Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Santi Diwyarthi

a wife, a mother, a worker....

Banten Prayascita, Mebersih, Melukat, dan Bersiap Menjelang Galungan.

REP | 09 July 2011 | 08:50 Dibaca: 1890   Komentar: 0   0

13102014241776681364

Adalah Redite Paing Dunggulan, hari Minggu 3 Juli 2011, tiga hari menjelang Galungan. Biasanya simbok sudah pulang sejak hari Minggu. Namun karena kami merencanakan untuk melakukan tirta yatra pada hari Senin, maka kuminta dia bertahan dahulu di Denpasar. Ya, walaupun dia terhitung masih cucu jauh dari pihak suamiku, namun kuperlakukan dia bak anak kandung sendiri. Kusekolahkan, kuajak jalan2 bersama, dan melewati banyak kegiatan bersama pula.

Dan di hari Minggu ini, sudah kupersiapkan dua buah banten prayascita. Satu untuk pebersihan, melukat, mekalah-kalah an, setelah ada paman yang meninggal di kampung Asah Badung. Bape Lantas, adik dari mertuaku, meninggal tiga minggu lalu. Sebagai pertanda, perlambang atau simbol, bahwa keluarga kami telah siap menyambut hari raya Galungan, hari yang dianggap sebagai simbol kemenangan Dharma dalam perjuangan menaklukan segala bentuk dan makna berbagai hal / perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama Hindu. Satu banten prayascita lagi bagi sebuah kamar perpustakaan yang baru selesai dikerjakan oleh suamiku. Sebagai pertanda bahwa pekerjaan membuat bangunan baru, walau hanya sebatas kamar kecil, permohonan kami direstui oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sehabis mandi sore hari, kami sekeluarga berkumpul bersama, bersembahyang dengan suami sebagai imam, pembimbing, penuntun dalam upacara persembahyangan sederhana. Kuhaturkan pejati di Padmasana rumah kami. Banten prayascita tergelar di halaman. Dupa harum menyebarkan aroma, menyeruak udara segar sore hari. Doa Puja Trisandhya dilantunkan oleh suami dan kedua anakku. Kemudian panca sembah. Hmmm, lantunan suara khas dari ketiga pria dalam hidupku menembus hingga ke sekeliling kami, menghantarkan segala puja dan puji memohon anugerah dan perlindungan Hyang Widhi. Hanya dengan doa sederhana, dengan banten sederhana pula, yang bisa kuhaturkan, kuharap berkah ini akan selalu berlimpah bagi kami sekeluarga, juga bagi tiap umat manusia di dunia……

13102012442094918885

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Revolusi dari Desa di Perbatasan …

Pepih Nugraha | | 23 October 2014 | 12:52

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | | 23 October 2014 | 09:45

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Pertolongan Kecelakaan yang Tepat …

M. Fachreza Ardiant... | | 23 October 2014 | 10:23

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 7 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 9 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 9 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Cerpenku : Setrika Antik Ibu Mertuaku …

Dewi Sumardi | 8 jam lalu

Menemanimu Diruang Persalinan …

Toras Lubis | 8 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 8 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 8 jam lalu

Menunggu Hasil Seleksi Dirut PDAM Kota …

Panji Kusuma | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: