Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Septin Puji Astuti

Tidak ada yang lebih istimewa selain menjadi ibu dari empat anak

Kereta Prameks Sebenarnya Ramah Difabel, Tapi ….

REP | 19 January 2013 | 23:49 Dibaca: 441   Komentar: 0   4

Begitu turun dari taksi di Stasiun Tugu, Jogja, saya langsung menuju ke loket pembelian tiket Prameks. Begitu saya selesai membeli tiket, petugas kasih tahu saya kalau Kereta Prameks sudah datang dan dianjurkan segera naik. Saya lihat jam lagi, ternyata jadwal pemberangkatannya masih lama. Tapi berhubung sudah dikasih tahu oleh petugas supaya segera naik, saya langsung naik ke Kereta.

Karena datang lebih awal, di dalam Kereta masih sepi. Saya lihat ada satu bangku kosong dan saya langsung duduk di situ. Selain saya, di situ juga ada dua anak SMA dan seorang ibu.

Tidak seberapa lama, banyak penumpang yang juga naik. Rupanya kereta sudah mendekati akan berangkat.

Ternyata banyak juga penumpangnya. Malah banyak yang berdiri. Di depan saya ada ibu membawa anak balita. Rupanya anaknya ngantuk, jadi minta digendong. Saya lihat kanan, kiri, depan dan belakang tempat duduk saya ternyata sudah penuh. Oke, akhirnya saya pilih mengalah dan mempersilahkan si ibu yang membawa anak tadi duduk di tempat duduk saya. Saya pikir, saya lebih fleksibel karena sendirian dan tidak membawa apa-apa dan juga masih merasa kuat berdiri. Jika saya capek berdiri, bisa duduk di bawah. Toh sudah sholat dhuhur, jadi tidak perlu eman dengan pakaian.

Kereta akhirnya berangkat. Tapi tiba-tiba terdengar suara anak menangis. Ternyata ada ibu-ibu yang duduk di bawah bersama anaknya. Saya sedikit bertanya, kok tidak ada orang yang kasih duduk si ibu dan anak itu. Coba saya lihat di dekat pintu. Ternyata saya menemukan yang saya cari.

Ya, saya temukan tulisan dan gambar: “Reserved Seat. Kursi ini diutamakan untuk:” yang diikuti gambar orang difable, ibu hamil dan ibu dengan membawa anak. Artinya, jika di dalam kereta ada orang-orang yang tergambar dalam gambar itu, berarti siapapn harus mengalah untuk pergi dari situ. Tapi sepertinya dua orang yang duduk di situ tetap santai ngobrol meski suara tangisan si anak semakin menjadi.

1358609573873008121

Kiri: Tanda tempat duduk untuk difable, ibu hamil dan membawa anak. Kanan: penumpang yang membawa anak yang terpaksa duduk di bawah bersama anaknya (Foto: Septin)

1358610277934215617

Penumpang membawa anak yang tidak mendapat tempat duduk (Foto: Septin)

Tidak hanya satu ibu saja yang ternyata tidak mendapat duduk dan dibiarkan berdiri oleh penumpang lainnya. Ada dua lagi. Bahkan satu ibu muda tetap menggendong anaknya sambil berdiri. Di sekitarnya, nampak laki-laki tetapi tidak beranjak dari kursinya untuk memberi tempat duduk kepada si ibu yang menggendong anak tadi.

Kondisi yang sangat bertolak belakang dengan negara-negara maju. Ketika ada tanda itu tempat duduk untuk orang tertentu, biasanya penumpang langsung berdiri dan mempersilahkan orang yang punya hak untuk duduk di situ.

Perilaku seperti itu memang butuh pembiasaan sejak kecil. Bukan diajarkan secara instan. Pun harus melibatkan banyak pihak. Mulai dari sekolah, lingkungan keluarga dan masyarakat. Selain itu sistem juga bisa membentuk perilaku manusia supaya bisa lebih berempati.

Banyak kendaraan sudah diberi label difabel dan mengutamakan ibu-ibu yang membawa anak. Tinggal masyarakat yang harus memahami dan tahu aturan itu. Tidak rugi mengalah kepada difabel atau orangtua yang membawa balita. Karena bisa jadi setelah mempersilahkan duduk ada ‘rizki’ lain yang kita dapatkan yaitu persaudaraan dan persahabatan.

Seperti halnya ketika awal-awal saya di Birmingham. Waktu itu saya membawa dua anak dan membawa dua kereta dorong. Seperti biasa, di dalam bis, kami menempati tempat duduk yang memang disediakan unttuk difabel dan orangtua yang membawa balita, orang yang membawa belanjaan banyak dan orang tua.

Di perjalanan, ada pasangan muda naik. Ternyata istrinya hamil. Sementara yang laki-laki membawa barang belanjaan cukup banyak. Merasa yang saya duduki bukan hak saya, saya pilih berdiri sambil memegangi kereta dorong anak saya. Kemudian saya mempersilahkan wanita yang hamil tadi untuk duduk di tempat duduk saya.

Apa yang saya dapat. Suaminya bilang terima kasih berkali-kali, padahal dari penampilan, dia bertato banyak. Tidak lama, dia mengambil barang belanjaannya dan menawarkan makanan yang ada di tasnya ke anak-anak saya.

Memang ini tidak terjadi di Indonesia. Tetapi dari pengalaman mempersilahkan orang duduk di Indonesia. Saya selalu merasa ada persaudaraan dengan mereka meski saya tidak kenal sama sekali. Yang terpenting lagi, kita tidak mengambil hak orang lain yang pada suatu saat nanti, tidak akan pernah ada yang akan mengambil atau merampas hak kita karena kita tidak pernah melakukannya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 8 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 11 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 12 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Masyarakat Kelautan dan Perikanan Kian …

Jejaka Bahari | 8 jam lalu

Bung Karno,,President, Seniman & …

Nasionalisme Soekar... | 8 jam lalu

Ketika Si Tuan Besar Berkuasa: Sejarah …

Joko P | 8 jam lalu

Trik Bikin Buku Untuk Anda Yang Malas …

Suka Ngeblog | 8 jam lalu

Judi dan Olok-olong di Prime Time? …

Imam Safingi Mansur... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: