Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Penjual Asongan Kok Ada di Bioskop?

HL | 13 May 2012 | 20:45 Dibaca: 1209   Komentar: 16   1

13369076111928128333

Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

POPCORN sudah lama dianggap sebagai camilan ketika menonton film. Baik menonton bioskop maupun menonton di rumah. Faktanya kita bahkan bisa makan lemper waktu ngajogrog di bioskop. Namun apa jadinya kalau popcorn yang selama ini tersedia di lobi bioskop, mendadak ditawar-tawarkan pada pengunjung yang sudah numplek di studio. Ini tentu sangat menggaggu sebagian orang, termasuk saya.

Ada satu bioskop yang sering dikunjungi masyarakat pengapresiasi film. Kalau dulu kita akan selalu bebas keluar masuk lobi tanpa perasaan ‘was-was’, maka dalam beberapa tahun terakhir, peraturan yang diterapkan di sana, boleh jadi bikin enggak nyaman pengunjung.

Salah satu peraturan aneh itu adalah adanya ‘razia’ di pintu masuk. Dan ini jelas bukan antisipasi adanya ‘teroris’ karena pendeteksian tas sudah dilakukan di pintu masuk mal/pusat perbelanjaan. Lalu razia itu untuk apa? Yeah, untuk merazia makanan yang dibawa dari luar. Jadi sang penjaga di pintu masuk akan menyuruh pengunjung membuka tas. Kalau kau punya makanan di tasmu, diambilah makanan tersebut. Bahkan air botol mineral juga dirazia. Lalu apa jadinya kalau kau bawa nasi padang bungkus? Yeah, mungkin itu juga akan dirazia. Dan biasanya makanan itu akan disita dan boleh diambil kembali setelah kamu selesai menonton.

Lha, kok bisa begitu? Amboy betul ya? Peraturan ini ‘disanggupi’ pengunjung, kok. Terbukti dengan ‘patuhnya’ mereka saat makanan yang hendak mereka makan di dalam bioskop itu disita. Namun adapula pengunjung yang marah-marah. Hal ini terjadi ketika saya dan teman saya menonton film Laskar Pelangi di salah satu bioskop di Kota Bogor. Mal di Jalan Pajajaran itu memang punya lobi bioskop yang nyaman, dan tentu peraturan merazia makanan.

Saat itu saya dan teman SMA saya tahu kalau makanan apapun akan mereka ‘ambil’. Makanya kami berencana ngumpetin makanan bungkus seperti kacang polong bungkus dan minuman kotak dalam jaket. Dan alhamdulillah, enggak ketahuan. Haha! Kenapa kami perlu makan di dalam bioskop? Alasan yang paling kuat adalah karena saat itu bulan Ramadhan. Film sekira diputar pukul lima sore, otomatis akan melewati magrib. Dan kami enggak bisa beli makanan di dalam lobi karena harga yang tidak terjangkau di kantung.

Namun, ada sekeluarga, sepasang suami istri dan seorang anak yang protes saat makanan mereka disita. Ini terjadi karena si ayah bawa makanan secara ‘terlihat’ yaitu ditenteng begitu saja. Makanan fastfood itu disita dalam sebuah loker. Otomatis mereka protes. Pengunjung itu bilang, “bagaimana kami mau buka puasa kalau makanan ini disita?” bahkan seingat saya, dia juga menginginkan bertemu sang manajer. Saya malah kasihan dengan si penjaga/bapak-bapak perazia karena dia hanya menjalankan tugas. Selebihnya saya tidak tahu kelanjutannya karena kami berdua masuk ke koridor dan menunggu studio dibuka.

Mungkin ini sejenis ‘peraturan’, tapi setelah studio dibuka dan pengunjung masuk dan duduk manis di bangku masing-masing, ‘rombongan’ pelayan datang dengan nampan berisi popcorn dan softdrink. Para pelayan ini menawarkan popcorn dengan gaya yang mereka anggap ramah tamah. Sebagian berteriak imut menawarkan dan berkata, “popcorn-nya Kakaaak!’ pada pengunjung yang kelihatan udah ‘mateng’. Atau ‘popcorn-nya, Adeek’ pada pengunjung tipikal ababil. Eumh, sejak kapan ea kita satu darah. Heu.

Kalau sudah ditawari begini, biasanya saya akan menggeleng sambil senyum. Namun saya harus beberapa kali melakukannya karena ada pelayan lain pula yang menawarkan dagangan yang sama. Ah, geleng-geleng terus kayak lagi clubbing aje.

Ada pengunjung yang membeli, namun lebih banyak yang menolak secara halus. Sampai-sampai saya dan teman biasanya hanya tertawa diam-diam. Sebab kami bagai tidak ada ubahnya seperti penumpang kereta api atau bis. Ketika banyak pengasong yang menawarkan dagangan.

Sebenarnya hal ini kemudian bisa ditolelir, namun kemudian ada perasaan ‘kasihan’ pada si pelayan yang susah payah membujuk penonton. Tapi jangan salahkan siapa-siapa kalau respons penonton ada yang dingin bahkan jutek. Toh pengunjung ke bioskop memang mau menonton, bukan mau membeli popcorn.

Nah, adapula pengalaman paling aneh dan lumayan mengesalkan. Untuk kalian yang suka datang ke bioskop ‘pagi-pagi’ alias ketika bioskop dibuka sekira tengah hari, ‘berhati-hatilah’. Kenapa? Karena kalau kamu ke toilet, si penjaga toilet bisa saja nanyain pertanyaan berikut, “maaf, Mas. Bisa lihat tiketnya?’

Nah, kenapa itu orang nanyain tiket? Sejak kapan film ditayangin di tempat berak? Alasannya karena kamu disangka ke lobi cuma buat make toilet bioskop doang! Yang secara masuk ke toilet bioskop kan, gratis. Wakakak. Berbeda dengan WC mal yang berbayar.

Pengalaman ini pernah saya dapatkan saat menonton film di bioskopp (lihat artikelnya di Standing Applause untuk Di Bawah Lindungan Kak’bah. Mungkin saat itu kondisi lobi lagi sepi, dan muka saya mungkin kelihatan banget pengen nebeng kencing doang. Enggak nyaman banget sih, digituin. Tapi kayaknya bioskop lainnya enggak menerapkan pertanyaan enggak sopan tersebut. Amin.

Peraturan lainnya adalah, beberapa bioskop yang menerapkan sumbangan sukarela seperti di bawah ini. Yang ternyata memang ‘tidak sukarela’ melainkan menjadi ‘bagian saat kamu memesan tiket.

www.wanasedaju.blogspot.com

Ketidaknyamanan Konsumen Terhadap Peraturan Bioskop

1. Ketika tasmu digeledah, berarti kamu merasa tidak nyaman karena mungkin saja ada barang privasi yang ‘diobok-obok’. Tapi di beberapa bioskop, penggeledahan ini dilakukan secara halus. Konsumen disuruh membuka dan si perazia melihat. Adapula perazia di pintu masuk yang ‘meloloskan’ dengan sengaja para pengunjung yang membawa tas ransel/jinjing, yang masuk ke lobi.

2. Ketika satu jenis makanan mereka razia, mungkin kamu malu atau tengsin sendiri karena hal itu mungkin dilihat pengunjung lain. Taruhlah kalau kamu nyimpen nasi padang bungkus di tas, dan mereka merazianya. Merah dong, muka. Wakakak! Saya pula pernah mereka razia. Makanan snack kesukaan saya gitu. Mereka pun menyitanya, tapi selepas saya menonton, tak saya ambil sebagai bentuk protes. Heu. Silakan aja deh dimamam.

3. Pelayan yang masuk biasanya mengganggu kenikmatan menonton film. Tak masalah jika mereka menawarkan saat film bahkan trailer film belum diputar. Namun apa jadinya jika mereka masih ada di studio saat trailer terlihat.

4. Bunyi berisik penjual asongan itu mengganggu, lho. Sebab beberapa orang harus nyiapin mental buat bilang ‘enggak, Mbak..’. Selain enggak tega, duit di kantong juga pas-pasan. Wakakak!

5. Biasanya ada pula pengunjung yang memesan makanan dan si pelayan perlu beberapa menit menyiapkannya di luar studio. Dan agak mengganggu ketika mereka kembali dan menghalangi kami-kami yang asyik menonton.

Alasan Pengelola Bioskop

Kenapa harus ada razia makanan di pintu masuk dan penjual popcorn asongan di studio? Kita sendiri tahu jawabannya. Berikut akan saya ludahkan.

1. Untuk meminimalisir sampah. Banyak pengunjung yang makan di dalam studio dan buang sampah sembarangan. Kalau alasannya ini, bukankah sebaiknya pihak bioskop menyediakan tempat sampah di dalam bioskop, dan bukan merazia makan di lobi?

Atau tambahkan peraturan tertulis di layar bioskop. Misalnya “Pengunjung Tidak Diperkenankan Makan Selama Film Berlangsung”. Atau kalau itu dianggap tidak manusiawi, boleh begini saja : “Pengunjung Diperkenankan Makan Selama Makanan Tersebut Dibeli di Lobi Bioskop Kami”. :v Okey, okey! Atau begini saja: “Jangan Buang Sampah Sembarangan, Woy!”

2. Banyaknya pengunjung yang bawa makanan dari luar, bikin penjualan popcorn atau softdrink di lobi menurun. Yah, gimana lagi. Sebagai konsumen tipikal kere kayak ane, harga minuman botolan kaleng aja bisa dibandrol dua kali lipat dari harga biasa. Jadi enggak heran konsumen beli minuman botol di supermarket.

Popcorn yang sebenarnya bisa dibeli dengan harga lima ribu pun bisa sampai 10 ribu. Bagi sebagian penonton mungkin bisa membelinya. Tapi jangan lupakan kami-kami yang mahasiswa, yang butuh mengapresiasi film nasional, yang perlu kenyamanan dan juga makan camilan yang kami bawa dari rumah selama menonton. Kasihanilah kami … :p


Trik dan Tips Buat Konsumen

1. Buat ente cowok kos-kosan ala mahasiswa ‘kere’ yang bokinan ama cewek, sediakan kocek lebih kalau mau ajak cewekmu ke bioskop. Siapa tahu si dia pengen popcorn plus softdrink-nya. Alhasil, kocek buat nonton yang tadinya cuma 40 ribu, harus membengkak menjadi 60 ribu. Yeah, selamat makan mi instan selama seminggu, Kawan. Heu

2. Saya dan teman SMA saya memang suka ngumpetin makanan ke dalam jaket. Hal ini malah bikin jadi asyik sendiri lantaran dapet sensasi kalau-kalau kami ketahuan pas razia di pintu masuk dilakukan. Wakakak. Jadi kayak nyembunyiin bom cinta aje ye. Yang lebih hebat sih, saat temen saya berhasil nyembunyiin makanan dari restoran fastfood, yaitu nasi plus ayam dalam sebuah cup plastik. Dan dia menyembunyikan dua cup itu di jaket. Amazing! Simak saja paragraf terakhir di artikel saya di Film Tanda Tanya: Bayangan Realitas Kelewat Komikal.

3. Mau bebas dari lalu lalang penjual popcorn asongan? Nonton aje di The Premiere atau IMAX, yang notabene lebih berkelas dan punya level ‘tinggi’. Tentu saja dengan tiket yang juga lebih woow!

*

DI beberapa bioskop di beberapa kota mungkin hal seperti di atas tidak pernah ada. Namun saya hanya salah satu dari pengunjung bioskop yang mengalami pengalaman tersebut di atas. Dan barangkali adapula penonton yang tidak mempermasalahkan peraturan cinta tersebut. Atau bahkan terbantu karena dengan begitu mereka bisa pesan sana-sini saat di studio. Heu ..

*

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 11 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 12 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 18 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Merasakan Langsung Sensasi Motor Sport …

Dyrus | 8 jam lalu

“Teruslah Bekerja, Jangan Berharap …

Agus Odita Diarjo | 8 jam lalu

Janji di Atas Pasir …

Pena Biruku | 8 jam lalu

Green In Peace ~ Indonesia Adalah Pertiwi …

Benyamin Siburian | 9 jam lalu

Meningkatkan Kinerja PLN untuk Masyarakat …

Sulhan Qumarudin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: