
Dibaca: 911
Komentar: 93
4 dari 6 Kompasianer menilai aktual
Selama saya merantau di jakarta, baru pertama kali saya menemukan orang yang bicara dalam bahasa daerah yang halus ( jawa kromo ) dengan keluarganya. Ini saya temukan di angkot S 15 A saat saya hendak pergi ke tempat kawan di seputaran TMII. Saat saya masuk angkot sudah penuh, lalu seorang bapak bapak meminta anaknya supaya pindah ke pangkuan ibunya.. ” Lhe pangku biyung wae yo..? ( nak pangku ibu aja ya ) si anak menggeleng tanda tak mau lalu bapak itu berkata lagi.. ” Mase badhe lenggah lhe pangku biyung ya “ ( masnya mau duduk kamu di pangku ibu ya ) akhirnya si anak menuruti saran sang ayah. Beberapa saat kemudian di pertigaan poltangan penumpang banyak yang turun, dan tinggal saya bapak tadi serta anak istri dan dua orang saudaranya. Mereka asik mengobrol dengan anaknya tetap dalam bahasa jawa yang sangat kental kecuali waktu awal menyapa saya dan bertanya, saya mau ke mana dan asal saya dari mana. Saat tau saya dari jawa timur bapak itu mulai membuka pembicaraan dengan bahasa jawa yang halus ( kromo inggil ) saya sampai kerepotan menjawab karena sudah lama tak menggunakan bahasa jawa kromo inggil hehe.
Berkaca dari apa yang saya alami ini saja, saya yang sudah amat jarang menggunakan bahasa daerah bukan tidak mungkin suatu saat bahasa daerah, akan semakin di tinggalkan karena di kota dengan beragam etnis dan budaya tentu bahasa yang di gunakan adalah bahasa indonesia. Sedang beragam bahasa yang ada di nusantara, yang terbagi atas dua kelompok bahasa besar yakni rumpun Austronesia dan Non-Austronesia semakin terancam punah. Bahkan menurut peneliti LIPI dan Pusat Penelitian Kemasarakatan dan Kebudayaan (PMB) Drs. Abdul Rachman Patji M.A. Tinggal 10 persen saja yang akan bisa bertahan, penyebabnya bahasa-bahasa itu semakin jarang dipergunakan. Pernikahan antar etnis adalah faktor llain yang menyebabkan punahnya bahasa dfaerah karena agar komunikasi klancar tentu pasangan kan menggunakan bahasa indonesia sebagai sarana komunikasi. asaebenarnya ini bisa di cegah bila kedua orang tua mau mengajarkan masing masing bahasa sehingga sang anak akan menguasai dua bahasa daerah sekaligus. Penyebab utama kepunahan bahasa juga karena para orang tua tidak lagi mengajarkan kepada anak- anaknya dan mereka juga tidak secara aktif menggunakannya di rumah atau dalam berbagai ranah komunikasi. Misalnya orang yang pulang ke daerah dan menetap di desa tetap menggunakan bahasa indonesia bukan bahasa daerah sebagai sarana komunikasi dengan anak anaknya. Malu adalah alasan lainnya itu sering saya temui, seorang wanita yang punya anak misalnya sudah banyak yang merasa malu di panggil emak, atau simbok tapi lebih suka di panggil ibu atau mama hehe ada seorang teman saya begitu ” kok embok, mama dong ” katanya. Lalu saya berkata lagi, memang apa bedanya ? Sama saja kan ? ” kata saya waktu itu.
” Ya enggaklah ” jawab kawan saya. Sedangkan mama adalah bahasa indonesia dan simbaok, atau biyung adalah bahasa jawa setau saya. Mungkin banyak yang risih di panggil biyung attau simbok karena panggilan ibu atau mama juga menunjukkan status sosial seseorang di lingkungan tempat tinggalnya. Dulu waktu saya kecil yang memanggil ibu, atau mama hanya mereka yang merupakan anak orang berada saja. Tapi secara tak langsung juga mengurangi penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari hari di sebuah keluarga.
Nah bila sudah demikian bukan tak mungkin bila kelak bahasa daerah akan benar benar punah dan kalaupun ada hanya bahasa ngoko saja (bahasa untuk teman sebaya, teman main) sedang bahasa yang lebih halus yang di gunakan untuk orang yang lebih tua, orang yang baru di kenal akan benar benar hilang. Dan ini tidak hanya terjadi pada bahasa jawa saja tapi bisa juga pada bahasa bahasa daerah lainnya. Ironis memang ada yang belajar bahasa asing sampai ke negri sebrang tapi bahasa daerah sendiri malah gak begitu hafal, bahkan banyak yang sudah lupa. Sedang menurut Kepala Bidang Peningkatan dan Pengendalian Bahasa Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Sugiyono dari 746 bahasa daerah di Indonesia
kemungkinan akan tinggal 75 saja. Bagaimana bila kelak bahasa daerah hanya tinggal di buku buku saja tanpa pernah di gunakan lagi, lalu sedikit demi sedikit lenyap tergerus arus modernisasi ? Memprihatinkan memang karena ini sudah terjadi di lingkungan saya sendiri di mana banyak pemuda yang sudah tak peduli pada bahasa daerah warisan nenek moyang. Apalagi sebagian orang tua lebih suka mengenalkan bahasa inggris ketimbang bahasa daerah