Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Pm Susbandono

Berpikir kritis, berkata jujur, bertindak praktis

MBA (Mereka Businessman Asli)

OPINI | 15 February 2013 | 07:47 Dibaca: 280   Komentar: 0   2

Banyak versi kepanjangan MBA. Yang paling sah adalah “Master of Business Administration”. Gelar bagi mereka yang belajar bisnis di sebuah institut atau universitas ternama. Asal muasal MBA adalah negara adidaya, Amerika. Ketika tahun 1900, Tuck School of Business, bagian dari Dartmouth College membuka semacam kursus untuk memberi ketrampilan para “bachelor” memperdalam ilmu bisnis. Diharapkan mereka mampu menjalankan suatu enterprise dengan baik dan benar. Saat ini, pendidikan MBA merambah ke segenap penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Kepanjangan kedua, adalah plesetan yang ditujukan kepada mereka yang hamil sebelum menikah. “Marriage By Accident”. Meski tidak resmi, “MBA” yang ini menjadi istilah yang cukup populer. Saking seringnya terjadi, kini “MBA” bukan sesuatu yang aib. Ia menjadi biasa-biasa saja. Dianggap sebagai keteledoran administratif belaka, karena lalai mengurus dokumen resmi yang dibutuhkan. Singkatnya, boleh saja seseorang “MBA”, asal prosesnya segera diputihkan. Sesaat setelah akad nikah usai, maka gelar itu hilang begitu saja. Beres sudah.

MBA kedua dan ketiga adalah bikinan saya. Ini gara-gara saya terpukau kepada 2 orang yang namanya diawali huruf “M”. Saya kagum, karena mereka menjalani hidup penuh passion terhadap pekerjaannya. Tidak hanya sebagai karier dan mata pencaharian, tetapi juga life calling.

MBA pertama singkatan dari “Mastur Businessman Asli”. Mastur adalah tukang servis kompor gas, langganan kami. Kami kenal dia kurang lebih 10 tahun lalu. Sejak itu Mastur selalu datang ke rumah kami setiap 6 bulan. Pada tanggal dan waktu yang hampir sama, Mastur menelpon. “Waktu servis kompor hampir tiba, kapan saya boleh ke rumah?”. Waktu kedatangan disepakati dan dia nongol melaksanakan tugasnya.

Ongkos servis “hanya” 150 ribu rupiah. Belum termasuk suku-cadang yang harus diganti. Hari Minggu lalu dia datang, pada saat saya ada di rumah. Setengah pamer dia cerita tentang mobil Avanza yang baru dibeli. Motornya sudah disimpan sebagai cadangan, jika mobilnya ngadat. Tidak hanya itu, Mastur juga cerita tentang rumahnya yang baru, sementara rumah lama dikontrakkan 12 juta rupiah per tahun. Pelanggannya sudah puluhan. Beberapa nama artis dan tokoh politik disebut-sebut pelanggannya. Saya manggut-manggut saja, tanda setuju.

Mastur adalah pemuda sederhana. Lulusan SLTP Blitar, yang merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. Pada awalnya, dia bekerja sebagai “pesuruh” di suatu pabrik kompor di daerah Bekasi. Karena ketekunan dan kecerdasannya, Maskur merambat naik jenjang. Sampai akhirnya dia menjadi teknisi.

Tiga tahun sebagai montir kompor, Mastur merasa sudah cukup dan memutuskan untuk keluar dan berdiri sendiri. Istilah kerennya, berwiraswasta.

“Awalnya, hidup saya sangat berat pak. Pelangan hanya berkisar 10 keluarga. Belum tentu setiap bulan dapat job. Tetapi saya senang dengan pekerjaan ini. Saya yakin bahwa suatu saat akan berhasil”. Demikian Mastur cerita sambil sedikit berfilosofi.

Sambil terus membersihkan kompor kami, Mastur tak hentinya ngobrol tentang bagaimana merawat kompor dengan baik. Kadang dengan saya, sering dengan isteri atau pembantu kami yang menungguinya. Isinya kurang lebih sama. Buat agar kompor selalu bersih dari cipratan masakan. Buang sisa-sisa makanan yang tercecer di kompor. Tikus tidak akan pernah masuk, kompor tahan karat dan awet.

Singkatnya, Mastur adalah seorang tukang servis kompor yang profesional. Dengan bangga dia mengatakan bahwa kini anak buahnya sudah 5. Semuanya dikelola dengan cara yang benar, sesuai teori manajemen yang tak pernah dipelajarinya di bangku kuliah MBA. Ketika saya tanya apa kunci kesuksesannya, Mastur menjawab singkat : “Saya senang dengan pekerjaan ini. Tidak hanya membuat pelanggan saya lancar memasak, tetapi mereka juga harus dihindarkan dari kebakaran akibat pekerjaan saya”. Sangat “dalam” arti kalimatnya yang terakhir.

Setelah 1 jam bekerja, dengan senyum yang tetap mengambang, Mastur mohon pamit. Mengucapkan terima kasih berkali-kali, sambil menggenggam upahnya, hasil cucuran keringat dan dedikasinya. Pagi itu, saya mendapat pelajaran berarti, bagaimana “panggilan hidup” harus dijalani dengan sepenuh hati.

Ada MBA lain yang mempunyai kisah sama dengan Mastur. Pemuda setengah baya, asal Flores. Namanya Blasius. Karena sekolah di Jogja dan beristeri putri Jawa, dia sering dipanggil Mblasius. Mungkin singkatan dari Mas Blasius.

Tujuh tahun lalu, Mblasius masih lontang-lantung. Tapi, dari dulu saya sudah mencatat bahwa dia seorang pekerja keras dan ringan tangan. Sampai kemudian dia bertemu seorang pengusaha yang bergerak sebagai biro jasa. Mblasius diajak bergabung dan menjadi petugas penghubung ke Kantor Imigrasi, Kantor Polisi, Kantor PemDa dan masih banyak lagi. Ternyata, disitu Mblasius menemukan life calling-nya. Sampai 2 bulan lalu, saya membutuhkan “keahliannya”.

Teringat bahwa SIM-A saya sudah kadaluwarsa 2 tahun lalu, saya mengontak sana-sini untuk membantu memperpanjang. Semuanya angkat tangan. Tapi tidak dengan Mblasius. Dia langsung menyanggupi memperpanjang SIM tanpa ujian. Singkat kata, SIM saya baru kembali, dalam tempo tak sampai 2 jam. Itu semua berkat kepiawaian Mblasius. Di sana saya melihat Mblasius bekerja dengan sangat professional, cekatan dan dedikatif. Semuanya dikerjakan dengan rapi dan saksama.

Ngobrol-ngobrol dengan Mblasius, sungguh sangat menarik. Lingkup kerjanya merambah kemana-mana. Pelanggannya tersebar di seluruh Jakarta. Kesejahteraannya meningkat pesat. Mblasius sudah sukses.

Dia juga bisa mengurus Visa, mengurus surat-nikah/surat-cerai/ahli-waris, sengketa pengadilan, dan membantu keluarga berduka karena kematian. Yang paling mengejutkan adalah Mblasius bisa menyediakan orang-orang untuk menangis bila dibutuhkan. Silakan anda teruskan sendiri kalimat yang terakhir ini. Yang pasti, dia pantas diberi gelar MBA, “Mblasius Businessman Asli”.

Dua cerita tentang MBA di atas, menyadarkan saya akan kebenaran pepatah “There is a will, there is a way”. Bila ada kemauan, pasti ada jalan. Yang hebat adalah, keduanya mempunyai sikap yang sama terhadap apa yang disebut sebagai job. Pekerjaan tidak hanya dilihat sebagai mata-pencaharian saja. Karier tidak hanya dipandang sebagai alat mencari pangkat dan kekayaan saja. Tetapi juga sebagai ladang pengabdian yang bermanfaat bagi sesama. Pekerjaan harus menghasilkan suatu yang bermakna bagi kemanusiaan. Oleh sebab itu, ia harus disukai.

Yang menonjol adalah, keduanya sama-sama mempunyai rasa cinta terhadap apa yang digelutinya, meski pada awalnya mereka harus berjuang keras untuk survive. Sukses hanya merupakan konsekuensi logis bila kerja keras dan cinta akan pekerjaan sudah digenggamnya.

Mastur dan Mblasius tidak mengenyam sekolah tinggi. Apalagi bergelar MBA. Tetapi, mereka layak menjadi MBA sejati. Mereka adalah “Businessman Asli”. Meski saya menduga mereka tak pernah tahu, tapi keduanya telah mengikuti resep Steve Jobs untuk sukses. “Do what you love, and love what you do”.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 2 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 12 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 12 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

UU di Jadikan Pajangan …

Nurma Syaidah | 7 jam lalu

Tetap Semangat Saat Melakukan Perjalanan …

Vikram - | 7 jam lalu

Cas, Cis, Cus Inggris-Ria, Pedagang Asong di …

Imam Muhayat | 7 jam lalu

Libatkan KPK Strategi Jokowi Tolak Titipan …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Aku dan Siswaku …

Triniel Hapsari | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: