Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Indri Hapsari

Belajar membaca di Kompasiana. Belajar menulis di indrihapsariw.com

Jalan Tikus

REP | 08 March 2013 | 04:02 Dibaca: 251   Komentar: 0   5

Mengintip pada definisi di berbagai situs, termasuk kamusbesar.com, saya simpulkan jalan tikus artinya jalan kecil, biasanya jadi jalan penyelamat untuk memotong kemacetan atau perjalanan yang panjang. Sebenarnya jalan tikus ada dua, yang sah dan tidak sah. Maksudnya sebenarnya jalan itu untuk jalur pedestrian atau pejalan kaki, tapi malah dipakai untuk tempat lewatnya kendaraan. Berhubung kendaraan yang saya gunakan roda empat, maka jalan tikus kita ambil yang sah saja ya.

Kalau di kota kecil tempat saya dibesarkan sih tak pernah saya melewati atau berusaha mencari jalan tikus. Buat apa, ngga ada macet, kemana-mana gampang melalui jalan besar, penduduknya juga ngga phobi dengan membuat portal dimana-mana. Masalah mulai timbul ketika saya yang baru bisa nyetir di kota kecil yang lowong wong, mesti sekolah di kota besar yang ruwet wet, dan sungguh ngga nyaman transportasinya. Mau ngga mau mesti pakai kendaraan pribadi.

Baru bisa, sudah dilepas disuruh blusukan sendiri. Termasuk melalui jalan tikus tadi. Kebetulan dekat kampus ada jalan tikus yang super duper rame dan sangat menggiurkan sebagai lokasi usaha. Ada depot berbagai menu dan variasi penyajian, ada berbagai tempat fotokopi dan penjilidan, masih ditambah pula kos-kosan dengan banyak teman saya kos di sana. Sehingga begitu ada tugas, ya harus kumpul di tempat mereka karena dekat, dengan jalanan yang sempit, untuk dilewati dua mobil pas banget.

Masalah pertama saat melewatinya. Senggolan spion kanan sering tak dapat dihindarkan. Mata dan kaki mesti waspada karena bisa saja motor di depan tiba-tiba berbelok, atau berencana mau ke tepi, tapi ngga masang lampu sein. Astaga, memang kita bisa telepati?

Masalah kedua adalah parkir. Sudah sempit untuk lewat, kadang  saya terpaksa parkir di pinggir jalan, dan menyisakan space satu mobil saja untuk lewat. Cuek dah dipelototin,saya ngumpet di dalam ini. Sudah susah parkir, keluar dari parkir juga sulit. Saya pernah akan keluar parkir, lalu mundur - mundur - mundur dan…’brak!’ sepeda motor mahasiswa yang lagi makan di depot terguling. Dengan cepat pemiliknya keluar, keheranan kenapa motor segede gitu bisa ditabrak. Untung motornya bisa dihidupkan kembali.  *Ngga, ngga pake kenalan kok. Bete abis dia :D*

Saat sudah berkeluarga begini, jalan tikus saya rasakan saat Raya Porong sedang parah-parahnya macet dengan  berbagai tipe kendaraan yang kebanyakan adalah truk. Agar menyingkat waktu, biasanya suami akan mengambil jalan tikus, nekat tanpa pemandu yang biasa menawarkan jasa mereka di pintu masuk tol.

Jalan tikus yang kami lalui ternyata jalan pedesaan, dengan kondisi separuh aspal separuh tanah. Kanan kiri adalah pemukiman, bergantian dengan persawahan. Lah, baru tahu ada pemandangan indah di pinggiran kota. Lalu jalan tikus ternyata juga  tidak menjamin perjalanan lebih cepat, karena kadang terjadi penumpukan kendaraan, dan ya sudah, diam saja di tempat ngga bisa kemana-mana. Terjebak di jalan tikus, ternyata lebih mengerikan daripada terjebak di jalan biasa.

Perilaku jalan tikus manusia sama si Jerry (namanya tikus temannya Tom) itu sama ya. Selalu melewati jalan yang sama, kalau kepentok baru cari jalan baru. Nah, pas kepentok itu yang beda. Tikus selalu berbalik ke jalan semula. Ngga pernah kan, lihat tikus atret? :)

20130308-020809.jpg

Pinterest.com

Tags: jalan tikus

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melukis Malam di Bawah Lansekap Cakrawala …

Dhanang Dhave | | 21 October 2014 | 13:50

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | | 21 October 2014 | 11:59

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | | 21 October 2014 | 10:02

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 5 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 8 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 11 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Angin Kencang, Ini Teknik Menyetir …

Sultan As-sidiq | 7 jam lalu

Golkar Jeli Memilih Komisi di DPR …

Hendra Budiman | 8 jam lalu

Rekor MURI Jokowi …

Agus Oloan | 8 jam lalu

Cerpenku: Perempuan Berkerudung Jingga …

Dewi Sumardi | 8 jam lalu

Kecurangan Pihak Bank dan Airline Dalam …

Octavia Eka | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: