Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Arrayanov

sekarang ini sedang suka jadi pemerhati yang hidup-hidup :D

Sex Ala Tantra

OPINI | 15 April 2011 | 18:49 Dibaca: 1819   Komentar: 69   9

Tantra, seringkali disejajarkan dengan pemahaman tentang SEX, bahkan tidak tanggung-tanggung, orang Barat menjadikannya sebagai sinonim dari SEX YANG TAK TERKENDALI.. Jaman dulu kira-kira 6000 SM, ritual tarian, wewangian, dan musik erotis, makanan dan minuman yang bisa membangkitkan gairah sangat dipercaya bisa memanggil Dewa-Dewi, lalu cara mereka menghadirkan Dewa-Dewi itu lah yang ditinjau ulang sebagai sex yang tak terkendali, karena saat musik, wewangian dan tarian mencapai klimaks, orang-orang yang menghadiri ritual itu masuk kedalam area ‘trance’, berpuluh-puluh pasangan perempuan dan laki-laki melakukan orgy party di arena terbuka sebagai puncak acara ritual tersebut, dan kala puluhan pasangan itu mencapai orgasme yang sangat kuat, itulah tanda bagi mereka bahwa pintu Ilahi sudah terbuka, dan mereka siap menerima anugerah dari Dewa dan Dewi yang  berhasil mereka puaskan dengan persembahan ritual orgy party tersebut.



Salah kaprah! Tantra bukanlah ritual orgy party, justru Tantra adalah simbol pemberontakan dari ritual kuno tersebut. Tantra meluruskan pemahaman yang sudah sangat kuno dan tidak lagi cocok diterapkan dalam kehidupan masyarakat yang mengenal arti Ketuhanan. Dalam ajaran Hindu, Tantra dijadikan simbol dan pilosofi yang mengakar pada kebijakan pemujaan terhadap Dewa Shiwa dan Dewi Shakti sebagai penyatuan dua kekuatan yang akan menghasilkan energi yang sangat luar biasa (kundalini).


Kata Tantra berasal dari ‘perwujudan’, memperluas, penyatuan, dan merajut/menenun. Dalam konteks ini SEX adalah perwujudan, penyatuan dari polaritas laki-laki (dewa shiwa) dan polaritas perempuan (dewi shakti) menjadikan kesatuan yang harmonis.

Sementara dalam ajaran Budha, Tantra mengacu lebih pada kesejatian diri, energy yang ada pada manusia yang dilambangkan sebagai Yin-Yang, adalah kekuatan yang luar biasa untuk meningkatkan mutu spiritualisme dan terbukanya pintu-pintu Ilahiah sebagai lambang pencerahan.
Dalam konteks sex, tidak perlu perwujudan dewa dan dewi untuk mewujudkan penyatuan energi yin-yang, karena manusia terlahir dengan energi yang bersifat feminin dan maskulin tersebut. Hanya perlu latihan teknik dan pengembangan wawasan tentang polaritas energy dan mempraktekannya dalam keseharian. Dan perwujudan Sex menjadikannya ada di area art, seni mengendalikan gairah dan kekuatan untuk mencapai harmony.


Adapun nilai positif yang masih diadopsi dalam praktek Tantra dewasa ini lebih cenderung pada SEX EDUCATION, teori dan praktek yang sangat pribadi bisa diterapkan secara tertutup, menyangkut kerjasama pasangan, usaha-usaha yang dilakukan, baik dari dalam diri maupun dari diri sendiri.


Pasangan tidak perlu mengadopsi dewa dan dewi dalam keadaan ‘trance’, justru sex menjadi suatu yang sehat dan indah bila dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab penuh. Energi yang dihasilkan dari hubungan sex sangat menyehatkan, teknik-teknik dalam Tantra, seperti pemijatan, musik, wewangian (aroma terapi), saling membelai, saling memberi pujian, sampai dengan syair dan puisi bisa membangkitkan energi yang luar biasa untuk mendapatkan orgasme yang dahsyat.


Puisi dan syair? agak mengejutkan bukan? Ada sebagian orang yang tidak mudah dibangkitkan libidonya bila hanya dengan pemijatan, mendengar musik, belaian, atau ciuman di area-area erotis mereka, tapi justru ketika membaca puisi yang berbau sasrta libidonya terbangkit seketika. Ini disebabkan oleh keindahan yang berhasil mereka tangkap benar-benar menyentuh imajinasi mereka, dimana mereka menyembunyikan titik erotis mereka.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 12 jam lalu

Haru Biru di Kompasianival 2014 …

Fey Down | 17 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 20 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 22 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51


HIGHLIGHT

Aku Muak!!! [Lisal] …

Singgih Swasono | 10 jam lalu

Kalau di Tokyo Berada di Stasiun yang Salah …

Andre Jayaprana | 10 jam lalu

High Lifestyle, Low Happiness …

Azzahra Khairunnisa | 10 jam lalu

Is It Date? di Rumah Sakit? …

Irma Sri Nurwati Ut... | 10 jam lalu

Uang Penglaris …

Isti | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: