Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Eva Basuno

I am who I am, deal with it!

Perkenalkan, saya pengendara sepeda motor yang “bingung”!

OPINI | 11 May 2011 | 17:32 Dibaca: 118   Komentar: 0   0

13051347651282359855

Motor Berlipstik (baca: pelat merah) Saya

Perkenalkan, saya adalah seorang pengendara sepeda motor! Apakah saya ugal-ugalan? Rasanya tidak. Saya tidak pernah mengendarai motor lebih dari 80 km/jam. Itu kecepatan yang wajar bukan? Saya selalu menggunakan helm SNI, dan saya taati rambu-rambu yang ada. Berapa kali saya menabrak? tidak pernah. Berapa kali saya ditabrak? tiga kali. Berapa kali saya terpeleset hingga jatuh? dua kali. Berapa kali saya mendapat caci-maki sumpah-serapah dari pengguna jalan? ratusan kali. Atau mungkin ribuan kali. Saya tidak tahu. Belum genap dua tahun saya menjadi pengendara sepeda motor, itulah statistik yang sudah saya sandang.

Awalnya saya orang yang anti-sepeda motor. Entah sudah berapa kali saya menyaksikan secara langsung kecelakaan sepeda motor di jalan. Belum lagi para korban yang berjatuhan yang harus saya tangani di rumah sakit. Mulai dari korban yang hanya menderita luka lecet, hingga sekali waktu saya harus melakukan otopsi terhadap korban yang sudah tak bernyawa. Semua itu membuat saya “kenyang” dan enggan menggunakan kendaraan penyumbang angka kecelakaan tertinggi di Indonesia itu. Bahkan ketika adik laki-laki saya memutuskan untuk membeli sebuah sepeda motor, saya menentangnya mati-matian.

Tapi apa boleh dikata. Nasib pun mengharuskan saya menjilat air ludah saya sendiri. Saat saya harus mengabdi ke pelosok Indonesia nun jauh di sana, saya hanya dibekali satu alat transportasi oleh pemerintah, motor dinas. Perhatikan baik-baik foto yang saya upload! Itu motor dinas saya. Sederhana, tapi bisa diandalkan. Tidak pernah mogok meskipun, berdasarkan pengakuan pendahulu saya, tidak pernah diservis. Entah doa apa yang menyertainya, motor itu pun selalu kokoh dan sigap membawa saya ke mana pun, melintasi bukit, hutan, hingga sungai berbatu.

Seminggu penuh saya berlatih mengendarai sepeda motor, mulai dari mengelilingi halaman Puskesmas, hingga kota kecil tempat saya bertugas. Waktu itu saya rasanya senang sekali, karena saya bisa ke mana saja sesuka hati saya tanpa bergantung pada orang lain. Sebelumnya saya harus menunggu cidomo (kereta kuda) cukup lama untuk pergi ke kota, atau jika jiwa feodal saya sedang kambuh, saya akan “menyuruh” salah seorang petugas Puskesmas untuk mengantarkan saya ke kota.

Semasa saya bertugas, rasanya nyaman-nyaman saja bersepeda motor. Jalan raya di sana hampir tidak pernah ada kendaraan yang melintas. Macet? Hanya sekali saja saya pernah merasakan macet, yaitu saat Bupati menggelar konser si Raja Dangdut H Rhoma Irama di kota.

“Kebingungan” saya mulai terjadi saat saya mempraktekan “ilmu” berkendara sepeda motor yang saya dapat di Jakarta. Kebingungan pertama terjadi saat saya ikut “mengantri” di belakang mobil saat lampu merah. Tak henti-hentinya saya diklakson mobil di belakang saya.

Tadinya saya berpikir, “Lho? Apa salah saya? Saya kan ikut mengantri?”

Si supir yang mengklakson berteriak-teriak dan menunjuk-nunjuk ke kiri. “Ooo… mungkin antrian motor ada di sebelah kiri,” pikir saya. Saya pun masuk ke celah kecil antara trotoar dan mobil di depan saya.

Mobil di belakang saya pun maju dan si supir meneriakkan sesuatu, mungkin makian, saya tidak tahu. Saat itu pikiran saya sedang memproses suatu input baru, “Oke, berarti jalur motor ada di sebelah kiri. Kok, tidak ada tulisannya ya?”. Sejak saat itu, saya pun selalu berkendara di sebelah kiri.

Suatu waktu, “kebingungan” lain terjadi. Karena lajur kiri kosong, saya pun melaju dengan kencang mendahului mobil di sebelah kanan saya. Tiba-tiba saya diklakson oleh si pengendara mobil.

Sambil menatap garang ke arah saya, si supir berteriak, “Woy, g*bl*k! Nyalip jangan dari kiri!”.

Lha? Motor bukannya harusnya memang di kiri? Saya kan tidak melanggar jalur mobil itu. Bingung saya!

Dan kebingungan saya semakin bertambah saat saya mencoba mendahului sebuah mobil dari sebelah kanan dan diteriaki, “M*nyet! Ni ngapain motor ngambil jalur kanan!”

Mana yang bener siiihhh??? Apa sepeda motor memang tidak boleh mendahului kendaraan lain, baik dari kiri maupun dari kanan? Mana tulisannya? Gambar apa rambu-rambunya?

Itu baru urusan saya dengan pengendara mobil, belum dengan sesama pengendara sepeda motor. Saat saya berhenti di belakang garis di lampu merah, motor-motor lainnya mengklakson saya dan menyuruh saya maju, padahal lampu masih merah. Ternyata mereka semua maju untuk bersiap-siap hingga menutupi salah satu jalur yang memang saat itu juga sedang merah. Tapi kan? Tapi kan? Tapi kan? Saya menghargai logika mereka (bahwa mereka tidak menghalangi siapa-siapa karena jalur tersebut juga sedang merah), hanya saja, sederhana saja, LAMPUNYA MASIH MERAH!!! Ah, pusing saya!

Masih banyak hal-hal lain yang “membingungkan” saya. Misalnya, saya diklakson dan dicaci oleh pengendara motor yang melawan arus (siapa sih yang salah?). Atau disemprot makian oleh penyeberang jalan yang tiba-tiba muncul di tengah jalan yang bukan tempat menyeberang (perlu diketahui, hanya sedikit pengendara motor yang bisa mempertahankan keseimbangan saat harus mengerem mendadak). Dan hal membingungkan lainnya yang membuat saya semakin enggan mengendarai sepeda motor di ibukota tercinta ini.

Saat ini, saya lebih senang naik bis. Walau harus menempuh waktu perjalanan yang lebih lama, tapi paling tidak saya bisa tidur dengan tenang dan menyerahkan seluruh kesemrawutan lalu lintas kota Jakarta kepada bapak supir dan asistennya.

Perkenalkan, saya pengendara sepeda motor yang “bingung”! Dan kini telah beralih menjadi pengguna jasa angkutan umum. Ada yang mau mengikuti jejak saya? :)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Warga Kupang Anti-McDonald …

Yusran Darmawan | | 29 August 2014 | 06:43

Pak Jokowi, Saya Setuju Cabut Subsidi BBM …

Amy Lubizz | | 28 August 2014 | 23:37

Jatah Kursi Parlemen untuk Jurnalis Senior …

Hendrik Riyanto | | 29 August 2014 | 04:36

Jangan Mengira “Lucy” sebagai Film …

Andre Jayaprana | | 28 August 2014 | 22:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Mafia Migas dibalik Isyu BBM …

Hendra Budiman | 9 jam lalu

Pelecehan Seksual pun Terjadi Pada Pria di …

Nyayu Fatimah Zahro... | 15 jam lalu

Jokowi dan “Jebakan Batman” SBY …

Mania Telo | 16 jam lalu

Kota Jogja Terhina Gara-gara Florence …

Iswanto Junior | 18 jam lalu

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 22 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: