidak muter atau melingker-lingker terlebih dahulu, karena itu kalo ngomong sama orang Palembang enggak usah sungkan-sungkan.

Orang Palembang juga sering di identikan dengan kekerasan dan mudah menumpahkan darah, sebuah kata yang cukup populer adalah ” Tujah” yang berarti tusuk. Orang Palembang memang suka membawa lading( pisau) setiap hendak berpergian terutama kalo hendak berpergian jauh alias merantau. Tetapi kebiasaan membawa lading ini sudah mulai hilang.

Cukup menarik untuk disimak ternyata bahasa palembang yang artinya berkelahi cukup banyak, misalnya orang Palembang mengenal kata ” Begoco” ( Berantem) ada juga kata ”Bebala”( Bertengkar mulut), ini yang terjadi antara Prof. Thamrin dan Munarman, selanjutnya ada kata ” Belago” kalo ini artinya bertengkar saling pukul.

Apakah ini berarti orang Palembang memang familiar dengan kekerasan?, enggak juga, orang Palembang sebenarnya cinta damai, mereka menganut prinsip, musuh tidak dicari tapi kalo ketemu musuh pantang berlari. Orang Palembang juga sangat tidak suka jika mata mereka di tatap secara langsung.  Apalagi kalo orang yang menatap  itu  dalam keadaan marah.

Kalimat berikut  ini cukup menggambarkan hal itu,”  Dak Usah Jingok-jingok, begoco be kito” artinya, ” tidak usah lihat-lihat, berantem aja kita”, jika kita melihat kasus Munarman maka disini Prof Thamrin bukan hanya memotong pembicaraan Munarman tapi beliau juga sudah main tunjuk.

Tentang mengapa orang Palembang kalo ngomong seperti orang mau ribut?, sekali lagi, itu bukan berarti orang Palembang emang doyan berantem, gaya bicara orang palembang emang dari sononya sudah begitu, ketika saya membawa Istri saya yang asli Sunda ke Palembang, dia cukup kaget ketika mendengar orang Palembang ngobrol,” Seperti mau berantem” kata istri kepada saya.

Jadi, jika  melihat Munarman nada bicaranya terkesan menantang maka memang begitulah orang Palembang kalo ngomong, enggak ada basa-basi, langsung ke sasaran, kalo memang tidak suka langsung bilang tidak suka.

Tentang mengapa Munarman berubah, saya kira sudah bayak yang menulisnya, menurut saya,  setiap orang itu berubah, dan setiap perubahan yang terjadi pada seseorang pasti mengundang pro dan kontra. Di mata kaum Liberal perubahan pada diri Munarman menimbulkan kecemasan tetapi bagi yang pro FPI perubahan yang terjadi pada Munarman telah memberikan mereka semangat baru. Karena Munarman ini   ”amunisi” dan tambahan yang ” Bergizi” bagi FPI.

Terakhir, saya lebih suka melihat Munarman dengan apa adanya, karena  penilaian kita kepada sosok ini sangat tergantung kepada media yang kita baca, kalo kita membaca Munarman  dari media yang cederung liberal maka Munarman hanyalah seorang yang akrab  dengan kekerasan. Padahal beberapa kali media liberal salah dalam memberitakan seorang Munarman.

Contohnya, tentang kasus monas, diberitakan oleh Tempo kalo Munarman kedapatan  mencekik salah seorang dari organisasi yang di benci FPI padahal setelah di telusuri sebenarnya orang yang di cekik Munarman itu adalah anggota FPI sendiri, dia melakukan itu untuk mencegah anggota FPI tersebut melakukan kekerasan.

Biarlah Munarman dengan pilihannya, kalo dia memang terbukti melanggar hukum, maka hukumlah dia dengan seadil-adilnya, jangan pernah mengekang atau membatasi pilihan hidup seseorang karena sekali lagi hidup ini adalah pilihan.

Orang Palembang  sebenarnya  enggak suka berantem tapi mereka suka makan empek-empek. Kalo ada yang seneng berantem bisa jadi mereka adalah keturunan orang Monggol, emang apa hubungan orang Palembang dengan orang Monggol?, nantilah  kali lain saya ceritakan….

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 5 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 6 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 6 jam lalu

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Dampak ‘Mental Proyek’ Pejabat …

Giri Lumakto | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: