Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Taryadi Sum

Asal dari Sumedang, sekolah di Bandung, tinggal di Bogor dan kerja di Jakarta. Sampai sekarang selengkapnya

Perselingkuhan di KRL Jabodetabek Benar-benar Ada

HL | 15 March 2012 | 19:58 Dibaca: 1946   Komentar: 51   6

13318012961560307211

Kereta Rel Diesel (KRD) ekonomi melintas di kawasan Permata Hijau, Jakarta, Jumat (7/1/2011)./Admin (KOMPAS/Riza Fathoni)

Kisah cinta kilat dan cinta terlarang di KRL Jabotabek sepertinya bukan sekedar isapan jempol belaka. Setelah hampi 10 tahun menggunakan moda transportasi massal itu setidaknya tiga kali saya melihat atau mendengar langsung kisah penyimpangan asmara ini.

Yang pertama sudah sangat lama sekali, mungkin antara tahun 2002 atau 2003,. Saat itu, karena ada kereta mogok, terjadi penumpukan di tiap stasiun termasuk stasiun Bojong Gede Bogor tempat saya naik kereta. Ketika saya berteduh, di sebelah saya ada perempuan berusia sekitar 35 tahunan yang sedang berteduh menunggu kereta juga.

Tanpa ada tegur sapa di antara kami sampai akhirnya datanglah seorang laki-laki setengah baya yang bergabung untuk berteduh bersama saya, perempuan itu dan beberapa calon penumpang lain yang sudah ada dari tadi.

Setelah sekitar 10 menit, sang pria mulai membuka percakapan dengan menanyakan tujuannya mau kemana, sampai akhirnya mereka berkenalan dan berjabat tangan. Beberapa saat kemudian, mereka terlihat lebih akrab dan saling lempar senyum. Sampai di situ saya berusaha untuk terlihat tak peduli dengan kelakuan mereka yang secepat kilat menjadi seakrab itu.

Ketika kereta datang, kami sama-sama naik kereta itu. Secara kebetulan saya duduk berhadapan dengan mereka dua yang duduknya berdampingan. Karena sedikit kelelahan, sayapun tertidur dan baru sadar setelah melewati beberapa stasiun. Tapi dihadapan saya terlihat sang perempun itu sudah bersandar dan merem dipelukan laki-laki yang baru dikenalnya itu. Setelah itu saya tidak tahu lagi karena harus turun di stasiun tujuan saya.

Kejadian kedua terjadi beberapa tahun kemudian. Ketika saya naik kereta, di dekat pintu sudah ada seorang wanita muda (mungkin sekitar 25 tahun). Dan seperti biasa sayapun tak peduli dengan keberadaan perempuan itu.

Lewat 3 stasiun dari tempat saya naik, masuklah seorang lelaki yang kelihatannya hanya sedikit lebih tua dari wanita itu dan berdiri hampir mempet perempuan itu. Hanya beberapa saat, laki-laki itu membuka pembicaraan dengan nanya mau turun dimana dan naiknya. Saya akhirnya nguping seluruh obrolan mereka karena berada tidak lebih dari setengah meter dari tempat saya berdiri.

Dari obrolannya terdengar kalau perempuan itu lagi ngambek dan sudah dua hari pergi ke Jakarta meninggalkan suami dan anak kecilnya. Sang lelaki tampak sedang menangkap peluang dengan menawarkan makan malam di Bogor. Perempuan itu mengangguk disertai sebuah senyuman. Goncangan kereta Pasar Minggu - Bogor membuat mereka semakin menempel saja sampai akhirnya wanita itupun sudah ada dalam pelukan lelaki yang juga baru dikenalnya tersebut.

Kejadian ketiga adalah cerita teman saya. Karena ia selalu berangkat dan pulang pada jam yang tetap dan selalu naik di gerbong yang tetap, akhirnya iapun mengenal beberapa penumpang lain yang punya kebiasaan tetap juga. Kata sang teman, awalnya hanya menanyakan keberadaan kereta yang mau ditumpangi, kemudian berkenalan sampai akhirnya perempuan itu curhat kalau suaminya seorang pelaut yang pulangnya beberapa bulan sekali. Untungnya teman saya segera tersadar ketika perempuan itu mengeluh ketakutan jika sendirian di rumah.

Yah, tiga kejadian itu cukup sebagai pembuktian bahwa cinta kilat dan cinta terlarang itu memang ada di kereta yang setiap hari saya naiki selama hampir sepuluh tahun itu. Namun saya dapat memastikan bahwa orang-orang seperti itu hanya sebagian kecil saja dan tidak mewakili perilaku berkereta penumpang lain pada umumnya.

Kejadian perselingkuhan itu saya anggap saja sebagai penyimpangan. Dan ketika berbicara tentang penyimpangan, tentunya perselingkuhan itu tentu saja tidak hanya terjadi di kereta, tetapi juga di tempat lain dan kesempatan yang berbeda.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Tanggapan Rhenaldi Kasali lewat Twitter …

Febrialdi | | 23 September 2014 | 20:40

“Tom and Jerry” Memang Layak …

Irvan Sjafari | | 23 September 2014 | 21:26

Kota Istanbul Wajib Dikunjungi setelah Tanah …

Ita Dk | | 23 September 2014 | 15:34

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 9 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 12 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 13 jam lalu

Join dengan Pacar, Siswi SMA Ini Tanpa Dosa …

Arief Firhanusa | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi & The Magnificent-7 of IndONEsia …

Sam Arnold | 8 jam lalu

Diperlakukan-Dikerjain-Anda Bagaimana? …

Astokodatu | 8 jam lalu

Pelajaran dari Polemik Masril Koto …

Novaly Rushans | 9 jam lalu

Kemana Hilangnya Lagu Anak-anak? …

Annisa Ayu Berliani | 9 jam lalu

[Nangkring Cantik] Cantik itu harusnya luar …

Bunda Ai | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: