Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Rumahkayu

Ketika daunilalang dan sukangeblog berkolaborasi, inilah catatannya ~ catatan inspiratif tentang keluarga, persahabatan dan cinta...

Kendaraan Umum Melatih Kepekaan Hati

OPINI | 21 May 2013 | 14:23 Dibaca: 268   Komentar: 23   6

Aku selalu senang naik kendaraan umum…

ADA banyak hal yang aku nikmati ketika berada dalam kendaraan yang oleh banyak orang dianggap tidak nyaman itu.

Aku senang mengamati orang. Senang ‘mencuri dengar’ percakapan orang. Dan lalu mengolah percakapan itu dalam kepalaku dan kemudian merekamnya dalam hati.

Tak terhitung berapa kali aku diledek teman- temanku urusan naik kendaraan umum itu.

Terutama teman- teman di kantor.

” D.. itu anak buahnya naik mobil bagus koq kamu malah jalan kaki nyegat- nyegat metromini.. “

” D.. serius, nggak takut? ” — saat suatu malam kuputuskan naik KRL ekonomi seusai acara lewat jam kantor. Kujawab dengan santai bahwa ada ribuan orang di dalam KRL itu, enak kan, banyak teman, jadi apa yang mesti ditakutkan?

Dan ledekan itu akan bertambah intensitasnya jika promosi baru saja terjadi.

” D.. mbok ya menikmati hidup gitu, beli mobil sana.. Koq masih juga naik kendaraan umum.. “

Komentar yang biasanya kujawab dengan tak perduli sambil tertawa lebar, ” Emang kamu pikir aku nggak punya mobil ya? Tu di rumah, mobilku banyak.. ” — yang ini tentu saja judulnya ngarang.com, hehehe

Ada juga yang suka menyebut- nyebut nama jabatan ” Masa’ sih.. (posisinya anu) lho D, ayo sana beli mobil pakai supir sekalian.. “

Ledekan yang sama tidak mempannya. Hahaha.

Sebab yang seperti itu biasa kujawab seperti ini, ” Pengaruhnya apa (jabatan itu) ? Aku nggak pernah bagi- bagi kartu nama di metromini atau KRL koq.. “

Putus asa, teman- temanku biasa menyerah dengan kalimat pamungkas semacam ini, ” Dasar ‘g’.. “

Hahaha. Nah udah tau ‘g’, koq masih juga diledek ya? Ha ha ha ..

***

13691471711069030561

Pedagang papan cuci menanti KRL Ekonomi. Gambar: kompasiana.com/rumahkayu

Anyway, aku senang naik kendaraan umum sebab hal itu seringkali berujung pada kepekaan rasa.

Seperti pengalaman di bawah ini, misalnya.

Di KRL ekonomi suatu hari.

Di depanku duduk dua orang perempuan, yang mempercakapkan sesuatu yg mereka butuhkan tapi belum mampu mereka beli.

” Masih ngumpulin (uang), ” kata yang satu, “Kemarin udah nyoba pinjam kesana sini tapi belum dapat.. “

Lalu percakapan mereka berlanjut. Sampai pada suatu titik dimana salah satu dari mereka bertanya berapa kurang uangnya.

Pertanyaan yang ketika dijawab hampir membuatku tersedak.

” Dua puluh lima ribu lagi.. “

Ugh. Dua puluh lima ribu?

Dan tahulah aku, dua puluh lima ribu yang bagi sementara orang sama sekali tak berarti bisa berarti sangat banyak bagi orang lain.

***

Di hari lain.

Ada beberapa orang lelaki berkumpul di ujung gerbong, juga di KRL ekonomi.

Agak malam ketika itu.

Salah satu dari mereka bertanya pada yang lain, ” Dapat uang hari ini ? “

Yang ditanya menggeleng.

Temannya yang lain menimpali, ” Iya ya, susah sekarang. Saya juga nggak dapat uang.. “

Lalu terdengar suara lain, ” Iya. Mana kalau sudah seperti ini, istri suka nggak ngerti. Jadi nanti pasti dimarahin istri.. “

Lalu suara tawa terdengar, ” Nggak dikasih deh.. “

” Iya, ” komentar yang lain, ” Udah istri marah, uang buat beli shampoonya kan juga nggak ada.. “

Hmmmmm.

Gurauan nakal antar lelaki, pikirku.

Tapi begitupun tetap sesuatu menyelusup ke dalam kepalaku. ‘Buat beli shampoo aja nggak ada,’ kata salah seorang dari mereka.

Artinya, ‘nggak ada uang’, bagi mereka bisa benar- benar berarti tak ada sama sekali.

Aku menarik nafas panjang. Prihatin.

Begitulah. Ada banyak dari kita yang begitu bergelimang harta, tapi masih juga tetap serakah.

Lalu pada akhirnya harta itu alih- alih membawa berkah malah membawa celaka.

Maka kepekaan hati tetap diperlukan. Naik kendaraan umum, bisa menjadi salah satu cara untuk tetap memjaga kepekaan itu…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: