Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Ella Zulaeha

Olshop tas branded Batam, Pin; 2B762CFD atau 2B5F8E90, reseller silakan add. Mampir ya sist, liat2 selengkapnya

Ketika Puasa ‘Dikalahkan’ Baju Lebaran

HL | 06 August 2012 | 08:30 Dibaca: 1254   Komentar: 42   16

1344199902507152202

Ilustrasi: tribunnews.com

Minggu pagi kemarin, saya sengaja menyempatkan diri mencari keperluan oleh-oleh untuk mertua dan kerabat kami di kampung. Mengingat sudah 3 hari saya ‘libur’ puasa, maka kesempatan itu saya gunakan untuk berbaur dengan puluhan bahkan ribuan orang yang berburu baju lebaran. Suami saya menolak untuk ikut karena tahu situasi seperti apa yang akan ia temui di pusat perbelanjaan.

Jujur saya takkan sanggup bila saya diminta bepergian dari pagi hingga sore hari di tengah ratusan orang yang berkumpul di sebuah pusat perbelanjaan. Apalagi dalam keadaan berpuasa, saya lebih memilih untuk menahan diri dan tidak akan melangkahkan kaki ke tempat tersebut.

Waktu itu saya diantar kakak saya menuju ke Thamrin City. Minggu merupakan ‘Car Free Day’, otomatis Jalan Raya Sudirman hingga Thamrin ditutup. Akibatnya mobil kami terpaksa harus mencari jalan lain melalui Pejompongan. Bisa ditebak arah menuju Thamrin City yang posisinya bersebrangan dengan Pasar Tanah Abang. Kemacetan parah tak bisa dihindari lagi. Rupanya Minggu pagi ini begitu banyak pengunjung yang sudah memadati tempat tersebut.

Jangan ditanya kondisi Jalan menuju Tanah Abang. Dua jam lebih mobil tak bergerak. Hampir putus asa rasanya. Kebetulan kakak saya berpuasa. Saya tak sampai hati bila tetap meneruskan niat ke Thamrin City. Akhirnya kami putuskan untuk melaju ke arah tengah ambil jalan yang lancar langsung putar balik.

Daripada pulang tak membawa apapun, akhirnya kami belok ke arah pasar Cipulir. Duh, sama saja! Macet! Dengan sabar akhirnya kami bisa masuk ke ITC Cipulir. Ternyata suasana di dalamnya begitu sumpek, banyak pengunjung yang ‘melantai’ di depan pintu masuk. Rupanya mereka sudah tak sanggup lagi berdiri dengan antrian sepanjang jalan menuju tiap kios yang ada di dalam ITC tersebut.

Belum lagi banyaknya tangisan bocah-bocah kecil yang kegerahan. Ditambah teriakan para penjual yang menawarkan dagangannnya. Bising dan bikin pusing! Apa jadinya kalau saya berpuasa mutar-mutar di tempat keramaian seperti ini. Bisa jadi perut saya mual, kepala cekot-cekot, dan bukan tidak mungkin saya akan batal puasa!

Seperti inilah pemandangan yang sering kita temui di berbagai pusat perbelanjaan menjelang Lebaran. Begitu banyak orang yang mengorbankan dirinya batal puasa hanya untuk berjuang mencari pakaian atau kebutuhan Lebaran lainnya.

Tepat di depan mata saya seorang ibu dengan temannya terlibat perbincangan. Si ibu mengeluhkan tak sanggup lagi meneruskan puasanya karena kepalanya pusing dan perutnya mual “Terpaksa deh batal puasa, soalnya kepala saya pusing banget nih, perut juga mual!” kata si ibu.

‘Mabuk’ di pusat perbelanjaan yang penuh sesak seperti ini menjadi pemandangan biasa. Sungguh sangat disayangkan, Ramadhan yang sejatinya dimanfaatkan untuk beribadah puasa dan mencari pahala sebanyak-banyaknya justru dikalahkan oleh semangat berburu baju Lebaran yang sebenarnya bukan sesuatu yang penting.

Entah seperti tradisi ataukah sudah mendarah daging, begitu banyak orang yang berbondong-bondong ke pusat perbelajaan saat mereka berpuasa. Saat kondisi badan lelah dan ‘mabuk’, mereka memilih untuk batal puasa. Puasa sebagai hal yang wajib pun terabaikan hanya karena mementingkan kebutuhan sekunder seperti pakaian dan keperluan Lebaran yang sebenarnya bukan hal wajib yang harus ada saat Hari Raya.

Bersyukur kakak saya fisiknya tetap kuat meskipun sempat pusing karena melihat kerumunan orang memadati tempat tersebut. Setelah mendapatkan apa yang kami cari, kami segera pergi meninggalkan tempat itu.

Sebenarnya banyak orang yang menyadari bahwa konsekwensi mereka pergi ke pusat perbelanjaan dalam kondisi berpuasa sangat rentan godaan untuk batal puasa diakibatkan suasana hiruk pikuk yang memusingkan kepala. Apalagi bila fisik tak sanggup lagi di tengah keramaian, maka yang terjadi mereka akan mampir di berbagai tempat makan.

Kejadian seperti ini selalu berulang setiap tahunnya. Orang lebih memilih berburu baju Lebaran ketimbang khusyu beribadah. Belum lagi bila mereka yang hendak mudik. Kemacetan parah di berbagai titik menjadi pemandangan biasa. Bisa dipastikan akan banyak orang yang membatalkan puasa mereka.

Karena sudah hafal kondisi Lebaran setiap tahun seperti itu, saya dan suami pun memutuskan untuk mudik di hari pertama Idul Fitri. Kami sengaja memesan tiket Kereta Api yang malam hari agar pagi harinya kami bisa mengikuti sholat Ied.

Mungkinkah tradisi berburu baju Lebaran dan mudik setiap tahunnya bisa kita lakukan tanpa harus membatalkan puasa?

Tentu ada berbagai cara yang bisa kita siasati agar kondisi tersebut tidak sampai membatalkan puasa kita:

1. Sebaiknya mencari kebutuhan Lebaran sebulan sebelum memasuki Ramadhan.

Sekalipun THR belum keluar, tak ada salahnya mencicil keperluan yang utama sebelum memasuki bulan puasa. Belanja saat berpuasa sangat rentan godaan karena fisik akan lemah sehingga mudah sekali memutuskan untuk batal puasa.

2. Bila tetap bersikukuh berburu keperluan Lebaran saat Ramadhan, carilah waktu yang tepat, misalkan untuk perempuan saat sedang haid.

Kesempatan itu bisa dipergunakan untuk mencari kebutuhan Lebaran. Bila sedang berpuasa, dikuatirkan kondisi fisik akan gampang ‘ambruk’ karena tak sanggup berada di kerumunan ratusan orang yang juga berbelanja.

3. Malam hari bisa menjadi alternatif mencari keperluan Lebaran.

Saat Ramadhan, biasanya pusat perbelanjaan menawarkan aneka diskon dan jam buka mereka menjadi lebih malam. Bahkan ada juga Dept Store yang mid night sale hingga jam 12 malam.

Hal tersebut dikarenakan banyak orang yang sehabis tarawih masih berkesempatan mencari aneka kebutuhan Lebaran. Waktu tersebut dapat pula menjadi alternatif bagi kita untuk berbelanja tanpa harus meninggalkan ibadah.

4. Pilih waktu yang tepat saat mudik Lebaran.

Carilah waktu yang tepat bila hendak mudik. Malam hari setelah berbuka puasa bisa menjadi pilihan untuk mudik agar kondisi fisik lebih prima setelah berbuka puasa. Bisa juga mudik di hari pertama Lebaran, yaitu sore atau malam harinya. Dengan demikian ibadah sholat Ied tidak terabaikan. Hati pun menjadi tenang saat mudik.

Namun kenyataan yang terjadi banyak orang memilih untuk mengorbankan puasa mereka demi agar tidak ketinggalan berlebaran di kampung halaman. Puasa terabaikan, sholat wajib ditinggalkan karena terjebak kemacetan jalan yang menggila saat mudik.

Semoga kita tidak mengabaikan hal-hal yang wajib saat Ramadhan hanya karena mementingkan sesuatu yang sebenarnya bisa kita kesampingkan.

******

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 5 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 8 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 9 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: