Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Mas Tanto

Membaca membuat pintar

Gadis Uzbek Marak Jadi PSK di Jakarta

HL | 31 August 2012 | 03:54 Dibaca: 22686   Komentar: 27   2

1346389730116755733

Ilustrasi/Admin (Baskoro Endrawan)

Uzbekistan, negara di bagian asia utara merupakan salah satu negara pecahan uni sovyet seperti beberapa negara lainnya seperti Azerbaijan, Turkmenistan, Kirgistan dan lain-lain. Sebagai negara baru merdeka, derap pembangunan berderap kencang di seluruh bagian negeri tersebut. Lapangan kerja terbuka di banyak bidang. Untuk orang yang berpendidikan dan beruntung, kondisi ini menyebabkan terangkatnya tingkat perekonomian keluarga. Sebelum merdeka dari Uni Sovyet yang berpaham komunis, dengan asas sama rata sama rasa, tidak ada orang kaya di sana. Semua asset milik negara. Negara mengatur semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagi yang tidak berpendidikan dan kurang beruntung memanfaatkan momentum maraknya pembangunan di Uzbekistan, memilih pergi keluar negeri untuk mengadu nasib di negara-negara di luar Uzbekistan. Tidak sedikit dari yang mengadu nasib ini adalah gadis-gadis belia. Rata-rata wanita Uzbekistan (usia di bawah 25 tahun) di anugerahi paras yang cantik, kulit putih mulus dan sifat yang ramah. Dengan modal nekat karena tak didukung dengan pendidikan yang tinggi dan keterampilan yang cukup, gadis-gadis belia ini mengadu nasib ke negara tetangga antara lain Indonesia, Filiphina, Singapore, Thailand dll melalui agen yang banyak terdapat di Uzbekistan. Mereka menjadi PSK asing yang melayani lelaki hidung belang di negara-negara tersebut.

Berdasarkan percakapan dengan beberapa gadis usbek yang lancar berbahasa inggris yang saya temui di beberapa tempat di Jakarta seperti Hotel Alexis, Classic, Malioboro, Hotel FM1 dan Sumo, mengalirlah cerita yang panjang dan cukup menyedihkan dari mulut mereka. Diketahui bahwa mereka berasal dari suatu desa di uzbek sana, saat mereka berangkat keluar uzbekistan mereka telah menerima sejumlah uang pinjaman atau talangan (misal 10.000 USD) dan harus mereka ganti (dipotong) dari bayaran yang mereka dapat selama bekerja di negara tujuan.

Uang yang mereka terima di awal di berikan kepada orang tua agar orang tua dapat memiliki rumah yang layak, mobil yang layak dan membantu pendidikan adik-adik mereka. Orang tua mereka tak mengetahui apa kerja mereka di luar negeri. Uang yang di dapat dari 50% komisi (tarif uzbek 1.5 juta - 1.8 juta short time) dan tip dari tamu (besarnya variatif tak tentu) juga rutin di kirim kepada keluarga di uzbek. Mereka bekerja seperti ini dengan sistem kontrak antara 3-6 bulan dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan dengan agen.

Gadis-gadis uzbek ini tak mau selamanya menjadi PSK. Jika target pribadi telah terpenuhi (mempunyai rumah, mobil dan tabungan yang cukup) mereka akan berhenti menjadi PSK untuk kemudian kembali ke uzbekistan dan berumah tangga serta menjadi wanita baik-baik sebagaimana mestinya wanita normal pada umumnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kartun Kenangan Konferensi Asia Afrika 1955 …

Gustaaf Kusno | | 19 April 2015 | 18:33

Kereta Api Lokal, Sarana Transportasi …

Andrea Dietricth | | 19 April 2015 | 12:39

[JNE BALI] Kompasiana Blogshop & …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 15:11

Trik Meracik Bad News Menjadi Good News …

Muhammad Armand | | 18 April 2015 | 21:32

Mari Lestarikan Air bersama AQUA! …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Matematika Beras …

Faisal Basri | 8 jam lalu

Menjawab Logika Jongkok PSSI dan La Nyalla …

Alan Budiman | 8 jam lalu

Tommy Soeharto Tenar di Medsos, Dari Kisruh …

Hasto Suprayogo | 10 jam lalu

Jangan Remehkan Paspor Indonesia …

Ifani | 11 jam lalu

Media Sosial, Hedonisme dan Prostitusi …

Ariyani Na | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: