Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Iryan Ali

Lahir dan besar di Karawang. Saat ini tinggal di Jakarta. http://iryanah.blogspot.com/

Fatinistic dan Hijabers

OPINI | 06 May 2013 | 01:10 Dibaca: 421   Komentar: 0   0

Setiap kali Fatin Shidqia tampil di program X-Factor, para Fatinistic histeris. Ia adalah fenomena baru dalam jagat industri hiburan kontes ajang menyanyi. Para penggemarnya menyebut dirinya sebagai Fatinistic. Remaja berusia 16 tahun itu telah menjadi magnet baru dalam industri hiburan. Umumnya, para Fatinistic berdecak kagum ketika melihat melihat Fatin bernyanyi, menggemaskan ketika lontaran Fatin terdengar polos saat menjawab pertanyaan juri X-Factor, dan menyenangkan saat melihat ia mengenakan hijab. Berbagai atribut itu melekat dalam diri Fatin sebagai karakter.

Ketika tampil pertama kali di hadapan para juri X-Factor, Fatin menyanyikan lagu Grenade. Waktu itu, para penonton menyaksikan siswi SMA dengan penampilan kerudung model segi empat dan mengenakan rok panjang seragam sekolah. Setelah membawakan lagu besutan Bruno Mars itu, Fatin mendapatkan banyak sanjungan dari para juri karena memiliki karakter suara yang khas, wajah cantik imut, dan perilakunya yang terkesan malu-malu, tapi membuat Rossa gemas.

Setelah penampilan itu, Fatin akhirnya lolos audisi, dan langsung ditangani oleh Rossa. Pada penampilan yang keduanya di hadapan para juri, Fatin membawakan lagu Girls on Fire. Anggun langsung terkesima dengan penampilan Fatin. Sejak itu, Fatin tampil dengan percaya diri dan modis bermodalkan identitas barunya yakni sebagai hijabers: berkerudung bentuk oval dan mengenakan celana aladin. Anggun langsung terkagum dengan identitas suara dan hijab Fatin. Inilah Fatin yang sudah dipoles oleh warna budaya pop.

Hibriditas

Saat ini, tampil berkerudung tidak membuat orang malu tampil di hadapan orang lain. Mengenakan hijab tidak hanya identik dengan aksi panggung relijiusitas. Adanya Fatin telah membawa angin baru dalam persepsi masyarakat mengenai imajinasi muslimah yang modern. Ia bisa tampil ngepop, tanpa meninggalkan kaidah berpakaian sesuai ajaran agama. Terbukti, sebagian besar umat Islam Indonesia menyukai penampilan Fatin yang percaya diri mengenakan hijab, sehingga memunculkan para follower yang disebut Fatinistic.

Semakin tinggi tingkat pendidikan dan keterbukaan wawasan oleh perkembangan informasi, maka membuat kita semakin terbuka terhadap ide-ide perubahan. Hidup beragama tidak mesti harus menjauhi pop culture. Saat ini, orang dapat berdampingan antara yang sakral dan popular. Ataupun sebaliknya, menekuni budaya pop tidak harus menjadi sekuler. Antara budaya pop dan ajaran agama pun bertemu satu panggung di dunia hiburan. Ini yang kemudian disebut para pakar sebagai hibriditas manusia modern terhadap respons globalisasi. Claudia Nef Saluz menyebutnya sebagai bentuk proses asimilasi antara lokalitas, Arabisasi, dan Westernisasi.

Jilbab atau hijab merupakan bentuk manifestasi dalam memandang dinamika Islam di tengah pusaran perkembangan kehidupan. Sebagaimana dipaparkan peneliti dari Jerman itu melalui hasil kajiannnya itu Islamic Pop Culture in Indonesia (2007), bahwa jilbab merupakan bentuk pandangan individual dalam melihat lingkungannya. Dengan begitu, tren penggunaan jilbab dapat disesuaikan dengan pandangan personal terhadap lingkungan sosial dan keagamaannya. Setidaknya, ia mengidentifikasi tiga empat tren pengguna jilbab di Indonesia, yakni cadar, jilbab panjang, jilba gaul. Ditambah lagi kini muncul fenomena hijabers.

Tren Hijab

Hijab adalah fenomena baru dalam fesyen di Indonesia. Istilah ini muncul pada tahun 2010, seiring dengan hadirnya Hijabers Community yang digagas oleh desainer Dian Pelangi. Dian Pelangi sendiri adalah desainer yang menggagas untuk mengubah penampilan dari jilbab segi empat biasa menjadi tampak lebih modis karena penambahan elemen kerudung dan celana aladin. Sejak itu, masyarakat Indonesia yang sudah terkoneksi dengan globalisasi melalui penetrasi internet ataupun pendidikan, sudah mulai akrab menggunakan hijab modis.

Di kalangan masyarakat urban, hanya sebagian kecil anak muda yang tampil di publik mengenakan jilbab model lama. Kini, mulai tergantikan bentuk hijab Paris buatan para desainer. Umumnya, mereka tidak lagi mengenakan rok panjang dan kerudung segi empat seperti biasa. Mereka makin kreatif menggunakan warna kerudung dan mengenakan berbagai aksesoris hijab. Dengan cara seperti ini, mereka tampak lebih percaya diri saat beraktivitas di ruang publik tanpa merasa canggung karena hijab, meskipun pengenaan jilbab atau hijab ditujukan untuk membatasi ruang gerak.

Di Indonesia sendiri, lebih banyak digunakan istilah jilbab daripada hijab, meskipun arti harfiahnya sama. Baik dari akar kata penggunaannya maupun pengenaan tren fesyennya. Sebelum maraknya para hijabers saat ini, dahulu orang lebih sering menggunakan istilah jilbab atau kerudung. Waktu itu, beberapa mahasiswa di kampus mulai mengenakan jilbab dalam aktivitas publik perkuliahan.

Ia baru berkembang sejak Pemerintah mengizinkan mengenakan pakaian muslimah di sektor pekerjaan formal atau sekolah pada tahun 1991. Sebelum itu, orang sekadar mengenakan selendang untuk menutup kepala. Adanya izin tersebut, memberikan angin segar dalam hal dunia fesyen di kalangan muslimah. Waktu itu, trennya hijab dikenakan dalam bentuk segitiga dan mengenakan celana rok. Tetapi, sejak lahirnya desain model baru dari Dian Pelangi, kini banyak yang menyukai desain desainer asal Palembang itu. Waktu tahun 1991, memang terkesan politis. Sekarang? Fenomena hijabers sangat ekspresif. Mereka cenderung menyekuai bentuk oval dan mengenakan celana aladin. Inilah dia hijabers.

Tren e-Commerce

Dengan maraknya kehadiran komunitas hijabers membuat sejumlah beberapa pemain untuk e-Commerce mulai mengincar komunitas ini. ada beberapa situs jual-beli hijab yang populer di kalangan hijabers. Umpamanya www.hijup.com. Situs itu merupakan salah satu pionir penjualan hijab melalui online. Mereka mengincar segmen hijabers yang sekarang ini jumlahnya makin membesar. Bahkan, tak jarang, para pemain e-Commerce membuatkan platform untuk interaksi antarhijabers.

Umumnya, para hijabers aktif berkomunitas dengan teman-temannya. Ini mereka lakukan untuk berbagi mengenai tren fesyen yang terbaru, arisan, makan-makan, pengajian, dan sebagainya. Mereka aktif secara online maupun offline. Di saat online, biasanya mereka memiliki sejumlah situs untuk informasi kegiatan komunitas, baik secara nasional maupun regional. Sementara itu, untuk offline, basanya mereka melakukan kegiatan di mal ataupun tempat eksibisi fesyen untuk sekadar kopdar.

Dengan harga yang relatif mahal, hijabers merasa tidak masalah asalkan bisa tetap bergaya dan tetap relijius. Ini juga revolusi yang menggugah kesadaran kita, bahwa hidup relijius tidak harus hidup asketis. Dengan kondisi ekonomi yang makin mapan, relijiusitas bisa berdampingan dengan gaya hidup. Ini adalah salah satu revolusi cara berbusana sekaligus cara beragama. []

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 6 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 9 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 12 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 12 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pompadour …

Yulian Muhammad | 7 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 7 jam lalu

Celotehan Kalbu …

Sidik Irawan | 8 jam lalu

Sudah Puaskah dengan BPJS? …

Ayu Novi Kurnia | 8 jam lalu

Soal Pem-bully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: