Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Ivone Heda Mailindra

Ibu 2 anak, bekerja, mengamati perkembangan dunia lewat jendela informasi koran, majalah dan internet . selengkapnya

Solusi Kasus Hamil di Luar Nikah

REP | 28 February 2013 | 12:20 Dibaca: 3792   Komentar: 25   5

Dinikahkan dengan pelaku atau memeliharan anak tanpa suami?

Sungguh dilematis pilihan orang tua.  Dalam banyak kasus perkosaan atau hamil di luar nikah, orangtua dihadapkan pada pilihan yang sulit . Di satu sisi  ada tanggung jawab moral orang tua terhadap anak yang terlanjur dikandung .  Manakah yang harus didahulukan ? menyelamatkan anak sendiri dan bayi yang dikandung , atau menyelamatkan  nama keluarga  berikut semua konsekuensinya ?

Kasus ini pernah dialami oleh seorang kenalan .  Seorang wanita muda diperkenalkan oleh kakak kandungnya kepada seorang pria dewasa . Tidak ada maksud untuk menjodohkan keduanya . Apa mau dikata sang pria jatuh cinta mati matian. Si wanita enggan  bersikap kurang sopan .  Melihat latar belakang pria ini, yang berprofesi sebagai aparat dan berasal dari keluarga baik baik, gadis ini yakin pria ini tidak mempunyai niat yang buruk . Apalagi kedua orang tua mereka saling mengenal .   Gadis ini dengan sopan menolak ajakan pria untuk bepergian jauh . Mereka hanya bertemu di rumah atas sepengetahuan orang tua si gadis .

Namun lama-kelamaan pria ini merasa tertantang untuk bisa membawa si gadis keluar dari area yang dikenal kedua keluarganya. Suatu hari pria itu menjemput gadis ini dari  tempatnya bekerja (sebuah bank swasta)  dengan berita bahwa kakak  si gadis meminta bertemu di sebuah restoran . Tanpa curiga gadis ini mau diajak pergi  .  Malang bagi si gadis, dalam perjalanan terjadi peristiwa perkosaan .

Keluarga gadispun berang bukan kepalang. Apalagi saat  pria mengatakan  ini terjadi atas dasar suka sama suka. Kenyataan menunjukan  gadis tersebut sempat melompat keluar dari Jip yang membawanya , sehingga mengalami cedera kaki dan lutut parah.  Keluarga pria pun menawarkan solusi untuk menikahkan keduanya  secara baik baik , sebagaimana niat sang pria sebenarnya adalah menjadikan gadis itu sebagai istri .  Inikah solusi yang ideal ?

Jika dipandang dari sisi kedua keluarga , tentu ini solusi terbaik, secara moral, secara sosial . Namun lihatlah dari sisi si gadis  . Ia mengalami trauma psikologis yang amat berat .  Peristiwa perkosaan telah  mengubah pandangannya tentang pria . Gambaran pria yang selama ini adalah pelindung bagi wanita (ayah dan 8 orang kakak lelakinya)  mendadak buyar oleh peristiwa tersebut. Dengan bulat tekadnya ia mengandung dan membesarkan anak ini tanpa kehadiran suami . Gadis ini tidak sudi menikah dengan pria yang telah menyakiti dirinya . Jika pria itu mencintainya, mengapa ia menyakiti dirinya demikian keji?  Dengan berani ia menentang orangtuanya yang telah setuju menerima tawaran dari keluarga pria untuk menikahkan keduanya.

Wanita ini  membekali putranya dengan kasih sayang, didikan moral serta  keberanian menghadapi dunia dalam status “anak di luar nikah” sebagaimana tercantum dalam akte kelahiranannya . Dalam pandangannya , ia telah menjaga kesucian diri dan keluarganya. Ia tidak merasa ternoda atas perbuatan orang lain yang menyebabkan dirinya menjadi hina. Anak yang hadir adalah miliknya, sehingga pria itu tak memiliki bukti apapun untuk mengambil putranya kelak.

Dalam banyak kasus  hamil tanpa pernikahan,  solusi menikahkan wanita korban pemerkosaan dengan seorang pria baik baik, terbukti sarat dengan  masalah di kemudian hari. Mulai dari kondisi wanita yang mengalami trauma psikologis, berpengaruh terhadap pertumbuhan anak,  kelangsungan rumahtangga yang mau tidak mau menjadi timpang , adanya pemalsuan dokumen kelahiran dan identitas biologis anak . Sampai munculnya skandal yang di kemudian hari beresiko merugikan pihak keluarga .

Kembali ke kisah kenalan saya, wanita ini mendobrak semua ketakutan, mengambil resiko yang mat besar dengan memutuskan membesarkan anak yang ia kandung. Bukan hanya membesarkan , ia berjuang dengan bekerja demi mampu mengirimkan anak itu ke sekolah yang terbaik di kotanya.  Keduanya  hidup terpisah dari orang tua dan saudara saudara  Wanita ini pula sepakat menanggalkan nama keluarga yang melekat dalam dokumen resminya .  Ia tidak ingin keluarga besar menanggung malu atas keputusannya .

Jika mempertimbangkan sikap apa yang akan diambil , masyarakat pd umumnya memilih menikahkan anak yg hamil di luar nikah, padahal  memelihara anak tanpa menikah juga layak diterima sebagai pilihan . Krn anak tdk menanggung  dosa yag diperbuat orang tuanya . Anak dari hasil “kecelakaan” telah berjuang dlm kondisi yang luar biasa sejak pertama kejadian . Penolakan atas diri anak tersebut dimulai dari saat ia masih benih , ketika ia lahir, tumbuh dlm kondisi timpang (bila ibunya kemudian tdk menikah) ,  bahkan negara mengingkari legalitasnya ( akte kelahirannya sulit mendapat persetujuan di catatan sipil) , Asuransi meragukan  aplikasi perlindungan yang diajukan ,  Pihak sekolah mengerutkan kening saat membaca biodata dirinya saat mendaftar .

Terlepas dari sisi moral bahwa memiliki anak diluar pernikahan adalah kondisi yang tidak lazim dan sulit diterima oleh masyarakat . Ada baiknya kita sebagai masyarakat mengubah cara pandang kita dari fokus ke perbuatan orang tua (yang menyebabkan anak terlahir tanpa  ayah yang jelas) menjadi lebih fokus kepada kepentingan dan kelangsungan hidup anak dan ibunya .  Hidup mereka harus terus berjalan . Si ibu harus melanjukan hidup dan menafkahi diri sendiri dan anaknya . Anak memiliki hak untuk menerima perlakuan setara dari masyarakat .  Sering sekali saya melihat wanita yg memiliki anak di luar nikah  hidup serba salah.  Si Ibu statusnya single,  status pernikahan  dlm KTP tidak menikah.  Menyembunyikan keberadaan anaknya  berarti mengingkari naluri yang telah terlanjur terbentuk, ia adalah seorang ibu.  Memelihara anaknya berarti menanggung resko “pertanyaan” yang enggan dijawab dari lingkungannya ( tetangga, pak RT, rekan kerja)  Wanita demikian tdk bisa leluasa sekedar berbagi cerita tentang bagaimana perilaku anaknya di rumah ,layaknya yang dibicarakan  ibu ibu di manapun mereka berkumpul . Apalagi adanya cap ” jangan bergaul dengan anak haram” yang kerap didengung dengungkan oleh keluarga baik baik .  Saya sering mendengar pergunjingan di antara kaum ibu ttg dengan siapa anak anaknya bergaul . “ucapan” anak haram, anak hasil kecelakaan terdengar amat menyakitkan dan terlalu menghakimi.

Bandung, Maret 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 15 jam lalu

Haru Biru di Kompasianival 2014 …

Fey Down | 20 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 23 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 22 November 2014 21:41

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51


HIGHLIGHT

Indonesia Memperkaya Orang Asing …

Fikril Islam | 8 jam lalu

Mulai 1 Desember PNS Dilarang Rapat di Hotel …

Gingerkempling | 8 jam lalu

[Cerpen dan Lagu] Anggun …

Conan Edogawa | 8 jam lalu

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | 8 jam lalu

Manusia Atlantis (4) …

S-widjaja | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: