Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Ismail Elfash

orang biasa yang sedang belajar menulis, mengungkapkan isi hati dan sekedar berbagi

Tai di Mata Tukang Sedot WC

HL | 02 August 2012 | 17:22 Dibaca: 1387   Komentar: 9   3

1343927815281313497

mobil sedot wc

Dimanakah nyari tukang sedot WC? Jawabnya, di tiang listrik. Hampir semua tiang listrik dan telpon menjadi space iklan tukang sedot WC.  Tukang sedot WC, bermodal mobil tangki, mesin sedot air dan selang. Sekali nyedot harganya minimal Rp 300.000. Tergantung wilayahnya, juga jauh tidaknya dari jalan tempat mobilnya parkir. Inilah tukang sedot yang paling mahal.

Bagi tukang sedot WC, kotoran  manusia adalah komoditi bisnisnya. Walau disebut sedot wc, kenyataannya adalah menyedot isi wc alias kotoran manusia alias tai. Tai bukanlah hal yang menjijikan, melainkan sebuah prospek bisnis yang tak pernah suram. Selama manusia masih buang kotoran, selama itu pula bisnis ini moncer.

Kita merasa jijik dengan kotoran kita sendiri, padahal kotoran adalah indikator makanan yang kita makan. Setelah kita buang hajat, kita lupakan kotoran itu. Nyaris tidak akan mengingatnya kembali. Tapi kita akan merasa kebingungan ketika wadah kotoran kita bermasalah. Kita baru sadar bahwa kotoran kita (tai) itu masih ada di tempat pembuangan /septic tank. Pada saat itulah, kitaburu-buru pergi ke depan rumah, menengok tiang listrik, mencatat nomor tukang sedot wc, dan ingin rasanya tukang sedot itu segera tiba di rumah kita. Pada saat inilah, kita menyadari bahwa tai itu penting dan berharga.

Jelas, tai memberi kehidupan bagi tukang sedot wc. Bukan hal yang menjijikkan melainkan menjanjikan. Melalui usaha tersebut mereka setidaknya mempekerjakan 3 orang karyawan, yaitu; tukang tempel pamplet di tiang listrik, supir (biasanya pemilik usahanya) dan seorang pembantu (kenek).

Pernah saya ngobrol dengan marketingnya, yaitu tukang tempel pamplet sedot wc. Awalnya saya bingung, kok, bisa masang pamplet tinggi-tinggi di atas tiang listrik. Sampai-sampai tidak terjangkau tangan, kecuali pakai tangga. Lalau mereka mengajarkan caranya. Sebuah kuas besar, dipakaikan galah yang panjang, lalu dimasukkan ke dalam lem, dan digosok-gosokkan (diberi lem) ke tiang listrik, ukuran tingginya setinggi galah tersebut. Setelah di tiang listrik dan di kuas ada lemnya,  ditempelkannya stiketr tersebut. Lalu di tempel di atas tiang yang berlemtersebut. Dan digosok-gosokkan lagi diatas pampletnya dengan lem. Jadi lemnya kuat, karena bawah-atas dan rata.

Saya tanya, lemnya boros dong, dan mahal? Kata dia, betul boros tapi tidak mahal. Lho kok? tanya saya penasaran.  Lalu dia menjelaskan, jenis lemnya. Ternyata lemnya dia bikin sendiri. Bahannya tepung tapioka, disiram air panas. Sudah, jadi lem yang kuat. Mudah kan? Oooo.

“Saya tiap hari bertugas nempel pamplet. Dan setiap hari pula dia dapat order sedot. Bahkan terkadang bisa sampai dapat 5order nyedot dalam sehari. Tapi itu kebanyakan dan tidak terlayani, karena maksimal juga sehari cuma 3 sedotan. Kalau sudah begitu, ya.. ordernya di kasih ke teman yang lain. Masalah bagi tukang sedot ini adalah membuangnya. Dan mereka pun tahu bahwa yang dibawanya adalah limbah dan menjijikkan. Jadi kalau dibuangnya sembarangan bisa menimbulkan  polusi dan dibenci warga. Padahal tetap aja mereka buang sembarang di kali, tapi biasanya malam”, kata dia menambahkan panjang lebar.

Bayangkan! Setiap ada satu mobil sedot wc, ada 3 orang pekerja. Kalau dalam sehari ada 100mobil penyedot wc dapat order, berarti ada 300 orang yang mendapatkan penghasilan pada hari tersebut. Sungguh sebuah pekerjaan yang dapat memberdayakan dan mengurangi pengangguran.

Jangan benci kepada tukang sedot wc. Dibalik baunya tai kita, tersimpan wanginya aroma uang. Sebuah pekerjaan tidak menjadi hina karena jenisnya, karena sebuah pekerjaan, apapun jenisnya, bisa jadi suatu waktu kita sangat membutuhkannya. Kita harus berterima kasih kepada tukang sedot wc, yang telah rela menyedot kotoran kita. Kotoranmu adalah rezekiku, begitu semboyan tukang sedot wc.

Salam tukang sedot wc

Bersedia menyedot ….. anda

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 11 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 11 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 12 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 12 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: