

Bagi seorang perantauan atau yang jauh dari orang tua, terutama bila masih dalam kondisi single atau bujang. Saat - saat bulan ramadhan inilah yang paling terasa. Semua begitu berbeda, dimulai dari saat sahur, berbuka dan melaksanakan sholat tarawih.
Pada saat sahur, perang batin pertama dimulai. Kondisi badan yang masih terasa mengantuk, makanan yang belum tersedia, serta apabila pada saat itu kondisi cuaca sedang hujan, maka hampir tamatlah riwayat kita untuk melakukan makan sahur. Jika bukan mengingat sahur adalah salah satu keutamaan dari rangkaian puasa dan Nabi Muhammad SAW pun menganjurkan, maka sahur pun harus dilakukan, meskipun tak jarang makan sahur dilakukan dengan menu seadanya. Namun bila sedang beruntung, tentunya bisa ikut makan dengan teman atau tetangga sebelah yang baik. Namun bila tidak, maka roti ataupun mie instan telah jadi menu yang sangat istimewa.
Kemudian ketika berbuka, tak ada yang lebih menyenangkan jika menyatap makanan secara bersama-sama. Bila sedang ada acara berbuka bersama, bahagianya bukan kepalang karena tentunya bisa makan dengan menu full bergizi dan tentunya menjadi sebuah acara yang wajib untuk didatangi. Jikalau tidak ada, berbuka bersama teman atau berbuka di masjid bisa menjadi sebuah pilihan alternatif nan positif. Selain menjaga silahturami, rasa kebersamaan dan keramaian mengusir rasa sedih dan kangen terhadap keluarga.
Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan rahmat. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari bulan yang spesial ini. Selain pahala yang di dapat, kita juga bisa belajar sabar dan lebih mencintai serta menghargai keluarga kita. Tak ada sesuatu yang lebih bermakna di dunia ini selain keluarga. Ayah, ibu, adik, dan saudara yang sempat atau tanpa sadari kita lupakan bisa kita eratkan lagi silahturaminya. Doa - doa kita bisa lebih khusyuk lagi terhadap orang tua yang kita sayangi. Dan tentunya masih banyak lagi, hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik.
“Alloh maha besar dan maha penyayang, tak ada hal terkecilpun yang luput dari karuniaNya, jika kita pandai bersyukur.”
[Telkomsel Ramadhanku]
(didedikasikan untuk teman yang senasib)
Samarinda dan Bontang, 4 Agustus 2011