Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Bu Anni

Istri, Ibu dari dua gadis cantik, Pendidik. Kata orang, saya orangnya biasa saja, tapi baik selengkapnya

Barbie : Diet (jangan) Sampai Mati

OPINI | 27 April 2013 | 05:04 Dibaca: 1442   Komentar: 80   8

13670136451681884885theberrry.com

Boneka Barbie : Imaji tubuh molek yang berbahaya

Boneka Barbie. Siapa yang tak kenal dengan boneka molek ini.
Sejak diluncurkan oleh perusahaan mainan Mattel - USA pada 1959, hingga kini boneka berimaji gadis cantik  bertubuh tinggi semampai dengan rambut panjang sepinggang itu belum tergeserkan dari daftar teratas mainan kesayangan anak -anak perempuan bahkan perempuan dewasa di seluruh dunia. Jutaan rupiah rela dikeluarkan demi membeli Barbie edisi terbaru lengkap dengan segala aksesori dan pernak -perniknya .

Namun siapa nyana dibalik kesuksesan bisnis boneka Barbie itu ternyata tersimpan kisah miris yang menimpa ribuan gadis remaja yang terobsesi oleh bentuk tubuh dan penampilan boneka cantik kekasih Ken ini. Bentuk tubuh boneka Barbie yang langsing lempai dan begitu sempurna, berhasil menyihir para penggemarnya, sehingga mereka tak segan melakukan segala cara demi dapat menyamai bentuk tubuh sang boneka idola.

Sejak 1960- an tercatat ribuan gadis remaja menderita penyakit “ Barbie Syndrome “ dan harus menemui ajalnya akibat diet yang dilakukan secara ekstrem dan serampangan demi mengejar bentuk tubuh semirip Barbie
Bentuk tubuh Barbie memang sangat molek dan seksi. Namun benarkahdi alam nyata  bentuk tubuh seperti itu mencerminkan tingkat  kesehatan yang baik ? banyak pakar kesehatan berpendapat sebaliknya. Jka seseorang memiliki bentuk badan seperti Barbie, maka dapat dipastikan ia memiliki pola makan atau kebiasaan hidup  yang buruk, karena postur tubuh seperti itu dinilai terlampau kurus dan dapat mengancam kesehatan.

Demi Seperti Barbie : Anorexia dan Bulimia Nervosa

Adalah mendiang putria Diana Spencer yang karena kesedihan hatinya sebab suami tercinta  lebih memilih kembali ke pelukan cinta pertamanya yakni Camilla Parker,   sempat terperosok ke dalam lembah penderitaan yang berkepanjangan. Menolak makan dan memuntahkan kembali semua makanan yang sudah ditelannya.  Sebuah penyakit psikosomatik yang pada umumnya bermula dari kesengajaan. Sengaja tidak makan, sengaja memuntahkan makanan yang sudah ditelan, sengaja membuat dirinya lapar. Sebuah perilaku berbahaya yang  tak jarang membawa penderitanya pada kematian. Beruntung nyawa sang putri berjuluk England Rose ini berhasil diselamatkan. Setelah melalui terapi yang cukup panjang, akhirnya Putri Diana dapat kembali hidup normal sebagaimana sedia kala.

Putri Diana tak sendiri menderita Anoreksia dan Bulimia Nervosa. Sebuah studi Kementrian Kesehatan di Italia  mencatat tak kurang dari  3 juta orang di Italia menderita penyakit Bulimia Nervosa, dan 7 ribu hingga 8 ribu orang meninggal dunia setiap tahun (kompas.com). Ini baru di Italia, belum di negara lain. Tidak menutup kemungkinan negara kita yang sudah memasuki era globalisasi inipun sudah terimbas penyakit  gaya hidup ini. Seandainya di negeri kita memang benar terdapat anak-anak gadis yang menderita penyakit tersebut, maka  jumlah penderita Bulimia  anoreksia Nervosa di seluruh dunia tentu mencapai angka yang sangat fantasis. Fantastis namun menyedihkan tentu saja. Bagaimana tidak, betapa jutaan orang yang sebagian besar adalah gadis remaja harus meregang nyawa dengan sia-sia, demi mendapatkan bentuk tubuh sesempurna Barbie. Dunia apa ini.

Bisnis Fashion yang keras

13670137321945518500fashionmakeitpossible.wordpress.com

Masih segar di ingatan pada 2006 silam  seorang model belia asal Brasil, Ana Carolina Reston harus meregang  nyawa di usia 21 tahun akibat anoreksia. Semasa hidupnya, makanan yang dikonsumsinya hanyalah sebutir apel atau tomat saja, tidak ada yang lain. Ana yang bekerja untuk perancang ternama dunia, Giorgio Armani memiliki tinggi badan 170 cm namun beratnya cuma 38 kilogram saat meninggal.  Perempuan muda itu merupakan model kedua yang tewas tahun itu karena membiarkan dirinya kelaparan. Tragedi ini menimbulkan kembali perdebatan mengenai pemakaian para model yang bertubuh terlalu kurus oleh industri fashion.

Sebelum maut menjemput, Ana dirawat selama tiga pekan di rumah sakit Sao Paulo, Brasil karena menderita gagal ginjal. Kematian gadis itu terjadi menyusul larangan pemakaian model terlalu kurus dalam acara Madrid Fashion Week di Spanyol .
Larangan ini dikeluarkan setelah kematian Luisel Ramos, seorang model berusia 22 tahun. Perempuan itu tewas dalam sebuah show di Uruguay pada tahun yang sama akibat serangan jantung. Sebelum ajal, selama berminggu-minggu dia cuma makan selada dan minuman diet. (cutemouse.com)

Diet itu bertujuan sehat, bukan mati

Jelaslah disini bahwa diet yang dilakukan secara ekstrem, yang tidak mengindahkan rambu-rambu kesehatan, alih-alih membawa manfaat malah akan membawa mudarat alias celaka. Hidup itu tidak cukup dijalankan dengan perasaan atau fantasi saja, namun juga harus menggunakan logika. Sangatlah  tidak logis jika untuk melakukan aktifitas sehari-hari seseorang hanya mengkonsumsi satu butir tomat atau satu butir apel saja seharian. Dari mana dia akan mendapatkan energi untuk melakukan semua pekerjaannya kalau begitu ?

Seseorang yag memiliki fantasi tentang bentuk tubuh Barbie, mungkin saja akan merasa bahwa dia cukup kenyang dengan satu butir apel saja sehari. Namun apakah dia sudah menanyakan pada logikanya ? apakah satu butir apel atau tomat itu mencukupi kebutuhan tubuhnya ? apakah sudah baik bagi kesehatannya ? hal logis inilah yang tampaknya luput dari perhatian ribuan gadis yang hanya pandai bermimpi itu.

Anak-anak gadis kita harus diberi pengertian bahwa yang lebih utama dari segala bentuk tubuh yang molek adalah kesehatan. Sama sekali tak ada gunanya memiliki tubuh seindah Barbie namun berarti mati. Akan lebih cantik jika seorang gadis memiliki kesehatan yang prima, yang dengan itu dia dapat melakukan segalanya dengan maksimal. Dapat berolah raga apa saja sehingga memiliki bentuk tubuh langsing, padat dan seksi, lebih seksi dari Barbie.  Dapat belajar dan bekerja dengan penuh semangat, dapat menjalin persahabatan dengan penuh kebahagiaan dan cinta, dapat melakukan apapun dengan penuh gairah dan kesuksesan.

Diet itu sesuatu yang baik jika dilakukan dengan baik. Diet itu bertujuan mencapai kesehatan, bukan untuk mencapai kekurusan. Oleh karenanya diet sangat dianjurkan oleh para pakar kesehatan bagi siapa saja yang memiliki masalah dengan berat badan atau dengan penyakit tertentu. Diet juga sejalan dengan ajaran agama. Dalam agama Islam yang saya yakini, banyak sekali ajaran yang jika diterjemahkan secara ilmu kesehatan, bermakna sangat gamblang, yaitu diet untuk kesehatan. Semisal puasa, makan sebelum lapar, berhenti makan sebelum kenyang, puasa selang seling sehari (shaum Daud), makan hanya menggunakan 3 jari (agar suapnya tidak terlalu besar), dll, yang jika dilaksanakan, kita akan mendapatkan manfaat ganda yakni: kesehatan dan pahala. Saya rasa dalam ajaran agama lainpun terdapat ajaran tentang diet ini (cmiiw).

Jadi teman-teman, berdietlah dengan baik dan benar. Yuk ah barengan sama saya :)

Salam sayang,

anni

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 9 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 9 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 9 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: