
Next to power without honor, the most dangerous thing in the world is power without humor.- Eric Sevareid
Dibaca: 457
Komentar: 29
1 dari 1 Kompasianer menilai bermanfaat
Fragrant pink peonies,RebeccaPlotnick Illinois, USA
Saya ini mungkin penduduk Bandung yang paling bawel. Sedikit sedikit mengeluh soal kotanya. Kritik ini, kritik itu. Yah, biar pemkot Bandung semakin giat bekerja. Bandung ini kan PAD-nya masih di dominasi dari penerimaan hasil pajak daerah dan retribusi daerah. Dimana katanya hasil pajak itu berasal dari industri pariwisata. Nah kalau industri pariwisata yang jadi penyumbang terbesar, mbok ya benahi lah kota Bandung semaksimal mungkin. Jangan hanya mau uangnya, tapi tak ada dukungan untuk industri itu sendiri. Bagaimana caranya wisatawan bisa betah menikmati Bandung kalau soal transportasi publiknya masih jauh panggang dari api.
Ruang terbuka umumnya tidak tahu ada dimana. Saya sebagai penduduk Bandung lebih sering nongkrong di mal daripada di taman. Hayo coba kasih tahu saya, adakah taman di kota Bandung yang bisa saya pakai untuk duduk-duduk sambil baca buku atau sekedar menemani anak bermain? Ada juga di kompleks rumah saya. Fasilitas dari pengembang!. Mungkin ada sih, itu juga lebih sering dipakai buat olahraga. Buat duduk-duduk, hiiy, agak serem juga. Tamannya lebih mirip hutan. Namanya taman Lansia. Sesuai namanya, memang sering dipakai para pensiunan untuk berjalan santai atau lari-lari kecil. Fungsinya selain itu? ya tidak ada lagi. Kalau malam mungkin sering dipakai tidur para tuna wisma. Letak taman ini persis bersebelahan dengan gedung sate.
Taman itu biasanya identik dengan kembang alias bunga. Nah, julukan Bandung yang kota kembang ini sering bikin saya mengerutkan kening. Dimana sih kembang-kembang itu? sehingga Bandung dijuluki kota kembang?. Lucunya para wisatawan sering bilang begini, “pantes Bandung dijuluki kota kembang, banyak penjual bunga di malam minggu di setiap perempatan Dago (jalan terkenal di Bandung sebagai tempat nongkrong anak muda). Whalah, kota kembang ternyata hanya dikaitkan dengan penjual bunga dadakan dan hanya seminggu sekali itu. Lalu dimana kembangnya? apakah di toko bunga? atau di Cihideung sana yang memang tempat pertanian bunga?. Tak tahulah saya. Atau julukan Bandung kota kembang hanya julukan warisan turun temurun yang sebenarnya sudah tidak pantas disandang lagi sekarang.
Ada kemungkinan lain, mungkin saja kembang yang dimaksud itu bukan kembang sungguhan, alias kembang dengan makna lain. Mungkinkah kembang yang dimaksud itu adalah mojang Priangan? yang tenar seantero Indonesia itu dengan predikat baik dan buruknya? Kemungkinan ini justru lebih besar saya kira. Setelah ngubrak ngabrik buku kesayangan saya, akhirnya ketemu juga satu fakta yang menunjukkan bahwa pada mulanya gelar Bandung kota kembang memang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kembang atau bunga dalam arti sebenarnya!
Tatkala pertama kali orang menghubung-hubungkan “kembang” dengan Bandung, rasanya di kota ini baru ada satu taman bunga. Jadi pertanyaannya balik lagi, tunjukan dong dimana kembangnya. Masa hanya karena punya satu taman bunga saja berani memikul julukan Bandung kota kembang alias bloemen stad?. Layak disimak juga novel karya Remy Sylado yang berjudul “Parisj van Java, Darah, Keringat, Airmata”. Dia berusaha menunjukan makna yang tersembunyi dari julukan Bandung kota kembang itu. Dalam novel tersebut, dengan latar belakang Hindia-Belanda, khususnya Bandung 1920-an, sepasang kekasih berjuang melawan sekelompok orang yang menjebak mereka dalam dunia -maaf- persundalan (kata ini asli dikutip dari bukunya).
Dalam buku karya kuncen Bandung, Haryoto Kunto, dia juga menyinggung soal ini namun tak berani dijabarkan dengan jelas olehnya. Pada akhir abad ke 19, tepatnya tahun 1896, kampung Bandung (saat itu belum pantas disebut kota) mendadak dapat kehormatan Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula (Bestuur van de Vereniging van Suiker Planters) yang berkedudukan di Surabaya, telah memilih kampung Bandung, buat tempat menyelenggaraan kongresnya yang pertama. “Kota” Bandung kelewat miskin dan sederhana buat memikul tanggung jawab sebagai pemyelenggara kongres. Bahkan pada masa itu orang-orang Belanda luar kota, sering menyebut Bandung sebagai Kottatje (kota mungil). Akibat kurang komplitnya fasilitas “kota” Bandung maka orang yang paling pah poh, montang manting senewen adalah Meneer Jacob dari Panitia Kongres Seksi Sibuk.
“Bagaimana sih caranya, agar Kongres mencapai sukses?” begitu persoalan teknis yang berkecamuk di otak tuan Jacob. Untunglah datang dewa penolong. Dia adalah Meneer Schenk, seorang pendahulu Preanger Planters ( Tuan perkebunan/onderneming) di Priangan yang terkenal royal. Buat memeriahkan dan mensukseskan kongres, diboyongnya segudang Noni cantik Indo Belanda anak jadul dari Perkebunan Pasirmalang, buat menghibur peserta kongres. Maka bisa diramalkan dengan segera bahwa penyelenggaraan kongres menjadi ‘beres’ dan ’sukses besaaaaar’. Memang buat para Pengusaha Perkebunan Gula yang kebanyakan datang dari kota-kota Jawa Tengah dan Jawa Timur, berkongres di Bandung, benar-benar merasa “lekker kost zonder ongkos”!
Nah lewat mulut para peserta kongres inilah, Bandung disebut sebagai “De Bloem der Indische Bergsteden” (bunganya kota pegunungan di Hindia Belanda). Masih belum jelas apakah “Bloem” (bunga/kembang) yang diucapkan oleh para Pengusaha Perkebunan Gula ini, ditujukan kepada kota Bandung, ataukah gelar tersebut “persembahan” buat Noniek Noniek Geulis Indo Belanda dari Onderneming Pasirmalang? Entahlah cuma sejarah jualah yang lebih tahu. (Haryoto Kunto: Wajah bandoeng Tempo Doeloe)
Jadi kalau begitu, saya harusnya tidaklah patut heran menanyakan dimana kembang-kembang di kota Bandung, yang ternyata dari jaman dulu juga menjadi pertanyaan begitu banyak warga kota. Mungkin kalau saya tanyakan kepada si Encep supir angkot, “Dimanakah kembang di kota Bandung?” jawabannya pasti keluar santai saja, “Ada. Di vas bunga di rumah saya”.
Tety Kadi pernah menyanyikan lagu, begini syairnya:
Kota kembang yang selalu sangat kurindukan
Disana aku dilahirkan, diasuh ayah bunda
Tiada pernah aku lupakan hingga dewasa
Kalau menurut orang Sunda, “henteu bukti henteu nyata, eta bohong ngarana” (tidak ada bukti, tidak nyata, itu bohong namanya). Bandung kota kembang, kata siapa?
Kutipan:
Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe
Remy Sylado, Parisj van Java, Darah, Keringat, Airmata.