Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Banyak yang Raba-rabaan di Dubai Marina

REP | 01 October 2012 | 03:53 Dibaca: 917   Komentar: 13   6

1349020912922937632

Suasana pantai Jumeirah kalo siang. Dok Pribadi

Malam sabtu menjelang tengah malam, kang Dani ngajakin saya dan mas rahmad pergi ke pantai, selain itu ada juga kang Iyeng, mas Imam, kang Dian dan kang hendra, berhubung tiga nama terakhir belum pulang dari tempat kerjaaanya maka kami harus meluncur dulu ke karama untuk menjemput mereka.

Tepat jam satu malam kami meluncur menuju pantai Dubai Marina, sebenarnya ada dua pilihan, pertama Dubai marina kedua  pantai Jumeirah deket hotel bintang  tujuh,  Burj Arab, tapi kami memutuskan untuk pergi Dubai marina. walaupun akhirnya nanti , kami kecewa karena pantainya gelap dan banyak orang yang pacaran di sana.

Sebelum masuk kawasan Dubai Marina perjalanan masih lancar-lancar aja, tetapi setelah masuk kekawasan itu macetnya minta amplop, sungguh aneh tapi nyata padahal waktu  sudah menunjukan jam setengah dua malam,  sempet kepikiran, pada mau ngapain sih mereka? hihihihi.

Sepanjang kawasan Dubai marina,  orang-orang Arab dengan mobil-mobil seri terbaru pada mejengin mobilnya, mereka tampak sengaja memajang mobil-mobil super mahal tersebut, kelihatan banget pamernya hihihihi.. selain orang Arab tampak juga wajah-wajah Eropah, cukup menarik para perempuan Eropah itu tenang-tenang saja menggunakan pakaian ”adiknya” alias mini banget, hingga tampaklah tonjolan-tonjolan tubuhnya. Di sini terjadi ”benturan” kebudayaan di mana pakaian-pakaian Arab bertemu dengan pakaian-pakaian ala orang Eropah.

Resto-resto yang terdapat di sepanjang jalan menuju pantai Dubai Marina mengingatkan saya dengan model-model bangunan di Ciwalk Bandung, di mana banyak pengunjung yang masih nangkring walaupun sebenarnya resto udah pada tutup.

Selain resto juga terdapat jejeran hotel-hotel bintang 5, di antaranya Hilton, Rotana dan hotel-hotel lainnya, kawasan Dubai Marina emang terkenal sebagai kawasan kelas menegah ke atas di Dubai. Setelah melewati macet kami pun sampai di belakang hotel Hilton, pantainya emang enggak terlalu jauh dari Hilton.

Agak mengecewakan ternyata pantainya tertutup dengan triplek, OMG ternyata pantainya lagi di ”benerin” wah, kecewa deh, tapi setelah di perhatikan masih ada akses ke pantai, sebuah tulisan mungil terlihat, jalan buat pejalan kaki menuju pantai.

Kami pun turun dari kendaraan, keterkejutan kami ternyata tidak berhenti sampai di sana, pantainya gelep-segelepnya, kami sempet ke pinggir pantai,  merasakan air pantai ternyata lumayan juga jika di pake buat berenang tapi sayang suasananya yang gelap bikin bete.

Suasana gelap tersebut ternyata di mamfaatkan banyak pasangan, dari jauh mereka tidak terlihat tapi setelah mata kami terbiasa dengan suasana gelap, barulah tampak bayang-bayang anak manusia yang sedang pacaran, gileee bener, mereka sangat cerdas ternyata, suasana yang gelap sangat pas di gunakan untuk raba-rabaan, ngapain lagi kalo bukan rabaan, masa mereka cuma mengheningkan cipta? wkwkwkwkw.

Karena suasana yang kurang kondusip, akhirnya kami pun memutuskan cabut dari Dubai Marina tapi kang Dian mengusulkan bagaimana kalo kami menuju pantai deket Burj Arab Hotel ( hotel bintang tujuh) satu-satunya di dunia.

Ternyata kang Dian pengen banget berenang, jadi aja kang iyeng yang bertindak sebagai ‘’supir” langsung ngebut menuju Burj Arab Hotel, maksudnya pantainya, tidak memakan waktu lama kami pun sampai ke pantai Jumeirah, di sini suasananya agak terang.

Langsung saja bola di keluarkan, kami bermain bola setelah capek langsung duduk-duduk sambil ngobrol ngalor-ngidul, habis itu pakaian pun segera di tanggalkan karena kami mau berenang, terus terang saja saya tidak akan berani berenang di pantai kalo di tanah air, apalagi waktunya tengah malam hihihi. Terutama di pantai-pantai selatan Jawa.

Tapi di pantai Jumeirah rasa takut itu mencair, mungkin suasana di Arab ya, jadi kagak takut sama Nyi roro Kedul, airnya enak enggak terlalu dingin, selain kami banyak juga pengunjung lain yang berenang, semuanya laki-laki, mereka orang-orang Arab.

Capek berenang akhirnya kami ”menanam hidup-hidup” kang Dian, kasihan banget lihat ekspresi mukanya hihihi..menjelang jam 4 subuh kami pun cabut dari pantai Jumeirah, tidak lama setelah sampai di rumah adzan shubuh pun berkumandang…

1349020255791395681

Kang Dian pun kami tanam hidup-hidup. lokasi pantai Jumeirah. Dok Pribadi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiprah Ibu-ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | | 27 November 2014 | 07:38

Jakarta Street Food Festival: Ketika Kuliner …

Sutiono | | 27 November 2014 | 11:06

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 6 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 8 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Lawan Laos: Antara Kebanggaan dan Harga …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

[Cerbung] Green Corvus #11 …

Dyah Rina | 8 jam lalu

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Pengabaian Arbitrase di Kasus TPI dan …

Dewi Mayaratih | 8 jam lalu

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: