Artikel

Urban

Emte

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

the witness, saksi mata. berpikir dengan mata telanjang. dipandu dengan kesadaran. karena itu never block blogs, because in the country of the blind, the one-eyed man is king. kesaksian adalah testimoni akhir yang perlu didengar. agar kita bijak menekuri realitas. belajar dari kesalahan masa lalu. walau kesaksian tidak selalu benar dalam perspektifnya. kata para bijak, "those who can not remember the past are condemned to repeat it!". - salam twitter@emteaedhir -

Showcase Milly Patti: Kekerasan Kaum Hawa


OPINI | 29 March 2011 | 18:02 Dibaca: 124   Komentar: 0   Nihil

1301392429790264692gila juga, milly patti bunuh puterinya, agnes kharisma. tidak pernah terbayangkan. tetapi tidak juga menjadi sesuatu yang mustahil terjadi. adrianus meliala, psikolog asal universitas indonesia menyitir milly punya persoalan kejiwaan. masalah psikotik atau psikosis. keterbelahan jiwa. pelaku memiliki kesadaran pada periode tertentu. di saat lain, dihinggapi ketidaksadaran. sehingga bukan soal neurotik lagi, ujar adrianus.

bukan mencoba lebih ahli dari psikolog adrianus meliala. jika kita membelah kasus milly patti dengan analisa psikosis seperti itu, terdapat kemungkinan pelaku bebas karena alasan mengalami “kegilaan”. kondisi itu mengecualikannya dari jeratan hukum. padahal, bila mengikuti runtut kasusnya, milly patti mengorganisir kejahatan paling tragis itu dengan sangat rapi. alasannya banyak seperti; pilihan timing kejahatan, lokus (tempat eksekusi di rumah kontrak), keterlibatan pelaku lain (ada aspek persuasi yang tentunya membutuhkan argumentasi), pembiayaan (dua juta rupiah disiapkan pelaku untuk menyewa dua eksekutor), exit strategy (membuang mayat korban di lokasi lain). parameter kesadaran pelaku ini belum menyentuh aspek perencanaan kejahatan dan lain-lain yang sudah pasti memerlukan rasio ataupun penalaran logis suatu tindakan. jadi tidak ada celah bagi pelaku (atau pembela hukumnya kelak) untuk menyiapkan pembelaan hukum yang menggunakan argumentasi “ketidaksadaran”.

kejahatan milly patti hanyalah bagian kecil dari warna kekerasan keluarga di kalangan urban. tekanan hidup dan tuntutan materil memburu komunitas urban ke manapun bersembunyi. kita berlomba dengan gengsi dan tuntutan hedonisme. ketika semua itu membuat kita terkunci dan terkucil karena “ketidakmampuan” memenuhi seluruh tuntutan tersebut, sebagian besar menjadi kehilangan akal sehat. tetapi bukan berarti menjadi “gila” karena absensi kesadaran.

satu lagi, kekerasan yang dilakukan milly patti yang nota bene seorang ibu dan wanita bukanlah segmen baru kejahatan di kalangan wanita. media tidak boleh terjebak pada pemberitaan yang menonjolkan narasi gender dalam meliput peristiwa ironis tersebut. kejahatan tidak mengenal batas gender. bisa dilakukan siapa saja. usia juga bukan masalah. dalam urban legend, kejahatan bisa dimulai dari celah yang tidak pernah kita perkirakan sekalipun sebelumnya. tak terkecuali wanita atau seorang ibu yang dikenal dengan sentimen kasih sayangnya.

pakar komunikasi hillary neroni dalam bukunya, the violent woman, sudah harus bergulat mengoreksi kecenderungan sinematik amerika yang bergulat menyajikan narasi kekerasan yang dilakukan kalangan wanita. sinema kontemporer amerika menonjolkayn feminitas sebagai salah satu subjek kekerasan utama seperti tercermin dalam film-film natural born killers, the long kiss goodnight, thelma and louise, fargo, dan banyak lagi warna film lainnya.

mengapa demikian?. karena menurut hillary neroni, masyarakat kita sangat fascinanting jika kekerasan itu dilakukan kaum wanita. neroni menuduh ada ideology machines di kalangan basis gender yang mencoba mengintegrasikan kecenderungan violent woman ke dalam narasi urban yang lebih terstruktur. jika perspektif ini dipakai di indonesia, hasilnya juga sama. coba perhatikan narasi film-film nasional kita. genre horor dunia sinematik indonesia hampir 100% menyajikan gambaran kekerasan dilakukan wanita sebagai subjek. walau kadang awalnya, wanita sebagai korban (misalnya, korban pemerkosaan yang kemudian arwahnya membunuh satu persatu para pelakunya seperti arwah jamu gendong). dunia sinetron nasional juga sami mawon. dan publik indonesia sangat gandrung dengan semua kecenderungan tersebut.

mangka-nya, jangan heran hari ini kita disajikan kekerasan oleh milly patti, besoknya kita terima selly si cantik sang penipu di facebook. belum lesehan dikit habis baca pos kota, kita kembali menerima berita, oknum md wanita jelita berada di balik penggelapan milyaran rupiah di city bank. kita tidak berharap bahwa rentetan peristiwa kriminal tersebut semakin mengukuhkan narasi urban bahwa wanita sekarang begitu mudah terjebak dalam siklus kekerasan dan kriminal. saya sih tidak berharap kejahatan akan hilang, karena itu sudah kodrat kehidupan manusia. kekerasan atau kejahatan akan selalu beriring dengan kebaikan. itu soal pilihan hidup. saya hanya berharap, jangan sampai wanita semakin banyak melakukan kejahatan melebihi gender lainnya sehingga malah semakin memperkuat narasi urban legend yang lebih terstruktur tentang kekerasan kaum hawa (the violent women). (twitter:@emteaedhir).

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: