Artikel

Urban

Gibb

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

aku bersumpah bahwa aku adalah orang yang tak berguna | http://kilatpicisan.wordpress.com

Menyoal Nama-nama


OPINI | 04 January 2012 | 13:49 Dibaca: 205   Komentar: 11   2 dari 3 Kompasianer menilai bermanfaat

1325659630603783089

maaf. ilustrasinya gak nyambung. sumber gambar: superpriyo.wordpress.com

Seorang kawan, orang jawa tulen, baru melahirkan. Suaminya sudah menyiapkan nama untuk anaknya pertamanya itu. Namanya terdengar canggih ditelinga saya, mirip nama orang Eropa. Nama anak tersebut, agaknya sulit bila harus ditulis dalam aksara jawa. Kejadian tersebut membuat saya termenung-menung sesaat.

Pada suatu masa, banyak orang jawa yang menamai anaknya dengan nama depan saja, tanpa nama belakang yang menunjukkan fam, marga, ataupun klan. Sebut saja nama-nama seperti: Sukarno, Suharto, atau Boediono. Walaupun belakangan, kebiasaan seperti ini berkurang drastis. Anak-anak laki-laki Sukarno misalnya, memiliki nama belakang Sukarnoputra, sedangkan yang perempuan, Sukarnoputri.

Ada juga orang jawa yang menamai anaknya dengan nama depan ayahnya sebagai nama belakang, tanpa imbuhan apapun. Misalnya, Gusdur. Nama asli Gusdur adalah Abdurrahman Wahid, nama belakang itu terambil dari nama sang ayah yaitu Wahid Hasyim. Sementara nama ayah Wahid Hasyim sendiri adalah, Hasyim Asyari.

Menamai anak dengan memakai nama depan ayah, ditambahi dengan putra bagi yang laki-laki, atau putri bagi yang perempuan, pola penamaan seperti ini bisa dijumpai pula di negara-negara arab. Masyarakat disana menamai anaknya dengan Bin atau Binti, dengan disertai nama depan Ayahnya sebagai nama belakang si anak.

Selain di negara-negara Arab, di Eropa kebiasaan menamai anak selayaknya Bin dan Binti tersebut juga bisa ditemui. Di Islandia misalnya, masyarakat disana lazim menamai anak dengan nama depan Ayah, dengan imbuhan ‘Son’ bagi anak laki-laki, dan ‘dottir’ bagi anak perempuan.

Misalnya di Islandia sana ada orang bernama Jón Birgisson, lantas si Jón ini mempunyai anak, sebut saja namanya Steffan. Nama si anak tersebut bukanlah Steffan Birgisson, melainkan Steffan Jónsson. Misalnya si Steffan ini menikah lalu punya anak perempuan, misalnya anak itu diberi nama Björk, maka nama lengkap anak perempuannya Steffan Jónsson tersebut adalah Björk Steffansdottir. (imbuhan -son atau -dottir ini mirip bahasa inggris, Son untuk anak laki-laki, dan Daughter untuk anak perempuan)

Akan halnya nama anak kawan saya itu, namanya yang canggih tidak menunjukkan identitas keluarga atau apapun.

“Namanya unik banget?” tanya saya.

“Iya. nama depannya Gue ambil dari nama Band Metal asal Swedia” Jawab ayahnya.

“Dasar Gila!” Jawab saya sambil ngakak.

Yah, yang penting di akte kelahiran namanya tidak ditulis dengan huruf gede kecil seperti yang sering saya temui di facebook, pikir saya. Dalam kasus ini, mungkin ujaran shakespeare yang kelewat terkenal itu benar; apalah arti sebuah nama.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: