Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Santi Diwyarthi

a wife, a mother, a worker....

Banten Prayascita, Mebersih, Melukat, dan Bersiap Menjelang Galungan.

REP | 09 July 2011 | 08:50    Dibaca: 2218   Komentar: 0   0

13102014241776681364

Adalah Redite Paing Dunggulan, hari Minggu 3 Juli 2011, tiga hari menjelang Galungan. Biasanya simbok sudah pulang sejak hari Minggu. Namun karena kami merencanakan untuk melakukan tirta yatra pada hari Senin, maka kuminta dia bertahan dahulu di Denpasar. Ya, walaupun dia terhitung masih cucu jauh dari pihak suamiku, namun kuperlakukan dia bak anak kandung sendiri. Kusekolahkan, kuajak jalan2 bersama, dan melewati banyak kegiatan bersama pula.

Dan di hari Minggu ini, sudah kupersiapkan dua buah banten prayascita. Satu untuk pebersihan, melukat, mekalah-kalah an, setelah ada paman yang meninggal di kampung Asah Badung. Bape Lantas, adik dari mertuaku, meninggal tiga minggu lalu. Sebagai pertanda, perlambang atau simbol, bahwa keluarga kami telah siap menyambut hari raya Galungan, hari yang dianggap sebagai simbol kemenangan Dharma dalam perjuangan menaklukan segala bentuk dan makna berbagai hal / perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama Hindu. Satu banten prayascita lagi bagi sebuah kamar perpustakaan yang baru selesai dikerjakan oleh suamiku. Sebagai pertanda bahwa pekerjaan membuat bangunan baru, walau hanya sebatas kamar kecil, permohonan kami direstui oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sehabis mandi sore hari, kami sekeluarga berkumpul bersama, bersembahyang dengan suami sebagai imam, pembimbing, penuntun dalam upacara persembahyangan sederhana. Kuhaturkan pejati di Padmasana rumah kami. Banten prayascita tergelar di halaman. Dupa harum menyebarkan aroma, menyeruak udara segar sore hari. Doa Puja Trisandhya dilantunkan oleh suami dan kedua anakku. Kemudian panca sembah. Hmmm, lantunan suara khas dari ketiga pria dalam hidupku menembus hingga ke sekeliling kami, menghantarkan segala puja dan puji memohon anugerah dan perlindungan Hyang Widhi. Hanya dengan doa sederhana, dengan banten sederhana pula, yang bisa kuhaturkan, kuharap berkah ini akan selalu berlimpah bagi kami sekeluarga, juga bagi tiap umat manusia di dunia……

13102012442094918885

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sudut Perempuan Dalam Iklan Rokok …

Bai Ruindra | | 25 May 2015 | 15:54

Suksesnya Pagelaran Malang Youth Day 2015 …

Mbah Ukik | | 25 May 2015 | 18:28

[Nangkring] Bedah Copa América 2015 Bersama …

Kompasiana | | 25 May 2015 | 18:23

Menjaring Ide ala Cita Citata, Deep Purple …

Rumahkayu | | 25 May 2015 | 18:59

[Blog Competition] Selfie Moment …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 17:04


TRENDING ARTICLES

Meluruskan Opini Publik yang Keliru: Wakil …

Himam Miladi | 9 jam lalu

Wibawa Bupati Subang Ojang Sohandi, Jeblok! …

Jadiah Upati | 11 jam lalu

Saat Timnas Menanti Deadline FIFA, Thailand …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu

Terobsesi Menulis Hingga Lupa Anak Istri …

Tjiptadinata Effend... | 21 jam lalu

Wacana Menristek Opsionalkan Skripsi, Kabar …

Liafit Nadia Yuniar | 22 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: