Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Rendra Trisyanto Surya

I am an IT AUDITOR/ASESSOR/Trainer/Researcher and LECTURER in Information Technology Management (IT Governance), Information System selengkapnya

Memaknai Reuni “Anak Kost Mahasiswa ITB” BONBIT Di Guci

REP | 27 December 2012 | 00:54 Dibaca: 654   Komentar: 0   0

Tiga puluh tahun itu memang waktu yang sangat panjang…..

Dalam perjalanan waktu yang panjang itu, banyak hal yang berubah, termasuk kota Bandung yang menjadi kenangan banyak mahasiswa yang pernah berkuliah di kota ini. Dahulu kota pegunungan ini berhawa sejuk dan demikian asri dengan berbagai tanaman bunganya yang indah. Namun kini, berubah wajah menjadi kota macet. Kota  yang semakin hingar bingar oleh berbagai kegiatan bisnis pariwisata dan wisata kuliner, yang seakan tak ada habis-habisnya itu… Namun nun di sana, sebuah rumah sederhana di salah satu pojok kota berpenduduk 4 juta jiwa ini, tetap berdiri tegak meskipun sudah terlihat agak reot. Rumah kost-kostan mahasiwa dengan no 54/58 itu berlokasi di gang S.Kandi II, Jalan Kebon Bibit (BONBIT) di kawasan Taman Sari, itu tidak banyak berubah. Rumah itu banyak menyimpan kenangan dan cerita, khususnya bagi anak-anak mahasiswa dari ITB (dan kemudian beberapa mahasiswa dari kampus lain yang ikut bergabung di sana).  Ketika kami mengunjungi rumah tua itu, seolah-olah kami menghentikan perputaran waktu sejenak. Hari  SABTU tanggal 22 Desember 2012 itu, delapan orang mahasiswa yang pernah menjadi “anak kost” di rumah itu (di era tahun 1981-1986) mampir bersama keluarganya masing-masing melakukan napak tilas. Sebelum kemudian melanjutkan perjalanan jauh menembus  jalur pantura untuk berkumpul bersama di Taman Wisata Air Panas di GUCI (di pinggir kota Tegal), Jawa Tengah dalam rangka acara reuni.

***

Ya, semua berawal dari rumah kost yang sederhana ini. Ketika pada tahun 1980 beberapa anak-anak remaja yang diterima kuliah di ITB dari berbagai daerah dan tempat itu menyewa sebuah rumah milik almarhum mantan Mayor Kopassus Udjeh Jaelani yang baik hati itu. Yang kemudian diikuti dengan masuknya satu persatu mahasiswa dari kampus-kampus lain seperti Uninus dan Universitas Parahyangan (UNPAR). Jadilah kemudian rumah kost ini begitu bervariasi dan penuh warna… dengan suasana toleransi yang demikian kuat…

Saya dari Aceh, namun diterima dengan baik oleh komunitas ini..”, kata salah seorang “anak kost” tersebut. Kemudian waktu terus berlanjut dari tahun ke tahun..  Sampai akhirnya rumah kost itu bubar dengan sendirinya, ketika satu persatu dari para penghuninya lulus kuliah dan mencari dunianya masing-masing.

Waktu demikian cepat berlalu ya, dan telah mengubah banyak hal…”, kata seorang mantan aktivitis mahasiswa ITB itu dari dalam mobil yang dikendarainya. Dia kini terjebak macet total saat hendak keluar dari kawasan Taman Sari kota Bandung ini, menuju ke Guci di Tegal.

13565433321291093111

(Mahasiswa ITB ketika masih remaja yang menjadi anak kost di rumah no 54/58 di Gg S.Kandi II, Jalan Kebon Bibit (BONBIT), Bandung di era tahun 1982-1986. Dari kiri ke Kanan: Agus Muharam, Kgs Dahlan, Yuyun Serano, Marmin Murgianto, Ating Kusdinar /jongkok. (Photo: dokumentasi pribadi)

Kota Bandung memang telah banyak berubah sejak masa-masa menjadi “anak kost” tersebut. Ya, tiga puluh tahun membuat semua berubah… Anak-anak mahasiswa yang kost di jalan Kebon Bibit inipun (yang dipanggil dengan nickname “BONBITERS”) itupun juga berubah. Menjadi lebih dewasa, lebih matang. Telah menjadi bapak/ayah dari anak-anaknya yang manis-manis dalam suasana kehidupan yang lebih mapan. Mahasiswa yang dahulu ketika berusia remaja itu terlihat kusam,  kurus, kucel namun polos dan suka bergaya dengan rambut gondrongnya itu, kini tampak semakin beruban. Namun mereka tidak lagi berjalan kaki atau menunggang motor butut jika hendak kemana-mana.

Kini di dalam mobil masing-masing yang meluncur kencang ke arah pantura dengan supirnya tersebut, kedelapan mahasiswa tersebut tidak lagi sendiri. Mereka ditemani oleh isteri masing-masing yang cantik dan  anak-anak yang juga sudah mulai menjadi remaja (bahkan banyak yang sudah menjadi mahasiswa). Rombongan keluarga generasi baru ini juga menganut “life style” yang berbeda, dimana berpergian (wisata) merupakan bagian dari aktivitas rutin mereka di waktu luang. Jalan-jalan ke luar negeripun menjadi pilihan. Kedelapan mobil keluarga keluaran terbaru itu, kemudian satu persatu keluar dari jalan Kebon Bibit ini, menembus hujan rintik-rintik kota Bandung di siang hari Sabtu itu, menuju ke kawasan Guci di Tegal.

Komunitas ini masih terlihat solid. Tampak dari dalam mobil masing-masing, mereka saling meng-ontak satu sama lain melalui HP keluaran terbaru. Sambil  mengirim informasi posisi masing-masing di sepanjang perjalanan ke Jawa Tengah itu. Diantaranya bahkan menggunakan Teknologi GPS (Geo Positioning System) yang canggih mencari arah rute perjalanan. Terkadang diselingi dengan canda dan saling meledek jika salah satu mobil terjebak macet di jalur padat pantura tersebut seperti menjelang libur panjang akhir tahun 2012 ini.  Kebiasaan dulu semasa menjadi “anak kost” yang suka bercanda spontan apa adanya, rupanya masih belum hilang. Ya, mereka datang ke Guci kali ini demi memenuhi janji dan komitmen yang pernah dibuat 30 puluh tahun silam sewaktu kuliah dan tinggal di rumah kost sederhana di jalan Kebon Bibit Bandung itu. Berjanji jika kelak nanti ketika berpisah (apapun yang terjadi), akan selalu berkumpul dalam setiap acara penting keluarga, seperti Pernikahan anak, Kelahiran anak, saling menjenguk jika ada yang sedang sakit keras dan seterusnya.

Sungguh surprise, bahwa komitmen yang diikrarkan oleh mahasiswa itu dalam wujud  simbolisasi pembuatan sebuah PLAKAT ini, bisa bertahan begitu lama.. Tidak terasa, sudah lebih dari 30 tahun hingga hari ini…….!

13566955081157011507

(PLAKAT yang menjadi simbol persahabatan "anak-anak kost" jalan Kebon Bibit /BONBIT ini, sudah berusia lebih dari 30 tahun hingga hari ini. / Photo by: Rendra Trisyanto Surya)

Dan di dalam mobil masing-masing itu, “anak-anak kost” yang dulu hidup sangat sederhana (namun cerdas-cerdas tersebut), telah bermetamorposa  menjadi somebody” (dari sebelumnyano body”, bukan siapa-siapa…).. Disitu ada yang telah menjadi dosen dan menjabat sebagai Wakil Dekan di IPB, . Ada juga yang menjadi dosen senior (Lektor Kepala) di Politeknik Negeri Bandung (POLBAN). Sementara di mobil lain ada yang telah menjadi ahli hujan buatan yang sekaligus menduduki jabatan eselon II di BPPT. Ada yang sudah menjadi Kepala cabang BRI dan ada pula yang sudah menjadi engineer andalan (ahli Sesmograph) yang pernah bekerja di perusahaan minyak internasional seperti Exxon-Mobil. Bahkan ada juga yang begitu lulus dari ITB, kemudian masuk tentara hingga mencapai pangkat Kolonel di TNI AD.

Waktu ternyata telah memberi mereka  kesempatan untuk menggunakan pendidikan yang baik tersebut yang dikombinasikan dengan proses kreatifitas masing-masing sedemikian rupa, untuk bermetamorposa melalui berbagai rintangan dan tantangan agar menjadi “somebody”…

1356543619602906431

("Anak-anak Kost" BONBIT Bandung itu, yang dulu merupakan "Nobody" tersebut, kini telah bermetamorposa menjadi "SOMEBODY". Dari kiri ke kanan: Kolonel Wawan Sambas Setiawan; Syariful Sormin S.Pd; Ir. Marmin Murgianto; Ir. KGS Dahlan Ph.D; Ir Samsul Bahri M.Sc; Yuyun Serano SE; Rendra Trisyanto Surya M.Si; Ir. Agus Muharam/ Photo By: Dhinda Ayu Amelia Rendra)

Namun yang tetap tidak berubah hingga kini adalah, sifat keceriaan, tawa canda yang lepas…dan rasa persaudaraan serta keakraban sebagaimana layaknya suatu keluarga..  Suatu bentuk pola interaksi sosial yang masih terlihat sama ketika dulu  masih tinggal satu rumah kost-kostan di jalan Kebon Bibit di kota Bandung itu.

Kami beruntung bertemu dan kemudian menjadi akrab dengan mahasiswa kost yang tergabung di rumah itu, yang ternyata memiliki ‘Personal Chemistry’ yang tidak jauh berbeda. Baik dalam tingkat ekonomi, karakter, budaya maupun keimanan… “, kata salah satu anak kost tersebut. Ditambah dengan faktor keinginan (komitmen) untuk selalu bersilaturahmi di berbagai kesempatan yang menyebabkan hubungan persahabatan itu langgeng hingga 30 tahun. Mereka memelihara “pohon silaturahmi” dalam sebuah simbolisasi  PLAKAT. Sesuatu yang sebenarnya semakin langka ditemui dalam komunitas lain dewasa  ini. Apalagi setelah tidak lagi menjadi mahasiswa dan asyik disibukkan oleh berbagai kegiatan pekerjaan rutin dan urusan keluarga masing-masing. Biasanya teman lama hanya dikenang sebatas dalam bentuk photo jadul (jaman dahulu) semata-mata…. yang tersimpan di album yang biasanya juga sudah menjadi kucel karena jarang dilihat…

Silaturahmi itu ibarat sebuah pohon, yang akan tumbuh subur jika kita rajin memeliharanya…..”, lanjut Bonbitters lain.

Akhirnya, mobil-mobil rombongan keluarga tersebut satu persatu tiba di villa Katurangga di Guci. Acara Reuni bersama anak cucu itupun seolah-olah  menghentikan berbagai kesibukan dan  waktu mereka. Karena mereka semua kembali ke kenangan masa lalu.

Selama reuni di taman wisata air panas GUCI di Tegal – Jawa Tengah ini, tidak sekalipun terdengar pembicaraan serius mengenai pekerjaan rutin masing-masing (meskipun semuanya adalah orang-orang super sibuk). Suasana berlibur juga sangat terasa ketika mereka berembuk menyusun acara sedemikian rupa agar pertemuan reunian ini bukan  hanya sekedar kangen-kangenan semata.  Berbagai acara yang bersifat nostalgia dan juga mendidik kemudian disusun. Salah satu acara yang menarik adalah ketika mengumpulkan uang sekedarnya dari anak dan cucu untuk kemudian disumbangkan ke masyarakat miskin disekitar Guci.

Kami ingin memberi pesan kepada anak-cucu, bahwa kegiatan reuni itu tidak selalu identik dengan kegiatan bersenang-senang, berlibur dan hura-hura. Akan tetapi  juga bisa sebagai media buat merenung, berkontemplasi.. Menjalin dan memelihara kembali Inter personal communication yang hampir terputus… Termasuk juga diantaranya bersama-sama merasakan penderitaan orang miskin…“, kata salah seorang anak kost tersebut.

Kegiatan demi kegiatan yang dilakukan di sana kemudian secara alami mencairkan (Ice breaking) butir-butir es yg sempat menyelimuti pohon silaturahmi komunitas tersebut karena sudah lama tidak bertemu. Pohon yang dilambangkan dalam sebuah PLAKAT itu, memang selalu dibawa kemana-mana oleh komunitas ini setiap kali mengadakan pertemuan.  Menarik bahwa sebuah komitmen informal yang dibuat semasa mahasiswa 30 tahun silam itu masih bisa kukuh tegak, tidak tergoyahkan oleh deru nafas kesibukan kehidupan masyarakat modern yang sering kali bersifat acuh dan mengabaikan simbol-simbol paguyuban seperti itu. Ada kalanya kita memang merindukan untuk ngobrol tentang masa lalu dengan orang-orang yang kita kenal sejak dahulu. Ya semacam  ‘melepaskan dahaga’ dari jeratan rutinitas kehidupan yang begitu tinggi ..”, lanjutnya.

Suasana kerinduan dan nostalgia terhadap “masa lalu” itu memang menjadi dominan di hampir semua bentuk kegiatan reuni dimanapun…. Kerinduan terhadap keceriaan dan tegur sapa yang “apa adanya”. Canda tawa sesama yang lepas dan tulus seperti dahulu ketika hidup dalam kesederhanaan sebagaimana umumnya mahasiswa pas-pasan, yang tinggal di gang S.Kandi II Kebon Bibit. “Walaupun dahulu kami semasa mahasiswa hidup begitu sederhana. Namun kami tetap memiliki tekad yang kuat dan determinasi yang tinggi untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang luar biasa banyak dan sangat menyita waktu dan energi pikiran tersebut……..”, lanjut salah seorang “anak kost” yang lain tentang suka dukanya ketika menjadi mahasiswa.

13565439201809250230

(Para "Anak-anak Kost" BONBIT itu, yang kini telah semakin gaek dan bertambah umur itu sebagai Bapak/Ayah tersebut. Sempat dikerjain oleh anak-anak dan cucu-cucu mereka untuk mau berpose dengan gaya lucu-lucuan seperti ini/ Photo By: Dhinda Ayu Amelia Rendra)

Reuni dua hari tersebut kemudian  terlarut sejenak dalam kenangan masa lalu..  Suasana itu menjadi semakin mengharukan (tapi sekaligus mengundang tawa), ketika salah satu diantara “anak kost” tersebut bercerita yang lucu-lucu semasa tinggal kost di rumah BONBIT di depan anak-anaknya. Padahal dia sebenarnya salah seorang pejabat eselon II yang sering dipandang anak-anaknya  sangat menjaga wibawa ketika di kantor maupun di rumah. Disaat lain, ada “anak kost” yang bergelar Ph.D dari Australia yang biasanya terlihat serius dan sangat berbicara ilmiah di kampus Pasca Sarjana IPB itu. Kemudian menjadi larut dalam canda tawa lepas dan membuat banyolan-banyolan segar. Anak-anak mereka yang menjadi penonton acara “cerita dari masa lalu” itu, terlihat ceria namun tertawa geli melihat tingkah laku lucu bapak-bapaknya itu. Terlebih-lebih lagi ketika anak-anak kost (bapak-bapak) itu diminta berpose untuk diphoto dengan gaya “lucu”.  Dan terlibat saling meledek dan mentertawakan dirinya masing-masing ketika  mengingat “masa galau” di malam minggu (ketika menjadi “jomblo” istilah anak sekarang). Bagaimana kemudian gitar sederhana dan gendang panci  di rumah kost menjadi sasaran untuk menghibur diri bernyanyi-nyanyi di malam minggu yang kelabu itu… mengusir sepi…

1356697107218237122

Kgs Firdaus (yang merupakan salah satu anak-cucu yang baru tamat SLTA itu), terlihat tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita om-omnya / Photo by: Rendra Trisyanto Surya)

Acara “cerita masa lalu” itupun semakin seru, ketika masing-masing mengingat  bagaimana Bibi Ijah (yang membantu memasak di rumah kost ini setiap hari) sering kewalahan mengatur menu masakan dengan uang makan harian yang diberikan  pas-pasan. Akan tetapi harus dapat memenuhi kebutuhan dari ke delapan mahasiswa tersebut. Sang Bibi akhirnya harus membagi ayam yang dibeli menjadi potongan-potongan kecil agar cukup buat makan untuk semua. Yang terjadi kemudian, potongan Ayam habis sebelum nasi di piring dihabiskan. Bahkan sering terjadi, anak kost yang telat pulang dari kampus tidak kebagian potongan ayam yang sudah dipotong kecil tersebut. Mungkin itulah sebabnya, karena urusan makan ini begitu susah semasa itu yang menyebabkan para anak kost sekarang  tampak terlihat gemuk dan buncit. Mereka menjadi sering “balas dendam” dengan sering mengunjungi tempat-tempat  makan enak (berwisata kuliner) setelah “menjadi orang”…

Salah seorang dari mereka kemudian menceritakan cerita lain. Bagaimana ketika wesel kiriman uang bulanan dari orang tuanya di Sumatera yang sering  terlambat datang. Akhirnya, secara diam-diam dia sering makan nasi seadanya dengan kecap dan garam. Namun dilakukan dengan bersembunyi-bunyi di dalam kamar kost karena malu ketahuan kemiskinannya yang sudah masuk kategori “gawat” ini…. Semua menjadi tertawa ‘geer’ mendengar pengakuan yang tulus ini… Meskipun hal ini sebenarnya cukup mengharukan dan memalukan… Karena ternyata mahasiswa yang kekurangan gizi tersebut adalah mahasiswa ITB, yaitu mahasiswa dari salah satu kampus tertua, elit dan bergengsi di Indonesia.

Selanjutnya, dari acara demi acara yang berjalan dengan santai itu. Banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh  anak dan cucu mereka. Banyak juga informasi yang sebelumnya tidak diketahui. Namun lebih dari itu, reunian ini menjadi semacam forum informal mendiseminasikan nilai-nilai (values) yang baik (dari pengalaman kuliah para orang tua mereka dari masa lalu, untuk di sharing ke anak-anak sekarang. Uniknya, anak-anak itu juga asyik dan tekun mendengarkan cerita masa lalu para orang tuanya tersebut. Mungkin karena sebagian besar dari mereka juga mahasiswa yang saat ini sedang berada di tempat kost.

***

Hari terakhir dalam acara reunian diselingi dengan acara berolahraga.

Karena bukankah hanya dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat? Dan dari jiwa yang sehat itulah nanti akan muncul kecerdasan dan berbagai ide kreatifitas. Hal-hal yang penting buat bekal hidup  sukses…”, kata salah seorang dari mereka.

Rombongan delapan keluarga besar BONBIT itupun kemudian mendaki bukit  Taman Wisata Air Panas Guci, sambil tentu berphoto-photo dengan menggunakan Digital Camera keluaran terbaru, Tablet PC, Ipod Touch, Video  Camera dan berbagai ikon modernisasi yang berbau Teknologi tersebut. Acara selanujutnya diteruskan dengan berjam-jam mandi di air panas geothermal GUCI (yang terkenal untuk kesehatan kulit) itu. Malamnya ditutup dengan bernyanyi dan berkaraoke bersama menyanyikan berbagai genre musik dari dangdut, pop, reggae hingga rock bersama anak dan cucu….

Ketika malam semakin larut… Sayup-sayup lirik-lirik kalimat lagu “Kemesraan” yang dinyayikan oleh Iwan Fals itu terdengar mengalun dari kejauhan Taman GUCI …

Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Ingin kukenang selalu….

Hatiku damai
Jiwaku tentram disampingmu
Hatiku damai
Jiwaku tentram bersamamu

….

Esoknya, Senin siang tanggal 24 Desember 2012..  Ketika awan tebal mulai menutupi langit dan udara Guci sebagaimana biasanya. Acara diakhiri dengan  berphoto bersama seluruh keluarga besar BONBIT secara lengkap. Acara Reuni inipun ditutup dengan doa bersama… Kemudian kedelapan “anak kost” (berserta keluarganya masing-masing tersebut) pamit mundur

13566975151394977049

(Anak-anak dan cucu yang tampak begitu ceria berphoto bersama para Ibu/Bapaknya… Sebelum cara olahraga dimulai. /Photo: dokumentasi pribadi)

Kemudian satu-persatu mobil berplat nomor F, D dan B itupun meninggalkan tempat reuni. Villa Katurangga Di kawasan Duta Guci Indah itu kembali sepi diantara sejuknya udara Guci. Deru mesin mobil itu semakin terdengar sayup-sayup menjauh… meluncur menembus kemacetan jalan raya menuju Kota Slawi, Tegal, Brebes, Cirebon, Kuningan dan terus melaju pulang ke Bandung, Bogor  dan Jakarta…. … Membawa cerita dan kenangan manis bagai bunga-bunga kehidupan baru yang semerbak harum yang akan terus dikenang ….

Selamat jalan The Bonbitters…selamat sampai di rumah masing-masing ya….!”, tiba-tiba pesan singkat sms masuk ke HP.. Reuni inipun  kemudian usai….

1356544151299753080

(Objek wisata pemandian air panas dan villa dari atas bukit di tengah udara sejuk GUCI, Slawi Tegal /Photo by Rendra Trisyanto Surya)

Di dalam mobil yang saya tumpangi kembali pulang ke Bandung, saya membuat catatan kecil:
Kebersamaan ini memang hanya bisa dilakukan sejenak, karena kita semua punya kehidupan rutin masing-masing yang harus dijalankan….

Namun pertemuan ini telah memperkuat kembali ikatan batin komunitas keluarga besar BONBIT 54/58 tersebut. Tawa tulus yang lepas membahana ke langit-langit sore taman wisata air panas Guci itu,  yang kemudian menembus dimensi ruang dan waktu kaki Gunung Slamet… Diantara hijauan hutan  yang seakan acuh dan selalu mendung serta gerimis itu. Gema canda tawa komunitas ini akan bercerita banyak ke anak-anak  dan cucu kelak… Bahwa nun di sana… ada “persahabatan sejati” yang tidak luntur oleh waktu……..

13565443411125062057

(Ketika Keluarga Besar BONBIT (The Bonbitters Family) berpose bersama menjelang acara reunian bubar… Photo by: Dhinda Ayu Amelia )

(Catatan:

Terima kasih buat Ir Marmin Murgianto/ salah satu anak kost BONBIT, yang telah menjadi tuan rumah yang baik selama reuni di Guci ini. Sehingga membuat pertemuan reuni GUCI selama dua hari ini menjadi kondusif sehingga pantas dikenang… Selamat Ulang Tahun Perkawinan Perak buat Marmin dan Isteri. Dan  SELAMAT TAHUN BARU 2013 buat semua….! VIVA The Bonbiters Family…!. Viva Forever…!!)

(Ditulis di villa GUCI tanggal 24 Desember 2012 oleh: Rendra Trisyanto Surya/salah seorang “anak kost” BONBIT)


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: