
Dibaca: 11156
Komentar: 154
14 dari 18 Kompasianer menilai bermanfaat
Saya tidak memiliki maksud untuk menjelek-jelekkan orang dalam tulisan ini. Tulisan ini saya buat dengan sejujur-jujurnya berdasarkan fakta yang ada, yang kebetulan saya sendiri yang mengalaminya. Hanya ingin sekedar berbagi, sehingga hal semacam ini tidak menimpa orang lain lagi, dan meskipun kecil kemungkinannya, saya berharap bahwa siapapun yang berniat akan atau telah melakukan penipuan untuk berpikir kembali tentang apa yang telah mereka lakukan.
Beberapa hari yang lalu, saya melihat iklan di Facebook dengan nama akun facebook Aulia Celluler Shop. Sebuah laptop merek sony vaio VPCEB16FG 14 inch baru dijual Rp. 3.750.000. Harga yang sangat murah untuk laptop merek tersebut dan spesifikasi tersebut. Saya tidak berniat membelinya, karena meskipun tidak secanggih laptop tersebut, saya telah memiliki sebuah laptop. Tetapi saya ingat, kakak saya sedang mencari laptop baru. Maka saya menshare link penjual laptop tersebut kepada kakak saya. Melihat murahnya harga laptop tersebut, kakak saya tertarik untuk membelinya. Bakan tidak hanya kakak saya, tapi juga seorang temannya juga, serta pacar saya.
Kemudian saya menelpon penjual laptop tersebut, yang nomornya saya dapatkan di situs Facebooknya. Dengan ramahnya, si penjual menanggapi keinginan saya untuk memesan tiga buah laptop vaio dengan spesifikasi tersebut dengan tiga warna yang berbeda. Dia meminta saya untuk melakukan pemesanan sesuai dengan format pemesanan via sms yang tertera di akun facebooknya. Saya pun mengirimkan sms pemesanan barang sesuai dengan format yang tertera di akun Facebook Aulia Celluler Shop. Setelah sms terkirim, si penjual yang mengaku bernama Ani Syfitri meminta alamat lengkap pengiriman barang yang saya pesan. Saya pun membalas sms tersebut dengan menyebutkan alamat lengkap dimana barang pesanan tersebut harus dikirim. Kemudian saya menerima sms kembali dari si penjual yang menyebutkan jumlah yang harus saya bayar yaitu sebesar Rp.11.500.000,- untuk 3 buah laptop sekaligus ongkos kirimnya. Sms tersebut juga menyertakan nomor rekening bank dimana saya harus mentransferkan uang tersebut, yaitu nomor rekening bank mandiri 1240005806931 atas nama Ani Syfitri. Uang tersebut mestinya saya transferkan hari itu, tetapi karena kakak saya yang sedang berada di luar negeri tidak dapat melakukan transfer hari itu karena sudah terlalu sore, maka saya minta untuk diijinkan mentransfer uangnya keesokan hari, dengan konsekuensi barang baru bisa dikirm besok. Karena memang barang dikirim setelah uang selesai di transfer. Saya dan si penjual akhirnya bersepakat mengenai hal tersebut.
Malam harinya kakak saya mengirimkan messege kepada saya lewat akun facebook yang berisi mengisi keraguannya membeli barang tersebut. Saya mencoba untuk meyakinkan kakak saya bahwa keraguan memang akan muncul ketika kita membeli barang lewat online shop, apalagi jika baru pertama kali. Karena memang demikianlah perasaan saya ketika pertama kali berbelanja online. Tetapi saya katakan kalau semua itu wajar, dan untuk meyakinkan kakak saya, saya menghubungi si penjual online dan meminta alamat toko mereka dan meminta nomor lain yang bisa dihubungi jika terjadi masalah dengan barang yang saya beri.. maka dia memberikan alamat dan nomor telepon sebagai berikut Komp. Nirwana Residence Blok. A5 No.7 RT/RW O3/07. KEL.BATAM LESTARI KEC. SEKUPANG, BATAM CENTRE, ini no pribadi saya ANI SYFITRI 082188281212. Alamat dan nomor telpon tersebut kemudian saya forward-kan kepada kakak saya. Dan akhirnya kaka saya pun percaya dan tetap melanjutkan transaksi barang tersebut.
Pada jumat pagi 14 Januari 2011, setelah saya menerima uang dari ibu untuk dibayarkan kepada si penjual laptop, saya mentransferkan uang tersebut ke rekening si penjual laptop. Setelah transfer berhasil saya mengabarkan hal tersebut kepada si penjual laptop. Kemudia dia mengatakan akan mengecek dulu kebenaran transfer saya. Setelah dia melakukan pengecekan, dia mengkonfirmasikan kepada saya bahwa uang yang saya transferkan untuk pembayaran laptop telah dia terima dan barang akan segera dikirim. Kemudian saya meminta untuk diberi tahu nomor resi pengiriman barang tersebut agar saya bisa mengecek pengiriman barang melalui situs pengirim barangnya, yang diakui oleh si penjual adalah tiki-jne. Tetapi bukannya menerima no resi bukti pengiriman barang, si penjual mengatakan bahwa barang masih dalam proses pengiriman jadi no resi belum bisa di berikan. Jadi saya bilang, baiklah jika demikian, mohon jika proses pengiriman barang selesai dilakukan, tolong saya diberi tahu no resinya. Dan dia mengatakan, ok.
Tidak berapa lama handphone saya berdering, dari si penjual laptop. Dia mengatakan saya bisa mendapatkan no resi pengiriman barang jika saya pergi ke ATM, karena dia bilang dia melakukan transaksinya via internet banking dan dia akan memberi tahukan kepada saya bagaimana cara mendapatkan no resi tersebut jika saya telah ada di ATM. Tetapi saya menolak, karena setahu saya, no resi pengiriman tercantum dalam blanko surat pengiriman, jadi untuk apa saya harus pergi ke ATM untuk mendapatkan no resi tersebut. Saya mengatakan kepada si penjual jika demikian repot untuk mendapatkan no resi, saya mau gampang-gampangan saja, tolong resi pengiriman barangnya di scan atau difoto dan di upload via facebook kemudian di tag kan kepada saya. Meski awalnya menolak dengan alasan internetnya sedang bermasalah, tetapi kemudian dia menyetujui untuk mengupload foto atau hasil scan resi pengiriman tersebut. Tak berapa lama, saya diberitahu bahwa bukti resinya telah di upload dan di tag kan kepada saya, sambil si penjula meminta maaf karena dalam paket barang saya terdapat paket barang orang lain berupa sebuah aplle i-pad. Saya bilang itu bukan kesalahan saya, dan kalau memang benar barang tersebut “nyangkut” di paket saya, saya akan segera mengirimkannya kembali kepada mereka jika barang tersebut sudah di tangan saya. Si penjual pun setuju.
Kemudian saya segera online dan mengecek facebook saya untuk melihat upload foto/scan bukti pengiriman barang saya. Ya, saya sudah di tag di foto tersebut. Dan kemudian langsung saya save gambar tersebut. Karena saya mengecek foto tersebut sambil tetap terhubung dengan si penjual via handphoe, maka kemudian saya bertanya kepada si penjual yang mana nomor resinya? Supaya saya bisa mengeceknya secara langsung di website tiki-jene (www.jne.co.id). Kemudian si penjual menunjuk nomor tertentu yang tertera di resi tersebut. Saya langsung memasukkan nomor tersebut ke dalam kolom lacak kiriman. Hasilnya, tidak ada barang dengan nomor kiriman tersebut, hati saya mencelos. Kemudian saya kembali menghubungi si penjual laptp dan mengkonfirmasi hal ini, dia malah menyalahkan saya karena saya tidak mau mendapatkan no resi via ATM. Sehingga kemudian terjadi perdebatan antara saya dan si penjual. Akhirnya saya mengatakan, “baik kalau memang saya tidak bisa mendapatkan no resi pengiriman tersebut, saya percaya pada anda, dan saya akan menunggu sampai hari senin, saya harap barangnya sampai di tangan saya, jika tidak saya akan menghubungi anda”. Dan si penjual menyetujui hal tersebut.
Kemudian saya iseng-iseng mengamati resi pengiriman tersebut, seperti ada yang janggal. Saya kemudian berniat menanyakan hal tersebut melalui comment box yang ada di bawah foto tersebut sayangnya tidak bisa, karena error. Kemudian saya menge-tag kakak saya, eh tidak bisa juga. Saya curiga koneksi internet saya yang bermasalah, jadi kemudian saya merefresh halaman tersebut. Hasilnya, content not found. Ternyata fotonya telah di delet. Jadi saya menanyakan soal kejanggalan-kejanggalan tersebut via comment box yang ada di album foto komentar pelanggan. Tetapi tidak ada jawaban.
Akhirnya saya memutuskan untuk meminta second opinion dari kakak saya dan pacar saya mengenai resi tersebut. Apakah mereka menemukan kejanggalan atau hanya saya saja yang parno. Kemudia saya mengupload foto resi tadi yang untungnya sebelum di delete oleh penguploadnya, sempat saya save/download. Saya mentag-kan foto tersebut kepada kaka saya dan pacar saya. Eh, yang komen langsung bejibun dan menyatakan bahwa resi tersebut memang palsu dan jelas-jelas hasil olahan komputer. Semakin mencelos hati saya.
Karena semakin besar kemungkinan dan kepercayaan saya bahwa saya telah menjadi korban penipuan, maka saya segera menghubungi seorang teman yang bekerja di pabean dan sempat berdinas di Batam. Saya menceritakan apa yang saya alami dan kemudian meminta tolong kepada teman saya untuk mengecek kebenaran toko tersebut. Sayangnya teman saya saat ini sudah tidak berdinas di batam, tetapi dia berjanji akan mencari orang yang dapat membantu saya. Tak berapa lama, teman saya mengabari bahwa ada yang bisa membantu saya, hanya sayangnya dia baru bisa melakukannya hari minggu. Saya bilang “ngga papa, yang penting bisa”.
Saya juga berkonsultasi mengenai hal ini dengan kakak saya. Kebetulan kakak saya memiliki teman yang bekerja di bank tempat saya melakukan transaksi. Kakak saya kemudian menyarankan saya untuk menghubungi temannya tersebut guna berkonsultasi mengenai bagaimana baiknya bahkan secara ekstrim untuk melacak si pemilik rekening yang juga penjual dari Aulia Celluler Shop. Tidak menyiakan banyak waktu, saya segera menghubungi teman kakak saya tersebut dan menceritakan yang terjadi. Beliau kemudian meminta saya untuk mengirimkan nomor rekening saya dan nomor rekening orang yang saya tranfer dana. Tak berapa lama, saya mendapatkan alamat si pemilik rekening. Rekening tesebut benar atas nama Ani Syfitri namun alamatnya bukan di batam tetapi di Jl.Karbela II/No.37 RT/RW 5/9 Karet Kuningan Jakarta 12940 No telp./Hp: 021-5279525/085715664085. Saya semakin yakin bahwa ini adalah penipuan. Tetapi apa yang bisa saya lakukan?
Saya menjajaki kemungkinan untuk melaporkan hal ini kepada polisi, meski saya tidak yakin polisi akan mau menindaklanjuti hal ini apalagi sampai menuntaskannya. Meski demikian besar kemungkinan bahwa semua ini adalah penipuan, saya tetap berharap bahwa semua ini hanya salah paham, dan barang akan saya terima pada hari senin.
Tetapi bagaiamanapun saya berusaha tetap tenang, perasaan tetap tidak dapat dibohongi. Saya stres, kehilangan selera melakukan apapun, termasuk makan. Saya enggan makan, dan kalau pun dipaksa makan, ujung-ujung muntah. Saya tidak dapat memejamkan mata dengan tenang, bermimpi buruk setiap kali tertidur sehingga bangun kemudian. Bahkan saya sempat ketakutan untuk membuak facebook, memang tidak masuk akal. Tetapi demikianlah adanya. Saya yang hampir tiap waktu kontak dengan internet menjadi tidak berminat bahkan untuk membuka laptop saya sekalipun. Saya tetap membawa laptop tersebut jika saya pergi kerumah sakit untuk bekerja, tetapi saya bahkan tidak menyentuhnya. Saya jadi menggilai acara-acara detektif terutama yang berkaitan dengan pembunuhan, sehingga jadilah saya seorang foxcrime mania.
Apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya merasa sedih, malu, dan tertekan. Karena kecerobohan dan kekurang telitian saya lah kakak saya dan temannya serta pacar saya membeli laptop tersebut. Karena kecerobohan saya lah uang Rp.11.500.000,- itu kemungkinan besar berpindah tangan ke orang yang tidak bertanggung jawab. Saya merasa bahwa semua hal yang terjadi adalah karena kesalahan saya sehingga sayalah yang memang harus bertanggung jawab terhadap semua hal tersebut. Saya kemudian mengok jumlah uang yang kemungkinan besar hilang akibat kejadian ini. Rp.11.500.000,- jumalh yang sangat besar untuk saya. Saya menangis hampir setiap saat saya punya kesempatan. Dengan gaji yang tidak seberapa dan banyaknya tanggungan yang harus saya selesaikan (uang sekolah adik saya, dll), saya mungkin baru akan selesai mengganti kerugian yang saya timbulkan tersebut akhr tahun nanti. Saya bersimpuh dan menangis di hadapan Tuhan dan memohon, semoga ini bukanlah penipuan. Saya memohon sebuah keajaiban. Keajaiban mungkin akan terjadi, tetapi sepertinya tidak saat ini. Sampai detik ini barang tersebut belum sampai ke tangan saya.
Saya sudah berusaha menghubungi pihak penjual yang anehnya masih bisa, karena nomor handphonenya masih terus aktif, tetapi tidak mendapatkan tanggapan sama sekali. Saya sudah pasrah dan berusaha menguatkan hati untuk menerima yang telah terjadi serta menyiapkan diri untuk mengganti setiap kerugian yang timbul akibat kecerobohan saya.
Saat ini yang bisa saya lakukan adalah melaporkan masalah ini ke pihak kepolisian, meski saya tidak yakin hal tersebut akan menyelesaikan masalah, apalagi bisa mengembalikan uang yang hilang. Saya juga menulis testimoni ini, supaya orang dapat belajar dari pengalaman saya dan tidak jatuh pada perangkap yang sama. Besar juga harapan saya bahwa siapapun yang berniat untuk melakukan penipuan, mohon untuk berpikir kembali. Bahwa anda tidak sekedar mengambil uang yang bukan hak anda, anda juga tidak sekedar mengambil uang yang dihasilkan dari keringat orang lain yang jelas bukan hak anda, tetapi secara immaterial anda juga memberikan tekanan yang besar terhadap kehidupan orang lain.
Saya hanya berdoa kepada Tuhan supaya saya diberikan kekuatan sehingga saya bisa menerima yang terjadi, memaafkan diri saya sendiri, belajar dari kesalahan ini, dan tidak lagi menangisi dan menyesali masalah ini.
Ini adalah bukti resi yang sempat di upload via facebook dan sempat saya download oleh si penjual laptop sebelum dia delete kembali
Ini bukti resi yang lain yang di upload oleh si penjual dan sempat saya download sebelum di delete karena ada komentar dari kakak saya
-Aprilia Paramitasari-
Mohon teman-teman sekalian yang membaca testimoni ini untuk dapat membaginya dengan orang lain, agar tidak ada lagi yang mengalami hal yang serupa dengan saya. Terima kasih