Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Hendra Permana

belajar menuliskan apa yang terlihat di mata, terdengar di telinga dan dirasakan oleh hati. catatan selengkapnya

Spesialnya Ramadhan Kali Ini Hanya 15 Hari Saja

OPINI | 05 August 2012 | 05:14 Dibaca: 113   Komentar: 0   0

BUlan Ramadhan yang hanya terjadi setahun sekali ini begitu terasa sangat spesial bagi semua muslim di Indonesia. Bagi sebagian orang, ramadhan sangat spesial karena saatnya bagi mereka untuk mendapat lebih banyak lagi nilai kebaikan dibanding bulan-bulan lainnya. Bagi sebagian orang lagi, ramadhan terasa berharga karena banyak sekali orang yang ingin memanfaatkan jatah libur panjang setelah setahun beraktivitas untuk pulang kampung.

Dan ada pula sebagian orang yang menjadikan Ramadhan sangat istimewa karena dibulan Ramadhan pula mereka bisa mendulang pundi uang yang lebih banyak dibanding bulan lainnya. Untuk orang yang memposisikan dirinya sebagai (maaf) tukang minta-minta atau istilahnya “gepeng”, bulan Ramadhan menjadi bulan rejeki buat mereka. Saking melimpah ruahnya peluang minta-minta yang bisa mereka manfaatkan, akhirnya pemerintah menertibkan aksi para “gepeng” tersebut karena khawatir meresahkan masyarakat.

Lain kisah lagi di bulan Ramadhan, pundi pundi rejeki yang halal juga mengalir pada semua jajanan dan dagangan. Bahkan tidak sedikit pedagang “pendatang” yang menggelar lapak dadakan di pinggir jalan (yang seharusnya tidak digunakan untuk berdagang) untuk berdagang selama bulan Ramadhan. Bahkan tidak sedikit pula rupiah yang masuk ke mall dan pusat perbelajaan modern. Sebagian banyak masyarakat muslim ekonomi kelas menengah menghabiskan isi dompet mereka di tempat jajanan seperti ini.

Cerminan dari berbagai kejadian ramadhan tersebut terlihat pada antusiasme sahabat muslim kita yang menyambut kedatangan bulan ramadhan. Kentalnya ke-husyu’an mengisi detik-detik ramadhan sangat terasa di 15 hari pertama bulan Ramadhan. Masjid-masjid di berbagai tempat dipenuhi dengan jamaah shalat maghrib, shalat isya bahkan shalat tarawih di minggu pertama bulan Ramadhan. Namun begitu tempat belanja pun tidak kalah penuh dipadati para “jamaah” nya. Terlebih karena minggu pertama bulan Ramadhan tahun ini jatuh di minggu terakhir bulan Juli, yang berarti waktunya terima gaji, sehingga saatnya pula untuk di belanjakan.

Hari demi hari mengurangi bulan ramadhan, semakin mengurangi pula antusiasme sahabat muslim kita yang terlihat untuk tetap meramaikan masjid-masjid dengan ibadah. Seperti deret linier, bahagianya kita menyambut ramadhan dengan aktivitas tarawih di masjid, terlihat berkurang semakin hari berlanjut dengan semakin berkurangnya barisan jamaah shalat tarawih. Juga berkurangnya partisipasi sahabat muslim kita untuk kegiatan ibadah lainnya.

Apalagi mendekati minggu ke tiga atau di hari ke 15 ramadhan, dimana fokus kita untuk tetap antusias mengisi ibadah ramadhan semakin bergeser karena fokusnya kita untuk menerima THR (Tunjangan Hari Raya) dan mempersiapkan rencana mudik lebaran tahun ini. Shalat Tarawih semakin kita tinggalkan, membaca Al-Quran semakin kita lupakan. Namun justru bagaimana cara membagi uang THR yang kita dapat, selalu kita ingat. Tanggal berapa kita akan mudik, selalu menjadi hari yang kita tunggu. Seakan kita telah melupakan bahwa hari ini kita masih ramadhan, dimana pahala kebaikan masih dilipat gandakan. Seakan kita melupakan akan adanya malam Nuzulul Quran di hari ke 17 Ramadhan esok. Hingga sering kali kita tidak pernah merencanakan bagaimana mendapat malam Lailatul Qadr di tahun ini.

Semoga ramadhan kita tahun ini menjadi lebih baik dari ramadhan tahun sebelumnya. Semoga kita bisa menjadi pribadi muslim yang berbeda dari pribadi muslim pada umumnya yang hanya merayakan Ramadhan di 15 hari pertama. Semoga di sisa 15 hari Ramadhan selanjutnya, kita masih tetap antusias menyambut ramadhan hingga  Ramadhan meninggalkan kita dengan senyuman Taqwa dari Allah SWT. Amin

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 13 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 13 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 14 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Donor Darah di Perancis …

Bayu Teguh | 11 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 12 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 12 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: