Artikel

Urban

Ketika Ponsel Menjadi Kasta dan Pedoman di Kalangan Pelajar


REP | 25 February 2012 | 21:12 Dibaca: 210   Komentar: 18   2 dari 2 Kompasianer menilai aktual

“Eh, hape lo apaan. BB Gemini ya? Kuno, ne gw dong Tourch baru” Ucap pelajar B, mengomentari ponsel Blackberry kawannya A yang versi lawas.

“Ha ha ha, hare gene pake Bebe? Hape jadul gitu aja kalian bangga. Ne gw Iphone 4, putih elegean dan layar sentuhnya bikin ngejreng…” Pelajar C ikut menimpali, dengan menyandingkan kepunyaannya merk Iphone.

“Jiah, segitunya kalian pada bangga, ne punya gw Android 4.0 dengan sandi ’sandwich’ versi terbaru. Di mata gw, hape lo pada jadul semua, BB mirip ulekan dapur, Iphone cuma menang touch screen, kegores dikit aja langsung jadi sampah. Kalo Android, pastinya bisa ngapa-ngapain. Lihat video di youtube, gampang. Download market, cepet. Nerima imel, tinggal klik notifnya aja. N pengen cuap-cuapan ala BBM, tinggal pilih mana yang lo suka!” Pelajar D langsung nimbrung buat memamerkan segala kelebihan ponsel yang baru dibelinya.

Lalu, mereka pun terheran-heran saat melihat pelajar E yang hanya diam saja sambil memandangi layar ponsel keluaran tahun 2000 awal.

“Ah, kalian ini ribut-ribut ngomongin hape aja. Ne punya gw hape sejuta umat, meski jadul, kuno n harganya sekarang cuman gocap, tapi banyak fungsi. Sudah begitu, kelebihannya banyak lagi, baterai ga cepet boros, sinyalnya penuh terus, dan tahan banting walau sudah puluhan kali jatoh dari kantong baju gw. Lagian hape kan fungsi utamanya buat ngobrol sama smsan, kalo mau yang lebih mending pake laptop aja” Ujar pelajar D sambil asyik memencet keypad yang agak macet saat main game Snake.

Tiba-tiba di ruangan kelas datang beberapa Guru yang ingin mengecek isi tas dan barang-barang dari pelajar, agar ulangan nanti tidak ada yang menyontek memakai Ponsel atau gadget canggih lainnya.

Setelah Sidak  (inspeksi mendadak) yang berlangsung selama 15 menit, dan beberapa Guru itu keluar kelas, tinggal wajah-wajah kusut. Terutama dari raut wajah D yang ponsel barunya disita, demi ketenangan saat Ujian. “Jiah, hape baru gw melayang deh, padahal itu isinya ada beberapa contekan buat pelajaran hari ini. Bingung deh, ga bisa nanya sama Mbah Google lagi.”

“Iya ne, tahu begini mending gw nulis contekan pake manual kayak dulu, di kertas lembar atau di paha dan sikut, biar ga ketahuan ya.” Ucap B menimpali, yang langsung saja diamini oleh A dan C.

Kemudian mereka berempat pun menanyakan perihal E yang tidak disita ponselnya, saat Sidak tadi, saat mau menanyakan langsung, E tiba-tiba beranjak dari kursinya untuk menuju tempat sampah di pojok kelas.

“Nah, aman kan. Hape gw ga kena semprit sama Pak Guru.” Ucapnya sambil tersenyum lebar memamerkan ponsel jadulnya yang dipungut dari tempat sampah. Tinggal keempat kawan lainnya yang terheran-heran karena tidak mengerti kenapa bisa ada ponsel E di pojok kelas, padahal ia sama sekali tidak pernah berdiri sekalipun saat Pak Guru memeriksa.

“He he he, betul kan kata gw. Hape itu gunanya buat smsan sama telponan aja, mending beli yang tahan banting kayak punya gw ini. Biar di lempar dari jarak 5 meter tetap bisa hidup, daripada kalian yang takut-takut nyembunyiin di kaos kaki juga tetap aja kena razia. Lagian gw yakin ga ada diantara kalian yang berani melempar hape mahal ke dalam tempat sampah, jangankan dilempar, jatuh sedikit aja udah bikin rusak. Beda sama hape gw yang jadul, meski dilempar sejauh apapun tetap aja bisa hidup, bahkan buat ganjal mobil truk sekalipun bisa!”

Sindir E, memamerkan ponselnya yang tetap utuh dan tidak rusak sama sekali, walaupun sudah terbentur tembok. Tinggal beberapa kawannya terperangah dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, menyesalkan nasibnya karena hanya mengandalkan peralatan canggih untuk disalah gunakan dalam menyontek.

*    *    *

Cerita diatas dari beberapa pelajar memang terkesan sangat satir, karena sekarang ini banyak beberapa pelajar yang membentuk kelompok-kelompok sendiri berdasarkan ponsel dan gadget yang dipunyainya. Seperti yang diutarakan oleh seorang kawan main Futsal saya, yang masih duduk di kelas 3 Sekolah Menengah di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Menurutnya, dalam kelas yang berisi sekitar 30 siswa, hampir sebagian besar membuat grup masing-masing berdasarkan atas merk ponsel ataupun sistem Operasinya. Ada Blackberry, Iphone, Android, Nokia, BB Lokal (Buatan Bakrie, maksudnya Ponsel yang dibundling operator CDMA) dan banyak lagi. Bahkan untuk Blackberry sendiri, terbagi dalam beberapa kelompok, juga Android pun sama, ada yang GingerBread atau terbaru Sandwitch.

Walau terkesan Hiperbolis, namun kenyataannya memang seperti itulah yang terjadi di kehidupan pelajar kita sehari-hari. Kemudahan teknologi telah merasukialam  pikirannya masing-masing, hingga tiada hari tanpa bersinggungan dengan yang namanya ponsel. Entah itu untuk mencari ilmu via Google dan Wikipedia, update status di Facebook, cuap-cuap via Twitter, ataupun mengerjakan tugas yang diberikan oleh Guru, bahkan termasuk untuk urusan menyontek.

Namun, sayangnya kemudahan teknologi tidak diimbangi dengan filterisasi yang kuat, hingga akhirnya malah membuat terlena dan menjadikan gadget sebagai penuntun mereka di kehidupan sehari-hari. Seorang kawan saya bercerita, bahwa kebanyakan dalam tas pelajar (termasuk ia sendiri) berisi Charger Ponsel, Flash Disk, CD kosong dan juga gadget lainnya.

Lalu, kemana buku mereka?

Ah, hanya untuk dijadikan kawan disaat malam, alias sebagai bantal tidur!

Entah yang dikatakan kawan saya itu benar seluruhnya atau hanya sebagian, yang pasti itulah gambaran yang terdapat di kalangan pelajar. Sebab, mereka menganggap membawa buku ke Sekolah sangat tidak efisien, selain berat juga jarang terpakai apalagi di baca. Mereka berkilah bahwa untuk segala sesuatunya mudah didapat di Mbah Google, hanya perlu memasukkan kata kunci, tinggal klik dan copy paste. Selesai.

Memang sih tidak seluruhnya seperti itu, ada juga yang tetap membawa buku pelajaran ke sekolah, tetapi hanya segelintir saja juga saat-saat tertentu seperti ketika mengetahui akan ada Sidak pada hari Senin. Bagai dua sisi mata uang, ada positif tentu tidak ketinggalan negatifnya. Begitu juga dengan teknologi canggih seperti Ponsel yang saat ini begitu dominan mempengaruhi kehidupan sehari-hari di kalangan pelajar.

Tinggal kita, sebagai bagian dari mereka untuk menambahkan filter atau memberikan suatu pemahaman tentang kegunaan dari suatu teknologi agar tidak menjerumuskan mereka.

*    *    *

Tulisan ini tidak bermaksud menggeneralisir bahwa semua pelajar seperti itu, melainkan hanya sedikit gambaran yang terjadi saat saya mencoba menanyakan kepada beberapa Kawan pelajar yang saya kenal.

*    *    *

- Djakarta, 25 Februari 2012.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: