
mengelola blog : http://sirojudinmursan.co.cc
Dibaca: 130
Komentar: 9
1 dari 1 Kompasianer menilai Bermanfaat
Kalo ke tempat publik yg ada akses internetnya, sy iseng memperhatikan yang bawa laptop. Dari beberapa kali investigasi sy, kebanyakan dari mereka biasanya buka facebook. Bikin status, komen status dan chatting FB.
Fenomena FB memang bikin, laptop, internet jadi identik dengannya. Dari laptop menuju HP pinter, juga rata2 kalo lagi ‘jenuh’ ndengerin ceramah tak berkualitas, juga biasanya otak-otik status FB juga. FB jadi budaya pop. Bisa dibilang, mereka tidak ‘literate’ dengan budaya ini, jadi aneh. Dianggap tidak gaul, dianggap menjadi manusia tak tau perkembangan komunikasi terakhir.
Padahal internet itu tidak sebatas itu, ada banyak aktifitas lain yang jauh lebih bisa ‘mencerdaskan’. Mengajarkan kita pada banyak hal. Tentang akses informasi, tentang sharing pewartaan, dan ilmu pengetahuan, semua ada disitu.
Ini yang sy sebut jebakan tren. Seakan kita tak bisa lepas dari keadaan. Tak ada pilihan kecuali mengikuti arus. Padahal setiap kita, setiap saat punya pilihan. Pilihan untuk bisa memaksimalkan potensi dan fasiliitas. Fb tidak salah, memperlakukannya layaknya ‘basic need’ itu persoalan lain.
Saat idul fitri dan hari besar lainnya, semua bikin status dan ucapan selamat hari raya. Menurut sy, untuk sementara ucapan itu cukup baik. Tetapi ini harus diikuti juga dengan ucapan real, face-to-face. Yang tak kan pernah tergantikan . karena pada komunikasi dunia maya, ada banyak bentuk komunikasi yang tak bisa dilakukan seperti di dunia real. Ada senyum, ada kehangatan interaksi. Dan banyak lagi.
Dan seringkali mereka yang bersahabat di dunia maya, harus juga diikuti persabatan dunia real. Tidak jarang orang yg terkesan ‘akrab’ di dunia maya, saat bertemu seakan ada sekat, ada ‘perasaan’.
Saya berpendapat komunikasi dunia maya saja belum cukup, harus juga diikuti di dunia real. Karena tidak semua hal dunia real, bisa diwakilkan di dunia maya.