Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Ismail Elfash

orang biasa yang sedang belajar menulis, mengungkapkan isi hati dan sekedar berbagi

Tai di Mata Tukang Sedot WC

HL | 02 August 2012 | 17:22 Dibaca: 1438   Komentar: 9   3

1343927815281313497

mobil sedot wc

Dimanakah nyari tukang sedot WC? Jawabnya, di tiang listrik. Hampir semua tiang listrik dan telpon menjadi space iklan tukang sedot WC.  Tukang sedot WC, bermodal mobil tangki, mesin sedot air dan selang. Sekali nyedot harganya minimal Rp 300.000. Tergantung wilayahnya, juga jauh tidaknya dari jalan tempat mobilnya parkir. Inilah tukang sedot yang paling mahal.

Bagi tukang sedot WC, kotoran  manusia adalah komoditi bisnisnya. Walau disebut sedot wc, kenyataannya adalah menyedot isi wc alias kotoran manusia alias tai. Tai bukanlah hal yang menjijikan, melainkan sebuah prospek bisnis yang tak pernah suram. Selama manusia masih buang kotoran, selama itu pula bisnis ini moncer.

Kita merasa jijik dengan kotoran kita sendiri, padahal kotoran adalah indikator makanan yang kita makan. Setelah kita buang hajat, kita lupakan kotoran itu. Nyaris tidak akan mengingatnya kembali. Tapi kita akan merasa kebingungan ketika wadah kotoran kita bermasalah. Kita baru sadar bahwa kotoran kita (tai) itu masih ada di tempat pembuangan /septic tank. Pada saat itulah, kitaburu-buru pergi ke depan rumah, menengok tiang listrik, mencatat nomor tukang sedot wc, dan ingin rasanya tukang sedot itu segera tiba di rumah kita. Pada saat inilah, kita menyadari bahwa tai itu penting dan berharga.

Jelas, tai memberi kehidupan bagi tukang sedot wc. Bukan hal yang menjijikkan melainkan menjanjikan. Melalui usaha tersebut mereka setidaknya mempekerjakan 3 orang karyawan, yaitu; tukang tempel pamplet di tiang listrik, supir (biasanya pemilik usahanya) dan seorang pembantu (kenek).

Pernah saya ngobrol dengan marketingnya, yaitu tukang tempel pamplet sedot wc. Awalnya saya bingung, kok, bisa masang pamplet tinggi-tinggi di atas tiang listrik. Sampai-sampai tidak terjangkau tangan, kecuali pakai tangga. Lalau mereka mengajarkan caranya. Sebuah kuas besar, dipakaikan galah yang panjang, lalu dimasukkan ke dalam lem, dan digosok-gosokkan (diberi lem) ke tiang listrik, ukuran tingginya setinggi galah tersebut. Setelah di tiang listrik dan di kuas ada lemnya,  ditempelkannya stiketr tersebut. Lalu di tempel di atas tiang yang berlemtersebut. Dan digosok-gosokkan lagi diatas pampletnya dengan lem. Jadi lemnya kuat, karena bawah-atas dan rata.

Saya tanya, lemnya boros dong, dan mahal? Kata dia, betul boros tapi tidak mahal. Lho kok? tanya saya penasaran.  Lalu dia menjelaskan, jenis lemnya. Ternyata lemnya dia bikin sendiri. Bahannya tepung tapioka, disiram air panas. Sudah, jadi lem yang kuat. Mudah kan? Oooo.

“Saya tiap hari bertugas nempel pamplet. Dan setiap hari pula dia dapat order sedot. Bahkan terkadang bisa sampai dapat 5order nyedot dalam sehari. Tapi itu kebanyakan dan tidak terlayani, karena maksimal juga sehari cuma 3 sedotan. Kalau sudah begitu, ya.. ordernya di kasih ke teman yang lain. Masalah bagi tukang sedot ini adalah membuangnya. Dan mereka pun tahu bahwa yang dibawanya adalah limbah dan menjijikkan. Jadi kalau dibuangnya sembarangan bisa menimbulkan  polusi dan dibenci warga. Padahal tetap aja mereka buang sembarang di kali, tapi biasanya malam”, kata dia menambahkan panjang lebar.

Bayangkan! Setiap ada satu mobil sedot wc, ada 3 orang pekerja. Kalau dalam sehari ada 100mobil penyedot wc dapat order, berarti ada 300 orang yang mendapatkan penghasilan pada hari tersebut. Sungguh sebuah pekerjaan yang dapat memberdayakan dan mengurangi pengangguran.

Jangan benci kepada tukang sedot wc. Dibalik baunya tai kita, tersimpan wanginya aroma uang. Sebuah pekerjaan tidak menjadi hina karena jenisnya, karena sebuah pekerjaan, apapun jenisnya, bisa jadi suatu waktu kita sangat membutuhkannya. Kita harus berterima kasih kepada tukang sedot wc, yang telah rela menyedot kotoran kita. Kotoranmu adalah rezekiku, begitu semboyan tukang sedot wc.

Salam tukang sedot wc

Bersedia menyedot ….. anda

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penambang Belerang Kawah Ijen yang …

Mawan Sidarta | | 17 September 2014 | 10:13

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Ketika Guru Masih Bermental Plagiat, Apa …

Muhammad | | 17 September 2014 | 14:58

Seni Bengong …

Ken Terate | | 16 September 2014 | 16:16

[Fiksi Fantasi] Keira dan Perjalanan ke …

Granito Ibrahim | | 17 September 2014 | 08:56


TRENDING ARTICLES

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 6 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 9 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 11 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Warga Cidolog Ciamis “Duga” …

Asep Rizal | 8 jam lalu

RUU Kelautan Masuk Pembahasan Tingkat I …

Bicara Laut | 8 jam lalu

Ternyata Kebiasaan Bohong Dapat Dicegah …

Rahmah Hayati | 8 jam lalu

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Peri Terasi …

Dewi Ari Ari | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: