Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Bu Anni

Istri, Ibu dari dua gadis cantik, Pendidik. Kata orang, saya orangnya biasa saja, tapi baik selengkapnya

Bukan Salah Noni Berdada Besar

REP | 29 May 2013 | 14:29 Dibaca: 3500   Komentar: 139   36

1369812423295232427onewoman.blogspot.com

Tentang  Noni Gadis Berdada Indah

Kasihan deh Noni. Salah apa dia, sampai sering dituding-tuding sebagai penyebab gangguan  keseimbangan kosmik di lingkungan RW tempat  kami tinggal. Noni baru 18 tahun, berwajah manis, berkulit kuning langsat. Tubuhnya mungil, tapi bentuk dadanya itu lho, sangat mencengangkan. Besar, indah, dan seksi sekali.

Jangankan laki-laki ( yang jika berpapasan dengan gadis ini , tidak bisa tidak, pasti menyempatkan diri mengerling gunungan seksi di dada Noni ), perempuan saja pun  banyak yang berdecak kagum melihat  ukuran payudara siswa kelas 3 SMA ini. Tapi perempuan-perempuan itu kebanyakan merasa dengki dan merespons dengan penuh kecurigaan. Dengki dan curiga jangan-jangan para suami dan para kekasih jadi berkhayal tentang dada ranum si kembang desa.

Si pemilik dada seksi sendiri tidak terlalu concern dengan anugerah indah yang dia miliki. Dia bersikap biasa-biasa saja. Noni memang bukan gadis yang genit. Terlalu ramah juga tidak. Pokoknya perilakunya cukup wajar dan sopan. Kalaupun dia suka agak lincah, ya namanya juga anak abege sekolahan, lumrah saja anak seusia itu bersikap lincah dan aktif.

Ketidak concern- an dia terhadap dadanya terlihat dari cara dia berjalan. Lempeng saja, dan tak acuh ketika berpapasan dengan laki-laki yang memandang dadanya dengan penuh minat. Mungkin dia berpikir tidak ada yang salah dengan semua itu, toh laki-laki dan perempuan selalu bereaksi sama ketika berpapasan jalan dengannya. Jadi Noni menganggapnya sebagai sebuah kelaziman. Ada satu kejadian yang semakin menguatkan dugaan saya bahwa Noni memang tidak ngeh dengan keindahan yang menggunung di dadanya.

Begini ceritanya…

Pada suatu pagi, pagi-pagi banget,  terdengar keributan dari rumah sebelah. Ribut adu mulut cekcok gitu. Swear saya tidak bermaksud menguping keributan itu, tapi berhubung suara mereka kenceng banget, ya apa boleh buat, terdengar juga dong. Nah, suami istri pasangan muda itu ternyata meributkan dada si Noni. Pasalnya sang Istri merasa cemburu berat, karena kemarin suaminya bertubrukan badan dengan Noni di gang kompleks yang sempit. Ya saya sendiri terus terang meragukan latar belakang tubrukan itu. Apakah murni kecelakaan, ataukah ada faktor kesengajaan dari sang suami. Ini kan bukan sembarang tubrukan. Tubrukan badan dengan Noni gitu loh, bapak-bapak mana yang bakal menghindar ?. Lalu dengan bodohnya, itu si suami malah menceritakan insiden itu pada istrinya. Ya jelas saja,  istrinya jadi sewot nggak karuan. Salah suaminya  juga sih, kenapa kejadian kayak gitu kok dibilang-bilangin. Mustinya  kan, sudahlah diam saja dan dinikmati.  Itu baru benar. Sementara Noni ? dia cuek saja, lha wong nggak merasa berbuat apa-apa. Buktinya jam setengah tujuh, dengan santainya dia berjalan kaki pergi ke sekolah dengan ceria melewati rumah yang sedang panas itu.

Sayangnya itu bukan kejadian pertama. Masih banyak lagi pertengkaran suami-istri dan putusnya hubungan percintaan, gara-gara dada Noni. Semuanya bermuara dari kecemburuan membabi-buta para perempuan itu. Saya merasa beruntung, pada saat kejadian ini berlangsung, saya masih berstatus gadis remaja. Masih kuliah, dan tentu saja belum bersuami. Jadi saya terhindar dari cemburu buta  :D

Tentang Payudara Perempuan

Ukuran dada sebagaimana ukuran anggota badan yang lainnya, sifatnya genetis. Menurun dari generasi ke generasi.  Jika Noni memiliki payudara indah, tentu karena faktor keturunan, baik dari garis Ayah atau dari garis Ibu. Banyak perempuan yang rela mengeluarkan puluhan juta untuk mendapatkan ukuran dan bentuk dada semolek dada Katy Perry. Demi apa ? demi menunjang penampilan dan rasa percaya diri. Karena memang faktanya, banyak laki-laki yang menjadikan  ukuran dan keindahan payudara seorang perempuan sebagai standar kecantikan sesuai dengan selera mereka.

Namun sebagian perempuan lainnya menganggap bahwa kecantikan dan keseksian dirinya sama sekali tidak tergantung pada ukuran payudaranya. Perempuan-perempuan ini, cukup merasa percaya diri dan tampil cantik dengan payudara yang biasa-biasa saja, namun dengan tubuh yang sehat, kulit yang bersih, senyum yang menawan, otak yang cerdas, sikap yang santun, dan hati yang baik. Sebaliknya, tidak semua laki-laki otomatis berselera pada perempuan berdada besar. Ada juga laki-laki yang justru merasa geli dan risi .

Jika kita melihat kultur asli beberapa etnik yang ada di negeri kita, memang harus diakui bahwa ada beberapa suku bangsa di Indonesia ini yang menetapkan ukuran, bentuk, dan keindahan payudara, disamping ukuran dan bentuk bokong serta betis, sebagai standar kecantikan perempuan,  selain tentu saja raut wajah. Laki-laki Sunda umpamanya, selalu tertarik pada dada dan bokong perempuan. Mereka punya banyak istilah untuk menggambarkan keseksian perempuan, dengan istilah denok, donto, montok, dll, yang kesemuanya kurang lebih bermakna kemolekan tubuh perempuan terutama dibagian dada dan bokongnya. Sementara suku bangsa yang lain, saya yakin tak kalah hebohnya :)

Sejak peradaban kuno, payudara perempuan selalu menarik perhatian umat manusia dimanapun berada. Mereka memandang payudara sebagai bagian suci seorang perempuan, dan menjadikannya sebagai simbol kesuburan. Namun zaman sudah berubah. Pandangan manusiapun tentu sudah banyak bergeser, tak lagi memandang payudara sebagai benda sakral.  Namun apapun alasannya, berbahagialah perempuan yang dikaruniai ukuran dada yang besar, indah, dan seksi. Ini adalah anugerah yang sangat indah, yang tidak semua perempuan beruntung memilikinya. Oleh karenanya  memelihara, merawat dan menjaga kesehatannya adalah cara yang paling tepat untuk menunjukkan rasa syukur pada Sang Maha Pencipta.

Payudara memang memiliki daya tarik yang sangat kuat terhadap lawan jenis. Namun bukan untuk tujuan itu  saja Allah menciptakan payudara. Allah memilih beberapa perempuan untuk dititipi payudara yang sangat indah, justru untuk menguji kebaikan akhlaknya. Apakah dia akan menggunakannya dengan cara yang sesuai dengan keridhoan Nya, seumpama untuk memberi ASI kepada bayinya, dan untuk menyenangkan suaminya ? ataukah sebaliknya, menggunakan keindahan tubuhnya untuk menangguk uang sebanyak-banyaknya dari dompet laki-laki lancung yang mudah mengumbar syahwat ?

Namun demikian, perempuan yang tidak memiliki payudara seindah itu, tak perlu merasa khawatir. Sejuta keindahan masih sangat banyak kita miliki. Keindahan yang tak kalah mempesona dan seksi dibanding seonggok daging di dada kita. Dan percayalah , kita juga akan mendapatkan cinta dan kekaguman yang sama besarnya dengan cinta dan kekaguman yang dimiliki para perempuan berdada indah. Semuanya terpulang pada kita. Apakah kita termasuk perempuan yang menyadari keindahan kita, ataukah tidak. Nah, selamat mencari keindahan di tubuh dan hati kita, dan selamat mensyukuri nikmat Allah ya teman-teman :)

Salam sayang,

Anni

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 17 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 19 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 19 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 20 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: