Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Membaca ”Peta” Ustad-ustad Indonesia…

OPINI | 29 April 2013 | 00:55 Dibaca: 2109   Komentar: 50   18

13671719431100229619

Bersama Ustad Yusuf Mansyur ketika beliau Berdakwah di Dubai. dok pribadi

Setelah wafatnya ustad Gaul, saya memutuskan untuk menuliskan peta ustad-ustad di Indonesia berdasarkan pandangan saya, seandainya tulisan ini nantinya mengandung informasi-informasi yang kurang tepat, sudilah kiranya para pembaca untuk mengoreksinya.

Menurut saya ustad-ustad di tanah air telah terbagi atas beberapa kategori, pertama ustad kampung, gerak dan ruang lingkupnya  sangat terbatas, hanya seputaran kampung saja, mungkin dalam beberapa kesempatan mereka juga berdakwah keluar kampung tapi tidak jauh-jauh banget dari tempat kediamannya.  tetapi jangan dulu kita memandang rendah kepada ustad-ustad kampung ini, karena mereka bisa jadi lebih alim dalam ilmu-ilmu agama di bandingkan dengan ustad-ustad yang suka nongol di layar kaca.

Dari segi pendidikan, ustad kampung kebanyakan belajar agama di pondok pesantren, dengan demikian kita dapat belajar kitab kuning dengan mereka, belajar agama kepada ustad-ustad yang mampu membaca kitab kuning akan memberikan warna tersendiri. Ustad-ustad kampung yang terkesan ”polos” itu akan memperkenalkan kita kepada berbagai khazanah intelektual Islam klasik.

Berbagai ”benturan” pendapat yang terdapat dalam berbagai kitab klasik akan menjadikan kita akrab dengan perbedaan, ustad-ustad kampung yang tercerahkan tidak akan berpihak kepada mazhabnya, mereka akan memberikan kita kesempatan untuk menelaah, pendapat Imam Mazhab mana yang paling benar, emang sih, masih ada ustad yang berpihak kepada mazhab tertentu dan sayangnya jumlah mereka masih cukup besar. hihihi.

Kelemahan ustad kampung adalah, tentu tidak semua ustad kampung seperti ini,  mereka tidak cukup familiar dengan ilmu-ilmu modern di luar ilmu agama, sehingga ketika  mereka bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa kota yang kritis, para ustad itu menjadi gagap, bagaimana misalnya, ketika mereka  di tanya tentang pemanasan global, bagaimana pandangan ustad tentang globalisasi?, disinilah di butuhkan Ustad kedua yakni ustad yang tidak hanya pandai membaca kitab kuning tetapi mereka juga fasih dalam membaca kitab putih. Ustad Komarudin Hidayat, Ustad Jalal, Cak Nur almarhum, adalah beberapa nama  yang  termasuk ustad kategori kedua. Kelemahan ustad kategori kedua adalah mereka kurang terkenal di masyarakat bawah. Jamaah merekapun  kebanyakan berasal dari kalangan menengah keatas.

Bagaimana dengan ustad Aa Gym?, Aa Gym, saya masukan ke dalam kategori ustad ketiga, yakni ustad yang di besarkan oleh media, resiko ustad kategori ketiga adalah ketika media tidak lagi bersahabat maka siap-siaplah untuk di tinggalkan jamaah.

Lantas di mana posisi ustad muda yang barusan meninggal kemarin?, beliau berada di kategori keempat, yakni ustad yang di besarkan media plus mampu memamfaatkan  media dengan baik, kelebihan beliau adalah terletak pada kebeningan wajah dan  kebeningan suara ketika membaca ayat suci Al-Qur’an, ustad muda ini pun  mampu menarik simpati dari berbagai kalangan.

Gaya dakwahnya juga tidak memaksa, karena memang pada prinsipnya dakwah adalah mengajak, kalo yang di ajak kagak mau, ya udah, enggak usah di paksa, paling juga di doakan, mudah-mudahan mereka yang enggak mau di ajak ketabrak becak, eh salah, maksudnya semoga dapat hidayah.

Sebenarnya masih banyak ustad-ustad lain, seperti  ustad Yusuf Mansyur dan Ustad Arifin Ilham?, kedua ustad ini saya masukan kedalam ustad-ustad yang sudah punya ”citra rasa”. Masyarakat yang demen dengan keajaiban sedekah sudah dapat di pastikan adalah jamaahnya Ustad Yusuf mansyur. Sedangkan ustad Arifin Ilham memiliki jamaah yang seneng dengan dzikir akbar plus muhasabah.

Ustad-ustad tanah air pun saya lihat sudah mulai mampu menghilangkan kefanatikan sempit, di Bandung contohnya,  ada Ustad Aam Amiruddin, beliau ini orang Persis( Persatuan Islam) tapi beliau tidak pernah mencela atau mengejek umat Islam yang melakukan tahlilan, Setiap ceramahnya beliau selalu mengatakan,” dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada saudara-saudara kita yang melakukan, misalnya melakukan tahlilan..”

Beliau juga seorang ustad yang mampu memberikan jawaban-jawaban yang bernash, karena memang di tunjang dengan latar belakang keilmuan agama dan umum yang mumpuni, sosok seperti ustad Aam Amiruddin  inilah yang menurut saya sangat di butuhkan umat Islam saat ini. Beliau seorang  yang modern, pinter bahasa Inggris dan bahasa Arab,  masih muda, gaul, dan berwawasan luas. Saya sangat menikmati ketika Beliau  mengutip Hadist, menurut saya beliau hapal banyak hadist.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Ogah Ditinggal Relawan …

Nurul | | 23 August 2014 | 17:17

Badan Pegal di Raja Ampat, Sentuh Saja …

Dhanang Dhave | | 23 August 2014 | 12:10

Gebrakan Trio Jokowi-AHOK-Abraham Samad = …

Den Bhaghoese | | 23 August 2014 | 11:37

“Pah, Sekarang Mamah Lebih Melek Politik …

Djoel | | 23 August 2014 | 18:00

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Pilpres: Beda Prabowo & Megawati …

Mania Telo | 8 jam lalu

Sikap Partai Demokrat Pasca Keputusan MK …

Uci Junaedi | 10 jam lalu

Gebrakan Trio Jokowi-AHOK-Abraham Samad = …

Den Bhaghoese | 11 jam lalu

Kerusuhan 21 Agustus 2014 | Jangan Cuma …

Opa Jappy | 12 jam lalu

Hasil Dari Ahok dan KPK Obrak-abrik UJI KIR …

Thomson Cyrus | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: