Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Yuni Rachmi

Seorang penggemar jalan-jalan dan wisata kuliner. Melalui media kompasiana ini mencoba belajar memperkaya kemampuan menulis selengkapnya

Phobia Reuni Lebaran?

OPINI | 26 August 2010 | 04:36 Dibaca: 259   Komentar: 6   1

Takterasa sekarang sudah memasuki pertengahan bulan Ramadhan. Alhamdulillah masih ada setengah bulan lagi menjalan ibadah puasa wajib dan tingkatkan amal dan takwa. Di bulan ini kita memang mesti berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya karena Allah SWT telah janjikan pahala dan ampunan yang berlimpah untuk kita.

Selain berusaha bisa laksanakan ibadah puasa, sholat teraweh  dan berbagai aktivitas sunah di bulan Ramadhan, semua orang sibuk mempersiapkan berbagai hal untuk menyambut hari lebaran. Lihat saja sepanjang jalan protokol, mal-mal, toko-toko, pasar-pasar selalu terlihat penuh dan berdesakan orang-orang yang sedang berbelanja barang kebutuhan lebaran. Mulai baju, sepatu, tas, mukena, kerudung, sampai kue-kue, keripik-keripik dan sebagainya. Sepertinya semua orang benar-benar menikmati suasana menjelang lebaran seperti ini. Buktinya mereka rela melakukannya dengan senang hati.

Selain itu semua juga sibuk siapkan tiket untuk mudik. Tradisi mudik lebaran setiap setahun sekali sulit untuk dihilangkan. Tak perduli nantinya uang menipis di kantong, mereka rela membeli tiket angkutan mudik pulang pergi dengan harga tinggi. Antri berjam-jam di setasiun pun tak masalah. Yang penting mereka bisa mudik dan bersilaturahmi dengan keluarga besar di kampung halaman. Banyak momen yang bakal dilewati selama di kota asal. Selain melepas kangen dengan keluarga juga berwisata kuliner ke tempat-tempat favorit semasa kecil.

Tak hanya itu undangan-undangan reuni hampir selalu ada saat libur lebaran. Entah reuni dengan teman sekolah atau dengan teman semasa kecil. Sepertinya lebaran identik dengan reuni. Lihat saja di sepanjang jalan raya pasti banyak dipasang spanduk bertuliskan undangan-undangan reuni. Lalu bagaimana dengan Anda sendiri? Sudahkah menerima undangan reuni pada lebaran tahun ini?

Bicara mengenai reuni, saya jadi ingat bagaimana repotnya mempersiapkan suatu acara reuni. Kita mesti membentuk panitia yang akan bertanggungjawab mempersiapkan acara tersebut. Juga harus menentukan tempat dan menghitung berapa dana untuk konsumsi yang dibutuhkan dan mesti dikumpulkan dari masing-masing peserta reuni. Selain itu kita harus mengirimkan undangan kepada teman-teman yang diundang diacara reuni tersebut.

Keberadaan jejaringssosial facebook, twitter sepertinya mempermudah kita untuk mengundang teman-teman untuk datang ke acara reuni. Kita tinggal pasang pengumuman di facebook dan tanyakan siapa yang tertarik ikut gabung reunian.  Tak seperti sepuluh tahun yang lalu. Saya masih ingat saya dan teman-teman mesti mendatangi rumah teman-teman satu persatu sebelum menggelar reuni kelas di SMP. Bisa dibayangkan bagaimana repot dan capeknya.

Sayangnya kadang tak semua orang suka ikut acara reuni seperti ini. Pernah dengar kata Phobia Reuni? Ada sebagian orang yang merasa enggan bertemu dengan kawan-kawannya dari masa lalu. Banyak alasan yang menyebabkan orang jadi phobia reuni. Bisa saja karena ketakutan bertemu mantan pacar, musuh semasa sekolah. Atau karena merasa minder karena merasa kurang berhasil (ekonomi) dibandingkan teman-temannya. Atau bisa saja karena malu karena belum menikah. Dan masih beberapa lagi argumen yang bisa diberikan orang mengapa mereka malas hadir di acara reuni dengan teman-teman masa sekolah.

Padahal bila mau berpikir postif, sebenarnya banyak manfaat yang bakal kita dapat jika kita mau hadir di acara reuni. Kita bisa melepas kangen dengan teman-teman masa sekolah yang mungkin sudah belasan tahun tidak ditemui. Kita bisa bernostalgia bersama mengenang cerita-cerita lucu masa lalu. Mungkin saja kita bisa mendapatkan informasi mengenai lowongan pekerjaan dan peluang bisnis sampingan dari teman-teman yang sudah berhasil dalam kariernya. Bahkan bagi yang belum menikah bisa bertemu teman lama yang kemungkinan bisa menjadi jodohnya. Yang jelas segala kemungkinan bagus bisa didapat dari acara reuni.

Walaupun begitu memang segala konsekuensi memang mesti kita temui bila hadir reuni. Kita harus bisa menghadapi perubahan sikap banyak orang. Yang dulunya baik bisa jadi teman menyebalkan. Yang dulunya sombong berubah jadi alim. Bahkan mungkin bisa bertemu pula dengan orang-orang yang memanfaatkan momen reuni untuk cari uang. Asalkan kita bisa membaca situasi maka segalanya akan teratasi dan baik-baik saja. Yang pasti dengan reuni, tali silaturahmi yang sempat terputus bakal tersambung lagi. Jadi mengapa mesti takut hadir di acara reuni? Phobia reuni? Nggak jaman lagi.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47

Ibu Renta Itu Terusir …

Muhammad Armand | | 22 December 2014 | 09:55


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 3 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 5 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 7 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 8 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 8 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: