Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Santi Diwyarthi

a wife, a mother, a worker....

Ulang Tahun ke-42

OPINI | 09 April 2011 | 00:04 Dibaca: 64   Komentar: 3   0

Se umur-umur, ga pernah merayakan hari ulang tahunku. Kuanggap, tiap hari adalah sama biasa saja. Atau, tiap hari dalam hidupku, sungguh sangat istimewa, yang harus dijalani dengan sepenuh semangat.

Terjaga di pagi hari, Selasa, 5 April 1969, aku mencuci baju kotor sekeluarga, seperti biasanya. Jangan bayangkan keluarga kami memiliki mesin cuci. Maka, dua ember baju kotor, kucuci secara manual, lanjut dengan menjemurnya di halaman mungil kami. Simbok bersiap memulai aktivitas pagi hari dengan memasak. Suami dan si bungsu asyik di halaman belakang. Putra bungsuku sedang libur sekolah kelas 3 SD, karena murid kelas 6 sedang menempuh pemantapan Ujian Akhir Nasional di sekolah. Dan kini, dia bersama ayahnya sedang bergotong royong membangun perpustakaan mini bagi ribuan buku koleksi keluarga. Putra sulungku sudah berangkat sekolah di SMAN I Denpasar.

Aku segera meluncur ke kampus Pascasarjana Universitas Udayana. Hari ini mahasiswa Program Doktoral Program Studi Kajian Budaya akan mengikuti 2 mata kuliah. Pertama adalah Dr. Wiasti dengan mata kuliah Kapita Selekta Kajian Budaya. Berikutnya, Prof. Sirtha memberikan kuliah Kapita Selekta Ekonomi dan Industri Indonesia. Hmmm, ternyata kuliah baru berakhir pukul 1 siang. Rasa lelah yang melanda tidak sanggup menghentikan langkahku untuk beranjak mengarahkan laju motor astrea 800 menuju kampus STPNDB. Beberapa murid menanti untuk selesaikan proses bimbingan skripsi. Bu Juli yang cantik, bos ku di Pusat Pengendalian Mutu juga menanti untuk menyelesaikan program kami, selenggarakan seminar internal bagi para dosen hari Jum’at nanti. Hujan rintik-rintik yang jatuh turun ke bumi menjadi temanku sepanjang perjalanan menuju ke Nusa Dua. Ah Tuhan, tetap terimakasih atas berkah yang kudapatkan ini…..

Akhirnya, pukul 5 sore, tuntas sudah segala urusan di kampus. Sepatu basah hingga kering kembali di kakiku membuat kakiku menjadi mengkerut keriput. Namun kini aku bisa pulang temui keluarga tercinta. Home sweet home again….

Tiba di rumah, kutemui anak2 dan suami sedang berkumpul. Kami bertukar cerita sejenak, lalu kulanjutkan mandi, dan mencuci baju kotor seluruh anggota keluarga. Setelah mencakupkan tangan dan melantunkan puja bagi Ida Sang Hyang Widhi Wasa di Padma rumah kami, aku mencoba merebahkan tubuh lelah ini. Simbok pergi ber sekolah. Ya, dia mengikuti program paket Kelompok Belajar bagi kesetaraan dengan SMA.

Lalu kemudian para puteraku, Adi dan Yudha, pamit untuk keluar sebentar. “Akan mengambil baju di tempat teman”, begitu kata mereka. Suami pamit untuk beli pulsa. Sedang aku asyik melanjutkan menonton teve. Berita Nasional dan Internasional.

Hmmm…… setelah 30 menit, mereka tiba hampir bersamaan. Para puteraku tiba dengan membawa kue tar cokelat.  Ada tulisan, dari Adi, Yudha, dan bapak. Diatasnya tertera dua buah lilin nyala, bertulis angka 42. Suamiku membawa nasi campur bungkus untuk dinikmati bersama. Seikat bunga titipan dari yayanknya Adi juga kuterima. Tuhan…. aku tertunduk terharu.

Selesai??? Belum!!!!
lalu kemudian, mereka bertiga memintaku menutup mata dengan kain selendang yang panjang. Mendorong perlahan tubuhku ke halaman rumah kami, dan menyiram tepung putih ke sekujur tubuh, bahkan kepala. Wooowww….. Bahkan, kami lanjutkan dengan saling perang tepung terigu itu, saling lempar, saling kejar satu sama lain.  Wajah menjadi putih, baju juga memutih, dedaunan ikut tersiram tepung putih.

Malam ditutup dengan mandi lagi, dingin karena guyuran air, dan harus keramas kembali. Namun, satu hari lagi kami lewati dengan kebersamaan. Tidak janji, hidup bakal selalu indah dan mudah….. Tapi semoga mampu membuat kami menjadi pribadi yang semakin dewasa dan bijak dari hari ke hari.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Survivor Lapindo Mulai Tenggelam …

Teguh Hariawan | | 22 September 2014 | 21:21

Daya Tarik Kota Emas Prag, Ditinggalkan …

Cahayahati (acjp) | | 23 September 2014 | 04:08

Beginilah Antusiasme para Warga Belajar …

Pkbm Al-fath | | 22 September 2014 | 23:52

Ketika Animasi Tom & Jerry Ditegur KPI, …

Sahroha Lumbanraja | | 23 September 2014 | 00:24

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 1 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 6 jam lalu

Ramping Itu Artinya Wamen dan Staff Ahli …

Den Bhaghoese | 9 jam lalu

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Tak Serenyah Makan Krupuk …

Sulis Voyager | 7 jam lalu

Konflik Perkalian PR SD, Bukti Pendidikan …

Muhammad | 7 jam lalu

Profesionalisme Guru Indonesia …

Huda Ahmadi | 7 jam lalu

Perang Mulut di Talkshow TV (Mestinya) Cuma …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

Menghaturkan Tanya …

Anis Fuadah Zuhri | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: