Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Pm Susbandono

Berpikir kritis, berkata jujur, bertindak praktis

Lentera

OPINI | 25 November 2011 | 01:24 Dibaca: 170   Komentar: 0   0

13221842871045665775Ini adalah sebuah lampu minyak dengan nyala api kecil. Biasanya dipakai kapal atau perahu yang cadangan listriknya pas-pasan. Juga biasa dipakai di desa atau kampung yang jauh dari pembangkit listrik. Dalam bahasa Jawa, lentera disebut teplok atau sentir. Orang Sunda menyebutnya lantera. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut lantern. Meskipun nyala apinya kecil, daya penerangannya tak bisa jauh dan sering redup, lentera masih banyak digunakan manusia. Karena nyala dari minyak tanah atau minyak kelapa, orang harus berjaga-jaga agar api kecil tadi tak segera padam. Minyak tak boleh habis dan letaknya harus dijauhkan dari hembusan angin kencang. Apabila pandai menjaga, lentera akan setia mendampingi anda sepanjang malam.

Jika anda membaca Renungan akhir Minggu (R@M) yang terbit minggu lalu, “Prihatin”, niscaya akan bingung membaca R@M saya minggu ini. Isinya mengesankan kontradiktif dan mungkin malah membingungkan. Kalau minggu lalu saya mengajak anda prihatin, maka minggu ini saya justru mengajak untuk tetap mempunyai dan memelihara optimisme. Kita harus menjaga agar lentera bangsa selalu hidup sampai pagi, bahkan bila mungkin menjadi besar dan terus membesar, sehingga lama-lama dunia kita menjadi terang-benderang. Dengan lentera orang tetap mempunyai asa dan sangat mungkin untuk survive, bahkan menjadi bangsa yang besar.

Jumat, 18 November 2011, pukul 7.07 pagi, saya menerima SMS dari sahabat saya, Prof. Yohanes Surya. Dia adalah pimpinan “Surya Institute” yang berkiprah di dunia pendidikan dan ilmu-pengetahuan generasi muda, terutama agar mampu bersaing di kancah dunia. Judul SMS : “Breaking News”. Agar anda bisa ikut bergembira dan bangga, maka saya akan mengutip seutuhnya, SMS tadi. “Pak Sus, dalam olimpiade matematika dan sains SD tingkat Asia (ASMOPS), 14-17 Nov 2011, anak Papua membuat gebrakan luar biasa dng meraih 4 medali emas, 5 perak dan 3 perunggu. Emas : Kristian Murib/Wamena, Merlin Kogoya/Tolikara, Kohoin Marandey/Sorsel, Ayu Rogi/Waropen. Perak : Syors Srefle/Sorsel, Natalisa Dori/Waropen, Nikolaus Taote/Mimika, Emon Wakerwa/Tolikara. Perunggu : Alex Wanimbo/Lanijaya, Boni Logo/Wamena, Ester Aifufu/Sorsel. Tidak ada yang tidak mungkin!!!. Yohanes Surya”.

Membaca SMS diatas, saya menarik nafas panjang, berkali-kali. Persis ketika malam sebelumnya saya mengirim artikel untuk mengajak orang prihatin, esok paginya, kontan disadarkan Prof. Surya, bahwa masih ada lentera-lentera kecil yang membara di sana-sini. Bukan tidak mungkin ia menjadi obor yang kelak menyala menerangi bangsa.

Tiba-tiba saya ingat ketika pertama kali bertemu Prof. Surya, kira-kira 3 tahun lalu di bandara A. Yani, Semarang. Begitu antusias, akrab dan ramah Prof. Surya melayani pertanyaan saya, yang baru dikenalnya, tentang program TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia), dan semangatnya menggarap Papua sebagai pilot project. Nampaknya, melalui SMS itu, Prof. Surya mau memamerkan bahwa apa yang disampaikan kepada saya sekian tahun lalu, sekarang sudah sangat dekat dengan kenyataan.

Lentera yang disumet Prof. Surya, beberapa tahun lalu, sekarang sudah berubah menjadi obor kecil. Dan masih banyak (sekali) lentera-lentera lain yang harus kita jaga nyalanya. Terang-kecil itu dapat membuat kita untuk tidak putus-asa dan terus mempunyai harapan terhadap bangsa ini, dan harus selalu diceritakan sebagai inspirator bangsa.

Kalau Prof. Surya di ranah pendidikan generasi muda, salah satu nama lain yang layak saya angkat disini adalah tokoh di dunia hiburan, dia adalah Anggun Cipta Sasmi (lahir di Jakarta, 29 April 1974). Anggun, saat ini adalah satu-satunya penyanyi Indonesia yang berhasil go international dan diakui di mancanegara sebagai diva of the world from Indonesia. Nama Anggun melambung setelah merilis lagu berjudul “Mimpi” pada tahun 1989. Pada usia 15 tahun, Anggun berhasil menggapai puncak popularitasnya sebagai penyanyi rock di Indonesia dengan meraih penghargaan “Artis Indonesia Terpopuler 1990-1991″.

Pada tahun 1994, Anggun memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan mewujudkan impiannya menjadi artis bertaraf internasional. Dengan bantuan Erick Benzi, seorang produser besar Perancis, pada tahun 1997, Anggun berhasil merilis album internasional pertamanya berjudul “Snow on the Sahara” di 33 negara di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat. Anggun juga berkolaborasi dengan banyak artis top dunia, diantaranya Julio Iglesias, Peter Gabriel, dan Pras Michel dari grup The Fugees. Saat ini, nama Anggun dikenal di dunia entertainment Eropa dan Amerika (sumber : Wikipedia).

Anggun adalah fenomena. Dia punya cita-cita dan konsisten untuk mewujudkannya, dan berhasil. Itulah ciri-ciri manusia Indonesia yang bisa menjadi lentera bahkan obor. Kepada mereka inilah sebetulnya mata dan hati bangsa harus selalu diarahkan.

Cerita berikut sebetulnya sudah berselang agak lama, sekian tahun lalu. Peristiwanya terjadi di utara Jawa Timur. Tepatnya di lautan dekat Pulau Bawean. Dua pesawat tempur Amerika F-18 diindikasi melanggar batas udara wilayah kedaulatan Indonesia. Pangkalan Udara TNI-AU Madiun memerintahkan 2 pesawat tempurnya, F-16 untuk membayang-bayangi. Pesawat pertama diawaki oleh Kapten Pnb. Fajar Adrianto dan Kapten Pnb. Ian Fuady, dengan nomor ekor TS-1603 dan call sign Falcon 1. Sementara pesawat kedua diawaki diawaki Kapten Pnb. Tonny H dan Kapten Pnb Satriyo Utomo, dengan call sign Falcon 2 dan nomor ekor TS-1602.

Melihat jenis pesawat Amerika yang masuk, dapat ditebak bahwa armada TNI-AU “kalah kelas” dibanding musuhnya. Mungkin secara teknologi, perlengkapan dan fasilitas, F-16 adalah “cucu” atau bahkan “buyut” F-18. Tetapi tidak dengan semangat joang dan keberanian para pilotnya. Kedua Falcon tetap menguntit Hornets yang memiliki peluru kendali Sidewinder yang siap ditembakkan. Istilah perangnya, telah terjadi dog fight antar kedua armada tadi, dengan Hornet berhasil mengunci Falcon.

Di atas kertas, armada Falcon bakalan keok bila melawan Hornet dalam pertempuran head to head. Tetapi, keempat penerbang Indonesia tidak kenal istilah menyerah, pantang mundur dan bahkan melawan dengan gagah-berani. Mungkin pilot-pilot F-18 juga heran, mengapa armada Falcon tidak gentar melawan mereka yang nyata-nyata jauh di atas kelas. Mereka tak rela, wilayahnya diinjak oleh orang tak diundang.

Akhirnya “perang anjing” selama tiga menit tadi berakhir, ketika mereka sama-sama menyadari bahwa tidak ada permusuhan yang harus dikeluarkan oleh keduanya. Tapi waktu yang sangat singkat tadi membuktikan bahwa perwira-perwira penerbang TNI-AU menjadi lentera bagi bangsanya. Falcon 2 melakukan gerakan rocking the wing. “Hornet, Hornet, we are Indonesian Air Force…,”. “Indonesian Air Force… we are in international waters, please stay away from our ships…,” terdengar jawaban dari salah satu pilot F-18 Hornet. Penerbang F-16 menjawab bahwa kedua Fighting Falcon sedang melakukan patroli dan akan menjauh dari iringan konvoi kapal perang Angkatan Laut AS, bila mereka tidak memasuki wilayah Nusantara. (Dikutip dari : berbagai sumber)

Tak lengkap rasanya bila saya tidak menceritakan kehebatan tim SEA Games Indonesia yang baru saja berhasil merebut predikat juara-umum. Ditengah keraguan banyak orang akan kelancaran dan kesuksesan penyelenggaraan SEA Games XXVI, kontingen Indonesia bahkan melejit dengan jumlah pengumpulan medali emas terbanyak, 181 emas. Jauh meninggalkan juara umum kedua, yang direbut oleh Thailand, yang hanya menggenggam 109 emas atau 66%-nya. Mereka adalah atlet-atlet kebanggaan bangsa yang telah membuktikan bahwa meskipun dana, fasilitas, pengurus dan perlengkapan olah-raga yang serba minimal, prestasi bisa lahir. Semata-mata karena spirit dan daya joang yang terus tinggi. Bintang utama pantas kita sematkan ke dada mereka, dan lentera kehidupan ada di jiwa mereka.

Masih (sangat) banyak kisah tentang lentera di negara ini. Kita harus sabar mengumpulkannya, memeliharanya dan memperbesar nyalanya. Kebesaran bangsa dapat dimulai dengan mengumpulkan lentera-lentera kecil tadi, meletakkannya di atas gantang, kaki-lampu, agar nyalanya semakin banyak dinikmati manusia. Meskipun dengan konteks yang agak tidak persis, saya teringat kutipan Injil Lukas, Bab 8, ayat 16, “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur. Tetapi ia akan menempatkan di atas kaki-dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya”. Menyimpan di bawah kolong dipan, membuat lentera lama-lama akan padam, karena tidak terpelihara dan dilihat orang. Dengan meletakkan di tempat yang tinggi, ia akan membanyak, membesar dan terus membesar. Ia akan menjadi obor hati manusia Indonesia dan penerang bangsa.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 7 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 10 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 12 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Nenek Ingin Sendiri …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

Menelusuri Alam Pemikiran Mahatma Gandhi …

Kukuh Fany Fatkhulo... | 7 jam lalu

Surat Terbuka Kepada Kahyang Ayu Anak …

Abest | 7 jam lalu

Ada Apa di Ternate..? …

Teberatu | 7 jam lalu

Hanya Evan Dimas, Apa Paulo Belum Pantas ? …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: