
Dibaca: 46
Komentar: 3
Nihil
duduk di atap kereta: bertaruh nyawa/dok.pri
langit jakarta masih cerah sekitar pukul enam sore kemarin. sepertinya, zona waktu waktu di ibukota satu jam lebih lambat daripada seharusnya. mungkin langit ingin menghibur warga jakarta, yang sehari-harinya juga butuh (setidaknya) satu jam lebih lama untuk perjalanan pulang, dibandingkan saudara-saudaranya di kota lain.
meski demikian, jakarta ini konsisten. di daerah juanda, misalnya, kejadian yang sama berulang tiap pagi dan sore. di jalanan, kendaraan memenuhi setiap rongga yang tersisa. di dalam angkutan umum, orang-orang juga berdesakan. itu yang terjadi di bawah, di jalanan.
sementara itu, di atas sana, di atas rel kereta, keadaannya tak jauh berbeda: penuh sesak. dan tak cuma sesak, sebagian orang bahkan terdesak sampai ke atap kereta. ya, ada yang terdesak, ada pula yang sudah terbiasa bertaruh nyawa di sana.
penumpang di atap kereta itu mungkin kurang lebih sama dengan para pencari kerja di luar negeri. meski banyak beredar kabar ngeri, mulai dari korban penyiksaan, pemerkosaan, hingga hukuman mati, selalu ada saja yang mau pergi merajut mimpi.
demikian halnya dengan penumpang di atap kereta, tetap saja duduk di sana meski tahu bahayanya dan banyak kabar tentang sesamaya yang meregang nyawa. sama seperti perokok yang sudah mengerti bahaya merokok bagi dirinya sendiri maupun orang-orang yang ia kasihi, namun tetap saja melakukannya.
naik di atap kereta mungkin seru, namun jelas tak sepadan dengan resikonya. atau jangan-jangan, mereka tak tahu betapa berharganya hidup itu, jika dibandingkan dengan penghematan uang ataupun waktu? lupakah mereka, bahwa hidup bukan permainan, yang bisa diulang kembali jika sudah “mati”?
sore itu, kereta melaju kembali, membawa jiwa-jiwa yang tak menyadari nilai mereka sendiri. dan tak jauh dari situ, terdapat sebuah istana, tempat pemimpin bangsa bertahta. adakah kereta-kereta itu terlihat dari jendela istana? jika ya, apakah yang dilihatnya? manusia, ataukah rakyat jelata yang terwakili dalam grafik dan angka-angka?
dan di manakah pejabat yang dulu merebut simpati rakyat dengan menaiki kereta itu? adakah ia tahu apa yang hampir tiap hari terjadi? adakah ia peduli? atau jangan-jangan, ia sama saja seperti majikannya, yang hanya gemar menumpuk citra diri?