Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Khurniawan

aku tahu ku takkan bisa, menjadi spt yg engkau minta

Nasi Bungkus Buat Para Supir Truk

REP | 04 March 2011 | 18:15 Dibaca: 257   Komentar: 3   1

Macet 17 km selama berhari-hari, kebayang kan kesulitan mereka

Betapa mulia hati ibu-ibu warga perumahan Puri Karakatau Cilegon itu. Di tengah kesulitan menyebrang yang dialami ratusan awak truk  yang mengantre di dalam jalan Tol Merak, mereka membagikan nasi bungkus demi rasa kemanusiaan. nasi bungkus tersebut dilakukan atas inisiatif  puluhan wanita dari Majelis Taklim  dengan memberi bantuan 1.500 nasi bungkus ke ribuan awak truk

“Kami membagi-bagikan nasi bungkus, makanan ringan dan air mineral cuma-cuma setelah kami mendengar ada sejumlah supir dan kernet truk yang antre di dalam jalan tol dan hendak menyeberang ke Bakauheni, Lampung, kelaparan,” kata warga RT 19 RW Perumahan Puri Krakatau Hijau, Wahyu, seperti yang diberitakan Media Indonesia, Pos Kota dan Republika.

“Tadi pagi memang saya mengumumkan ke semua warga perumahan sebanyak 300 Kepala Keluarga (KK), dan meminta satu KK paling sedikit menyumbangkan lima bungkus. Alhamdulillah, terkumpul tidak kurang dari 1.500 bungkus”, ungkapnya.

Warga Perumahan Puri Krakatau Hijau, Grogol, juga mengaku prihatin dengan kondisi para supir dan kernet yang mengantre di dalam Tol Merak. “Saya nggak kebayang mereka terjebak di dalam tol dan susah untuk melakukan aktifitas lainnya seperti mandi dan makan. Kalau mereka yang antre di luar tol sih enak, bisa cari makan di warteg atau rumah makan yang ada di sekitar antrean truk,” kata seorang warga.

Supir truk terpaksa jual HP dan mengemis

Kondisi ini jelas makin menyengsarakan  sopir truk. Beberapa dari mereka mengaku tak lagi memiliki uang untuk membeli makanan. Mereka kelaparan . Bahkan ada yang terpaksa bayar tol dengan menjual sejumlah barang. Seperti telepon seluler, dongkrak, dan ban serep. Ada yang  ngutang sama pengurus truk, meski masih saja kurang untuk ongkos perjalanan hingga tujuan.

Entis, 38, supir truk yang mengangkut gerabah dan akan dikirim ke Jamb mengaku, sudah dua hari tertahan di Cikuasa Atas dan belum bisa masuk pelabuhan. “Saya sebenarnya lelah dengan kondisi kemaceten di Merak, tapi bagaimana lagi,” ujar Entis mengeluh, ke Pos Kota.

Yanto, 36, sopir truk kelontongan saat ditemui di jalur arteri Cikuasa Atas Pulomerak mengaku kehabisan uang sejak dua hari lalu. Ini membuatnya terpaksa mengemis kepada warga yang tinggal di sepanjang jalan arteri, untuk bisa bertahan mengantre. “Saya terpaksa mengemis untuk mendapatkan air minum atau makanan kecil dari warga atau warung-warung yang ada di sepanjang jalan. Kalau dibilang malu, ya malu lah, tapi nggak apalah yang penting selamat,” kata Yanto.

Lamanya antrean di dalam tol memaksa untuk mengeluarkan uang lebih dari yang dianggarkan perusahaannya.

“Jujur saja Mas, saya cuma dibekali uang oleh perusahaan sebesar Rp 500 ribu. Rp 300 ribu untuk biaya tol dan penyeberangan. Rp 200 ribu untuk biaya solar dan makan. Tapi uang makan saya sudah habis. Saya terpaksa meminjam uang kepada pengurus truk,” katanya.

Mandi Rp 2000, kencing Rp 1000

Uang jalan telah habis untuk membeli makanan di sepanjang tol. Kemacetan selama berhari-hari ini dimanfaatkan warga untuk berjualan nasi uduk dan makanan-makanan lainnya. Bahkan, warga pun membuka kamar mandi umum untuk sopir tersebut. “Untuk mandi bayar Rp 2.000, sementara untuk kencing saja Rp 1.000. Yang jualan makan juga banyak, itu yang buat uang kami kebablasan,” akunya

Sampai Jumat ini antrean masih berada di KM 92. Kapal yang beroperasi sampai dengan siang tadi sebanyak 23 kapal dengan pencapaian trip 77 dan telah berhasil mengangkut 2.536 truk.

Mari kita jeli melihat keadaan sekitar kita. Satu dua nasi bungkus mungkin tak bernilai apa-apa bagi kita, tapi ada orang-orang di sekitar kita, dekat kita yang merintih kelaparan dan tak mampu mengusahakannya karena kesulitan keadaan.

Betapa banyak nikmat di diri kita yang tak tersadari. Mari kita berbagi dan bersyukur.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Live Streaming dan Selfie Berhadiah di …

Yayat | | 21 November 2014 | 20:43

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 13 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 13 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 15 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Review “Supernova: Gelombang” : Kisah …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Guru Destiani, Menulis dan Menginspirasi …

Adian Saputra | 8 jam lalu

Karya Arek ITATS: Game Tooth Kid “Sang …

Xserver Indonesia | 8 jam lalu

Dua Ribu Rasa …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Guru Menulis Berdiri, Siswa Menulis Berlari …

Muhammad Irsani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: