Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Khairul Fadhli

My name is fadhli | Born sukajadi, 15 Desember 1991 | Anak ragil dari enam selengkapnya

Potret Budaya dan Generasi Muda Hari ini!

REP | 30 April 2013 | 01:41 Dibaca: 492   Komentar: 0   0

Budaya merupakan hasil cipta,rasa dan karsa manusia yang terbentuk menjadi sebuah komponen produk tertentu. Produk disini beragam macam dan bentuknya mulai dari tari tarian, pakaian, adat istiadat maupun sandang, pangan dan papan. Kesemuanya itu menjadi satu kesatuan yang utuh dan bernilai tinggi jika dikembangkan.Indonesia sebagai negara maritim yang terdiri dari berbagai macam etnis, suku, dengan pluralisme yang beragam tentu memiliki Budaya yang berbeda antaran satu dengan yang lainnya.Tentu ini menjadi satu kekuatan yang ada dan harus dikembangkan. Namun yang terjadi saat ini yakni kegagapan masyarakat dalam melestarikan kebudayaan yang ada saat ini. Generasi muda sebagai generasi penerus bangsa tentu menjadi tumpuan sebagai estafet penerus kekayaan budaya dan adat istiadat yang ada di Indonesia. Kegagapan terhadap pengembangan budaya ini besar dirasakan oleh generasi muda, yang tentu ini menjadi suatu kelemahan yang perlu diperbaiki.

Generasi muda dewasa ini memang sangat jauh dari budaya ketimurannya, mungkin karna perkembangan arus informasi dan pesat berkembangnya teknologi menyebabkan pudarnya esensi esensi adat ketimuran yang sekarang malah condong kebarat baratan atau yang sering disebut dengan westrenisasi.Kaula muda seolah hanyut dengan euforia trend masa kini dan sedikit malu mempelajari budaya daerah atau bahkan mendalami adat,budaya yang ada di Indonesia. Tentu kita masih ingat jelas bagaimana kebudayaan Reog Ponorogo yang di klaim oleh malaysia beberapa tahun yang lalu. Indonesia dibuat kelimbungan dengan adanya pengakuan dari negara satu rumpun itu. Pemerintahpun segera tegas dan tanggap mempertahankan budaya tersebut sebagai warisan budaya Indonesia.

Malaysia tidak bisa sepenuhnya bisa disalahkan, karna banyak orang Indonesia disana yang sudah menjadi warga negara Malaysia, sehingga budaya yang adapun pasti banyak yang sama dengan Indonesia. Seharusnya Indonesia berpikir bagaimana negara Tetangga begitu sangat menghargai Budaya yang ada, ini menjadi cambukan bagi masyarakat Indonesia untuk lebih menghargai budaya sendiri.

Lanjut masalah generasi muda yang kurang menghargai budaya sendiri,yang mana lebih kearah masyarakat yang lebih suka dengan budaya luar tidak hanya kebarat baratan namun juga sudah merambat sampai negara negara asia terutama di Asia Timur. Kaula muda saat ini selain kurang meminati budaya yang ada justru malah menumbuhkan budaya baru yakni budaya Alai. Kenapa saya katakan sebagai budaya alai, karna anak muda saat ini terlalu kreatif untuk memunculkan budaya alai ini, mulai dari tulisan seperti apa ( 4p4), lagi apa ( l49! Ap4 ), dll. Selain tulisan model kosa kata pun mulai banyak menyebar pada generasi muda yang berbudaya alai ini seperti Repot diganti Rempong, mau tau diganti Kepo, berlebihan diganti lebai yang kata kata tersebut tidak pernah ada dalam kamus besar bahasa Indonesia, dan masalahnya kata kata tersebut booming dikalangan masyarakat.

Selain budaya tersebut, anak muda saat ini mengkiblatkan diri pada negri ginseng, korea. Demam korea begitu sangat mendarah daging bagi anak muda Indonesia. Budaya ini menjadi semacam akut yang menjangkit disetiap generasi muda Indonesia saat ini. Pemerintah tidak tinggal diam atas ini, melalui dinas kebudayaan dan pariwisata disetiap daera dilaksanakan pemilihan muda mudi, bujang gadis, abang none kalau di jakarta yang mencoba mensegmentasikan kepada kaula muda untuk mengahasilkan frame berpikir dalam melestarikan budaya yang ada di masing masing daerah.

Lampung sebagai salah satu provinsi di Indonesiapun juga menyelenggarakan ajang yang sama yakni Muli Mekhanai yang merupakan ajang mencari dan melakukan transfer knowladge tentang kekayaan budaya, khususnya budaya Lampung. Semoga ini cara yang tepat untuk bisa mempertahankan budaya yang ada. Tentu saya akan sangat senang jika Budaya yang ada saat ini bisa dikembangkan dan bisa dipertahankan. (pad)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Yuks Jadi Tongsis Reporter… …

Imam Suwandi | | 23 December 2014 | 00:56

Apakah yang Lebih Baik daripada …

Ade Hermawan | | 23 December 2014 | 06:03

Belajar Setia dari Tentara Suriah atau Lebih …

Abanggeutanyo | | 23 December 2014 | 05:27

Empat Modal PSSI Berprestasi di 2015… …

Achmad Suwefi | | 23 December 2014 | 07:07

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Fachri Hamzah Ucapkan Selamat Natal dan …

Gunawan | 3 jam lalu

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 11 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 13 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 15 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: