Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Eko Setiawan

Tukang makan namun tetap langsing :D

Menyeberang Jalan di Inggris

HL | 24 February 2013 | 18:28 Dibaca: 1440   Komentar: 0   6

Saat saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Ibu setiap kali mengunjungi beliau, yang hampir selalu saya tanyakan adalah, “Bagaimana kondisi Tulungagung kota, Bu?” Dan jawabnya selalu standard, “Alah, embuh. Wong aku jarang sekali ke kota.”

Kenapa, tanya saya lagi.

“Bagaimana mau ke kota, untuk menyeberang jalan saja aku tidak berani.”

O ya, Ibu saya tinggal di luar kota Tulungagung. Memang hanya berjarak 3-4 km dari Tulungagung kota, namun tetap saja sudah bukan lagi termasuk ke dalamnya he he he. Mungkin semacam suburban kali ya …

Dan perihal tidak berani menyeberang jalan di atas adalah dalam konteks berkendara, baik sepeda ontel maupun sepeda bermotor. Jalan yang dimaksud adalah jalan yang menjadi pembatas desa kami dan merupakan salah satu akses ke Tulungagung kota.

Dan memang, jangankan Ibu saya yang sudah sekitar 57 tahun, saya saja yang lebih muda sering dihinggapi stres hanya gara-gara menyeberang jalan ini. Baik dengan bersepeda ontel, bersepeda bermotor, ataupun berjalan kaki.

Saya pikir hal sulit menyeberang jalan di atas hanyalah monopoli Tulungagung saja. Ternyata saya salah, setidaknya bila apa yang saya alami sebagai pejalan kaki di beberapa kota di bawah ini menjadi acuannya.

Pernah suatu waktu, sekitar akhir 2009 atau awal 2010, saya hendak menyeberang jalan di depan kantor PP Muhammadiyah di dekat Tugu Tani, Jakarta. Entah setelah menit ke berapa baru saya berhasil. Mungkin karena saya dari udik yang jarang ke Jakarta ya?

Pada waktu yang lain, di bulan Oktober 2012 yang lalu, saya sekeluarga berniat menyeberang jalan di sekitar Monas setelah selesainya suatu urusan di kantor pusat Pertamina. Saya lupa nama jalannya apa, namun yang jelas masih ada Medan Merdeka-nya. Sebenarnya kami menemukan traffic light. Sayang, ketika tombol meminta lampu hijau kami pencet, tidak ada response sama sekali. Kebetulan waktu itu ada 2 orang yang sedang lewat. Sambil tertawa dan berkata bahwa alat tersebut memang rusak, mereka mengajak kami menyeberang. Ngeri juga, karena tanpa ba bi bu mereka langsung saja menyeberang sambil tangannya terangkat, memberikan kode kepada para pengendara kendaraan bermotor untuk memberikan kami kesempatan menyeberang. Alhamdulillah sampai di seberang jalan juga.

Kalau kedua contoh tersebut terkait dengan jalan besar – atau setidaknya relatif besar untuk jalan di depan kantor PP Muhamamadiyah – dan berada di Jakarta, maka pengalaman ketiga yang saya jalani hanyalah berkenaan dengan jalan kecil, bukan jalan utama, di wilayah kecil pula bernama Kartasura. Namun keadaannya ternyata tidaklah jauh berbeda. Tidak mudah bagi saya untuk menyeberang jalan dimaksud, beberapa kali di akhir 2009 atau awal 2010 saat itu. Mungkin karena jalan tersebut membelah sebuah kampus ya, sehingga kondisinya memang hampir selalu ramai setiap hari.

Saya jadi berpikir, kenapa hal menyeberang jalan saja menjadi sedemikian rumitnya ya? Melewati jarak yang hanya sekian atau belasan atau puluhan meter, mengapa harus dihinggapi rasa was-was?

Nah, tulisan ini hendak bercerita sedikit mengenai hal menyeberang jalan juga, namun(terutama) hanya dalam kaitannya dengan pejalan kaki baik pejalan kaki biasa maupun pejalan kaki dengan kondisi khusus – yang terakhir ini saya sebutkan lebih detail di bagian akhir tulisan. Bukan di Tulungagung, Jakarta, ataupun Kartasura, melainkan di jalan-jalan di Birmingham dan satu-dua kota lainnya di UK. Bukan mengenai jalan raya sekelas motorway, melainkan terkait dengan jalan kelas A ke bawah.

O ya, tentang jalan di Inggris (atau lebih tepatnya United Kingdom atau UK), mereka membaginya ke dalam kelas-kelas tertentu berdasarkan fungsi dan kapasitasnya. Yang memiliki kapasitas terbesar dan berfungsi sebagai sarana perpindahan secara cepat adalah motorway. Berturut-turut setelah itu barulah jalan kelas A primer, kelas A non-primer, kelas B, kelas C, dan unclassified. Kapasitas jalan maupun kepadatan tujuan utama kelas jalan semakin berkurang dari kategori motorway hingga kategori unclassified. Sumber bacaan tentang hal ini dapat dilihat di link ini dan ini.

Berdasarkan pengalaman pribadi selama ini, saya merasakan betapa nyamannya menjadi pejalan kaki di Inggris ini. Jelas, trotoar tersedia di mana-mana (meskipun tidak semua ruas jalan menyediakan trotoar). Dan perihal menyeberang jalan … tidak perlu ada perasaan khawatir sama sekali ketika melakukannya. Pejalan kaki tinggal mencari salah satu fasilitas pendukung bagi mereka di ruas jalan dimana ia berada. Entah itu zebra crossing dan belisha beacon, pelican crossing, puffin crossing, toucan crossing, pegasus crossing, pedestrian refuge, school crossing, atau crossing guard. Bagi pejalan kaki dengan kondisi khusus juga tidak perlu khawatir, karena semua fasilitas pendukung tersebut biasanya disertai dengan dropped kerb/ curb cut.

He he he … istilahnya aneh-aneh ya? Namun sebenarnya fungsinya sama kok. Ya itu tadi, untuk memudahkan proses menyeberang jalan. Di bawah ini akan saya paparkan jenis-jenis fasilitas bantu penyeberangan jalan di atas, disertai foto – jika saya punya atau ada di internet lho ya - untuk mendukung uraian.

Zebra crossing dan belisha beacon

Ini Insya Allah fasilitas ini sudah akrab bagi kita. Ya, ini tidak lain dan tidak bukan adalah zebra cross yang kita akrabi selama ini. Bentuknya mirip, berupa garis-garis putih di atas jalan beraspal. Bedanya, di Inggris zebra cross ini biasanya disertai dengan perangkat lain yang dinamakan belisha beacon. Ini adalah semacam bola lampu yang terpasang pada tiang di pinggir jalan, di tempat di mana zebra cross berada. Alat ini menyala berwarna kuning atau amber, dan memberikan tanda kepada pengguna jalan (baik pengendara mobil, motor, maupun sepeda) untuk memberikan kesempatan kepada pejalan kaki yang hendak lewat.

1361703679142600016

Foto 1. Sebuah zebra crossing dan belisha beacon di sisi kiri-kanannya (Sumber: http://www.2pass.co.uk/crossing.htm#.USna8fJtae0, diakses 24 Pebruari 2013)

Pelican crossing, puffin crossing, toucan crossing, dan pegasus crossing

Pelican crossing sebenarnya, kalau boleh saya katakan, salah satu jenis lampu lalu lintas. Ini merupakan singkatan dari pedestrian light controlled crossing. Ini hanya berbeda sedikit dari puffin crossing, toucan crossing, maupun pegasus crossing. Perbedaannya terletak pada tanda aman menyeberang maupun siapa yang boleh menyeberang.

Pada pelican crossing, tanda mulai aman menyeberang adalah berupa lampu bergambar orang yang terpasang di seberang jalan. Proses penyeberangan menjadi kendali si penyeberang sepenuhnya, yaitu dengan menekan tombol pada alat. Sebagaimana di Indonesia, penyeberangan boleh dilakukan ketika lampu di seberang jalan berwarna hijau.

1361703794282133522

Foto 2. Sebuah fasilitas pelican crossing (dokumen pribadi)

Sama halnya dengan pelican crossing, proses penyeberangan dengan berbantuan puffin crossing (singkatan dari pedestrian user-friendly intelligent crossing) juga dikendalikan sepenuhnya oleh si penyeberang jalan. Caranya juga sama, yaitu dengan menekan tombol pada alat yang terpasang. Meskipun demikian, display dari alat ini sedikit berbeda. Lampu bergambar orang, berbeda dari pelican crossing, berada di atas alat bertombol tersebut. Ini, sejauh yang saya baca, untuk memudahkan para penyeberang jalan yang memiliki keterbatasan pandangan.

13617039471370840664

Foto 3. Lampu bergambar orang sedang berjalan menyala hijau di sebuah fasilitas puffin crossing (dokumen pribadi)

Selain pelican crossing maupun puffin crossing, terdapat toucan crossing. Sarana penyeberangan ini merupakan tempat menyeberang bagi pejalan kaki maupun pesepeda pancal, sehingga tanda mulai menyeberang juga memuat gambar orang dan sepeda pancal. Sama dengan puffin crossing, tanda tersebut terpasang di atas alat bertombol.

1361704079767367013

Foto 4. Lampu menyala pada sebuah toucan crossing (Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f1/Colliers_Wood_London_2011_15.jpg, diakses 24 Pebruari 2013)

Pegasus crossing adalah sarana penyeberangan jalan yang lain. Selain merupakan tempat menyeberang jalan bagi pejalan kaki dan pesepeda pancal, sarana ini juga merupakan tempat menyeberang jalan bagi pengendara kuda. Saya belum pernah menemui sarana penyeberangan jenis ini baik di Birmingham maupun di Loughborough. Mbak Wiki, meskipun demikian, memberitahukan bahwa alat dimaksud dapat ditemui di Hyde Park, London – suatu taman yang berada tidak terlalu jauh dari KBRI di London. Sarana ini juga, kata Mbak Wiki, jamak ditemui di wilayah Skotlandia.

1361704185227283287

Foto 5. Pegasus crossing (Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/2d/PegasusCrossing_HydeParkCorner.jpg, diakses 24 Pebruari 2013)

Pada kesemua jenis alat ini, sekali lagi, si penyeberang memiliki kendali atas proses penyeberangan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menekan tombol pada alat, dan menunggu hingga ada tanda sudah mulai aman menyeberang (ataupun sudah tidak boleh lagi menyeberang).

Pedestrian refuge/ pedestrian Island/ refuge island

Selain kesemua lampu lalu-lintas di atas, di ruas jalan tertentu juga sering ditemui adanya pedestrian refuge. Sering disebut juga pedestrian island atau refuge island, sarana ini memungkinkan penyeberang jalan untuk berhenti di tengah jalan dengan aman dan menunggu saat yang tepat untuk melakukan penyeberangan di setengah jalan berikutnya. Sarana ini biasanya dipasang pada jalan yang relatif lebar atau – yang ini kesimpulan saya – pada titik-titik tertentu di suatu ruas jalan yang relatif ramai. Dengan sarana ini, sekali lagi, proses penyeberangan dapat dilakukan secara aman meskipun tidak ada lampu lalu-lintas yang terpasang.

Foto di bawah ini adala pedestrian refuge yang berada di dekat tempat tinggal kami. Sebagaimana terlihat di dalam foto, terdapat satu bidang yang berada di tengah-tengah jalan dan diapit oleh dua buah tiang pendek. Mendekati alat ini, pada jalan dibuat marka tertentu yang, nampaknya, memberikan tanda tambahan kepada pengendara mobil atau motor atau sepeda tentang adanya sarana ini. Kedua buah tiang pendek pengapit pedestrian refuge tersebut akan terlihat menyala ketika hari sudah mulai gelap. Lagi, menurut kesimpulan saya, ini merupakan sinyal tambahan bagi pengguna jalan tentang keberadaan sarana ini.

13617042681983065064

Foto 6. Sebuah pedestrian refuge (dokumen pribadi)

Dropped kerb/ curb cut

Pada tempat-tempat dimana menyeberang jalan dimungkinkan, di situ pula di Inggris ini terdapat trotoar. Pemisah antara jalan dan trotoar ini dinamakan kerb atau curb – setidaknya begitulah yang saya tahu, he he he. Kerb ini sebagian besar merupakan struktur yang dibangun tegak lurus dengan jalan, memiliki ketinggian sama dengan trotoar serta lebih tinggi dari jalan. Nah, pada lokasi dimana terpasang sarana-sarana untuk menyeberang jalan tersebut, kerb selalu melandai dan memiliki ketinggian yang sama dengan jalan. Pada saat yang sama, trotoar di tempat tersebut juga dibangun melandai. Keduanya – kerb yang maupun trotoar yang melandai – bersambung dengan jalan. Kerb yang seperti ini dinamakan dropped kerb atau curb cut. Foto berkenaan dengan pedestrian refuge di atas (yaitu Foto 6) dengan jelas menunjukkan adanya dropped kerb.

Dengan adanya dropped kerb ini, maka proses menyeberang jalan dapat dilakukan dengan mudah oleh semua orang. Entah itu pejalan kaki biasa maupun pejalan kaki dengan kondisi khusus – yaitu pejalan kaki yang sedang membawa trolley berisi barang belanjaan, sedang mengajak serta bayinya di dalam stroller, berkursi roda, dan yang lainnya.

School crossing dan crossing guard

Di samping kesemua sarana yang saya sebutkan di atas, dapat juga kita temui school crossing serta crossing guard. Keduanya saya singgung sedikit di bawah ini.

School crossing pastilah sudah akrab bagi kita. Ya, school crossing ini terpasang di dekat lokasi-lokasi sekolah, dan memang tujuan utama pemasangannya adalah untuk memberi kesempatan bagi siswa maupun pengantarnya untuk menyeberang jalan dengan aman. Jalan beraspal di mana di pinggirnya terpasang tanda ini biasanya diberikan tanda khusus, misalnya tulisan “Slow” berwarna putih dan berukuran besar ataupun jalan bercat terracotta bertuliskan “School Zone” – seperti yang kita jumpai sekarang ini di Indonesia.

Foto di bawah ini adalah rambu school crossing serta jalan di depannya yang bertuliskan “Slow”.

13617043541202564276

Foto 7. School crossing dan tulisan

Di samping school crossing, di UK juga dapat kita jumpai adanya crossing guard. Ini adalah seseorang yang menjadi pengatur menyeberangnya siswa sekolah dan para pejalan kaki lainnya. Mereka biasanya membawa sebilah papan bundar bergagang, di mana di bagian bundar tersebut tertulis kata “STOP”. Pada Foto 2 di atas – yaitu foto berkaitan dengan pelican crossing - sering saya jumpai adanya crossing guard ini, biasanya pada jam-jam masuk sekolah maupun bubaran sekolah.

Demikian sekilas mengenai menyeberang jalan di Inggris. Baikkah untuk ditiru? Entahlah. Ditiru ataupun tidak, ada satu hal utama yang, menurut pendapat saya pribadi, menjadi prasyarat kesuksesannya: tertib di jalan. Ini berlaku bagi semuanya, baik itu pengendara mobil, motor, dan sepeda, juga para pejalan kaki (kalau mereka berkesempatan untuk melakukannya, karena trotoarnya sudah tidak lagi “terkapling”). Suatu prasyarat yang, sayangnya, absen dari dalam masyarakat kita. *****

Selly Oak, 24 Pebruari 2013

Tulisan dibuat berdasarkan pengamatan pribadi dan juga merujuk pada situs-situs ini:

http://en.wikipedia.org/wiki/Roads_in_the_United_Kingdom

http://en.wikipedia.org/wiki/Hierarchy_of_roads

http://www.2pass.co.uk/crossing.htm

http://www.devon.gov.uk/index/transportroads/traffic/pedestrian_crossings/types_of_pedestrian_crossings.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Pedestrian_crossing

http://en.wikipedia.org/wiki/Crossing_guard


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Logika aneh PKS soal FPI dan Ahok …

Maijen Nurisitara | 7 jam lalu

Usai Sikat Malaysia, Kali ini Giliran Timor …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Warga Menolak Mantan Napi Korupsi Menjadi …

Opa Jappy | 11 jam lalu

Warisan Dapat Jadi Berkah untuk …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Jokowi Tak Pernah Janji Rampingkan Kabinet …

Felix | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Sebuah Persembahan untukmu Gus…. …

Puji Anto | 8 jam lalu

Omne Trium Perfectum dan Tri-PAR …

Sam Arnold | 8 jam lalu

Saat R-25 Menjawab Hasrat Pria …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 8 jam lalu

Sombong Kali Kau …

Ian Ninda | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: