Artikel

Urban

Gibb

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

aku bersumpah bahwa aku adalah orang yang tak berguna | http://kilatpicisan.wordpress.com

Kapan Tobat, Kopaja?


HL | 29 November 2011 | 02:04 Dibaca: 626   Komentar: 22   1 dari 2 Kompasianer menilai menarik

Di Jakarta, Sehari-hari saya naik Kopaja untuk berangkat ke kantor. Kopaja, mungkin istilah tersebut salah, karena nama ini mengacu kepada PT Kopaja, padahal yang dimaksud adalah juga Metromini alias Bus Kota. Tapi sudah umum bila kata kopaja merujuk kepada angkutan umum Jakarta yang beringas, yang konon, hanya Tuhan dan sopirnya saja lah yang tahu, kapan ia akan berhenti. Ia mengerem dengan mendadak, sesuka hati. Ia gemar menyalip serampangan, seperti lupa kalau bodi nya besar. Dengan segala ketidaknyamanannya, Kopaja tetap menjadi moda transportasi yang paling sering saya gunakan. Dan saya tidak sendirian. Tarifnya yang murah adalah pilihan yang tepat bagi beberapa kalangan.

13225069511813767755

Ugal-ugalan / blognyamitra.wordpress.com

Naik kopaja tidak nyaman? tentu saja! Dan seperti layaknya kehidupan, di dalam Kopaja, segala macam ketidaknyaman itu sering hadir dalam berbagai bentuk yang tidak terduga.

Pernah suatu hari, menjelang subuh, sehabis mudik. Saya turun dari kereta di stasiun senen, lalu menuju terminal, naik Kopaja ke kos-kosan. Kopaja mulai bergerak, dan tak seberapa lama, segerombolan anak-anak kecil berambut seperti landak, naik ke kopaja yang saya tumpangi. Mereka meracau dengan suara yang cempreng, ngomongnya agak tidak jelas, tapi intinya jelas, minta uang. Yang mengganggu dari gerombolan itu adalah, aroma yang mereka tebarkan.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, om tante, berilah kami uang! Seribu dua ribu tidak akan mebuat anda miskin!” kata anak-anak itu bersahut-sahutan. Saya perhatikan, mata anak-anak itu seperti mata orang yang sedang teler. Lalu, bau itu tercium… Aih, mabuk aibon rupanya mereka. Saya yang turut serta mencium aroma itu, jadi ikut puyeng juga.

Lain hari, kawan dekat saya, sebut saja A, pernah pula mengalami hal yang kurang mengenakkan di Kopaja. Saya janjian sama A di TIM. Janjian jam tujuh, saya tunggu sampai jam sembilan si A nggak muncul-muncul juga. Ponselnya saya telpon tidak aktif. Keesokan harinya saya hubungi via facebook. Ternyata, dompet dan HP si A dicopet. Alhasil ia memutuskan untuk pulang kekosan. Tak berselang lama, Si A membeli HP baru, dan sekitar seminggu kemudian, ia kecopetan lagi. Tentu saja di Kopaja, kan lagi cerita tentang kopaja. Si A, Nasibnya buruk sekali.

Kemarin, saya juga menemukan hal tak nyaman di Kopaja. Saya nyegat Kopaja yang tidak terlalu penuh. “Asik, dapat dempat duduk!” pikir saya. Saya memang dapat tempat duduk, di bagian tengah. Sayang, tempat duduknya tidak ada sandaran punggungnya. Sesungguhnya saat itu, saya adalah sasaran empuk pencopet. Karena tanpa sandaran, dompet saya di kantong belakang tentu gampang sekali diambil. Beruntung nasib saya lebih mujur dari A. Saya tidak kecopetan. Tapi, duduk di kopaja tanpa sandaran punggung, cukup membuat pegal juga. Apalagi sopirnya ugal-ugalan. Tidak ngebut sih, tapi serampangan cara nyetirnya.

Selain hal-hal tersebut, tahukah anda, selain sebagai angkutan umum, Kopaja adalah juga mobil balap. Jalan raya menjadi arenanya. Mereka kelihatannya suka sekali mengajak kopaja lain untuk balapan. Biasanya ini terjadi pada kopaja dengan rute yang sama.

Saya tidak pernah tahu bagaimana kualifikasi seseorang bisa menjadi sopir kopaja. Adakah kriteria tertentu, adakah izin khususnya. Saya pernah bertanya pada seorang sopir, ia tidak perlu license khusus untuk narik. Demikian pula dengan para kernetnya. Sering terlihat anak-anak yang menjadi kernet kopaja. Bukankah ini pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, juga UU tentang Perburuhan dan UU tentang Ketenaga kerjaan.

Persetan dengan UU, aturan, dan rambu-rambu lalu lintas. Yang mereka tahu, dalam sehari mereka harus setor Rp. 300.000 kepada bos, dan sekitar Rp 300.000 lagi untuk ongkos bensin. Selebihnya, dibagi sama kernet. Orang-orang banyak yang tidak peduli tentang kesejahteraan mereka, sebagaimana mereka juga tidak peduli pada pengguna jalan lain yang sering jengkel dengan ulah mereka yang nyetir ugal-ugalan.

“Nggak takut diomelin pengguna jalan lain?” Saya tanya pada sopir tersebut.

“Diomelin itu biasa. Saya juga bisa ngomelin balik, kok” Jawab sopir itu santai.

“Nggak takut ditilang?” tanya saya lagi.

“Ah.. kecil!” Jawab sopir itu, lebih santai lagi, karena ia menjawab sambil nyengir lebar.

Banyak hal yang tidak menyenangkan di sebuah perjalanan dengan kopaja. Tapi para penggunanya seperti tak berdaya. Rela-rela saja ketika tiba-tiba dioper ke kopaja lain, diturunkan dengan semena-mena, kecopetan, ditodong, dan lain sebagainya. Tapi mau bagaimana lagi. Harga yang murah itu perisai. Kalau mau enak, tarifnya mahal, pakailah taksi, atau beli saja kendaraan pribadi.
Opsi membeli kendaraan pribadi saya kira bukan pilihan yang tepat. Macetnya Jakarta kurang lebih akibat dari terlalu banyak kendaraan.

Sayangnya, berita-berita tentang upaya mengurangi ketidaknyamanan angkutan umum ini belum banyak terdengar. Kabar paling mutakhir, ada angkutan umum baru, Kopaja AC, dengan sopir dan kernet yang sebagian direkrut dari bekas sopir bus kota Kopaja maupun Metromini. Sopir dan kernet tersebut dibekali dengan serangkaian tahapan trainning (pelatihan). Di antaranya, bimbingan mental untuk menanamkan aspek pelayanan optimal kepada penumpang. Untuk mengurangi nyetir ugal-ugalan demi mengejar setoran, para sopir diberi gaji bulanan.

Terdengar menjanjikan, kita tinggal tunggu saja apakah Kopaja AC ini bisa berbuat banyak..

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: