Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Janu Pidato Semprul 17an

memunguti remah-remah pengembaraan...

[Misteri Bukan Fiksi] Jauh-jauh ke London Ketemu Hantu Juga

OPINI | 28 April 2013 | 23:02 Dibaca: 540   Komentar: 3   0

13671645282040280797

foto koleksi pribadi

.

Ah selesai juga acara kantor dan waktu menunjukkan pukul empat sore. Masih banyak waktu untuk menikmati kota klasik berusia nyaris dua ribu tahun ini, karena matahari baru akan terbenam di kota London sekitar pukul delapan malam nanti. Syukurlah cuaca hari ini sangat cerah, meski suhu tercatat enam belas derajat celcius. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu gloomy. Dengan sisa waktu empat jam hingga senja nanti, yang artinya udara menjadi terlalu dingin untuk berjalan-jalan, cara yang paling efisien untuk menjelajah kota adalah dengan mengikuti city-tour. Tinggal duduk manis di lantai dua yang tanpa atap dari bis double decker warna merah khas London. Dengan begitu waktuku tak habis untuk naik turun kereta bawah tanah. Itupun kalau nggak kesasar. Maklum turis yang baru pertama kali ke London.

13671647101436326998

Hyde Park, foto koleksi pribadi

Dengan mengeluarkan biaya tigapuluh pound untuk city tour, aku akan bisa melihat semua pusat keramaian kota dari ujung ke ujungnya. Dari Marble Arch ke Baker Street-nya Sherloc Holmes, kemudian ke warna-warni lampu Piccadilly Circus dan keramaian Trafalgar Square, melintas di depan Big Ben dan Houses of Parliament, menyeberangi Westminster Bridge dan Tower Bridge dan berputar kembali ke pusat kota melalui taman-taman kota yang hijau dan deretan istana. Dimungkinkan untuk hop-off dan hop-on, naik turun bis sesuka kita. Tetapi untuk hari pertama ini, aku memilih untuk menjelajahi semuanya itu tanpa beranjak dari kursi. Dan jika hari ini belum puas, besok aku masih bisa mengulanginya lagi karena tiketnya berlaku untuk dua puluh empat jam. Okay,..bis tingkat merah berlabel “Big Bus Tours” mulai bergerak dan angin dingin terasa menerpa wajah dan rambutku. Kamera ku juga mulai beraksi, jeprat-jepret ke kanan dan ke kiri.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, ketika bis berbelok di Hyde Park Corner dan menyusuri sisi selatan dari Hyde Park dan melewati deretan kanopi hijau khas Harrods. Udara sudah semakin dingin sejak untuk keenam kalinya bis menyeberangi Sungai Thames selama perjalanan wisata ini. Wajahku sudah mulai terasa kaku diterpa angin dingin sepanjang jalan, ketika sekali lagi bis menyusuri sebuah taman yang indah. Kensington Gardens dengan istana, kolam dan danau buatan yang membelah taman.

13671656681434158287

Harrods, Foto Koleksi pribadi

Tiba-tiba sebuah kehadiran menyapa. Tidak seorang dua orang, tetapi belasan..puluhan. Bis sedang berjalan perlahan, dan di pedestarian menjelang Lancaster Gate banyak warga London bercampur wisatawan berjalan-jalan sore menikmati hijaunya taman. Tapi itu bukan sapaan mereka. Dan aku tak bisa menemukan sapaan itu dengan pandangan mata. Kulongok benakku, dan terhamparlah pemandangan yang menakjubkan. Hamparan rerumputan hijau dengan banyak sekali batu nisan tua berwarna putih abu-abu. Dan di antara tebaran batu nisa itu, berdiri banyak sekali sosok perempuan dan pria berpakain rapi seperti di dalam film-film Inggris klasik. Topi bundar khas Inggris, topi hitam tinggi, jas gelap dan dasi kupu-kupu. Gaun-gaun warna terang ataupun hitam dengan renda-renda hiasan kepala. Tidak satu dua, tetapi belasan bahkan puluhan. Mereka berdiri diam sambil memandangiku dari kejauhan, menyapaku sebagai seorang pengunjung yang sejenak singgah di kota kelahiran dan tempat mereka dimakamkan. Ah gentlemen and ladies yang sangat santun. Jauh-jauh aku ke London, ternyata bertemu hantu juga.

Kubisikkan pujian kepadaNya Yang Maha Rahmaan, yang telah memberiku kesempatan untuk bersapa dengan makhluqNya semuanya. Di manapun berada dan dalam apapun wujud dan rupa. Juga di belahan negeri utara ini. Tidak harus dengan mengikuti tur “the Haunted London” yang banyak ditawarkan di sini, untuk menjelajahi kegelapan malam kota London dan kedinginan demi untuk menemukan hantu-hantu yang bergentayangan. Kubisikkan pula rasa syukur kepadaNya, bahwa di balik kemoderenan negeri ini sebagian warga kotanya ternyata memiliki kesadaran yang cukup baik tentang kehadiran dunia lain di balik dunia serba benda. Dalam bahasa warga Londoners,

“There is an old saying that ghosts only ever appear in places that have known either great happiness or great misery, and the buildings and the haunted streets of London have certainly known both in abundance…that ghosts are little more than strong emotions that have somehow become imprinted upon their surroundings, and there are certain people who are more attuned to these “recordings” than the rest of us.” (the Haunted  London).

13671657432048093098

Speaker' Corner Hyde Park, Foto Koleksi Pribadi

Aku memejamkan mata dan menundukkan kepala membalas salam mereka semuanya. Para hantu di kota London. Di dalam hatiku mendoakan bagi ketenangan mereka, untuk apapun ketetapan kehidupan yang telah digariskan olehNya. Baik kecintaan dan keterikatan yang amat sangat, ataupun kedukaan yang erat melekat. Semuanya menjadi hikmah dan pelajaran.

Dan senja mulai menurunkan tirai temaram, ketika aku turun di Speaker’s Corner of Hyde Park. Mengakhiri perjalananku di kota yang berusia nyaris dua ribu tahun ini, dengan segala cerita suka duka warganya.

..

Hyde Park, London, 23 April 2013.

Belakangan aku baru tahu dari internet, bahwa terdapat area luas pemakaman tua, salah satu yang tertua di London, bernama Brompton Cemetery yang terletak di wilayah Knightsbridge hingga South Kensington. Dan juga ada beberapa are pemakaman kecil di sepanjang Hyde Park dan Kensington Gardens.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 9 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 12 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 12 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Methodist, Xaverius, Pesantren: Bukan …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Perempuan Koma 6 …

Rahab Ganendra | 7 jam lalu

Nasib atau Takdir? …

Imam Sr | 8 jam lalu

Tips Tampil PD ala Kispray …

Sandra Nurdiansyah | 8 jam lalu

Cinta Tak Melulu Indah …

Anugerah Oetsman | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: