Back to Kompasiana
Artikel

Urban

Bayu Bergas

Pemalas dan menyebalkan.

Mutiara Timur

REP | 10 July 2010 | 22:11 Dibaca: 123   Komentar: 3   3

(dari catatan harian saya)

//grafisosial.wordpress.com

Foto: Glenn Stefanus

setelah dua malam sebelumnya menonton di bioskop kusuma dengan pakaian basahkuyup, sabtu siang itu aku berada di atas mutiaratimur, menuju surabaya.

tersenyum geli dan mangkel sendiri, mengingat sejak dari stasiun hanya beroleh tiket bertajuk “bisnis tanpa tempat duduk.” tak ada beda dengan naik truk. aku hanya bisa mengumpat dalam hati. walhasil, aku nglesot di bordes. mereka memanfaatkan ketakberdayaanku. jam empat sore aku sudah harus berada di komplek cak durasim. aku tak punya pilihan. tentu selain bahwa aku terlalu menyenangi kereta semenjak kecil.

telah tiga kali aku menengok restorasi, siapa tahu ada yang lengah meninggalkan kursi barang sejenak, untuk aku sikat. ketigatiganya pula gagal. oke, aku memilih untuk bertahan di situ. seperti biasa, kopi hitam aku pesan. aku melirik sebelah kiriku. seorang bapak berpakaian biru, ada logo kecil warna oranye khas kai di dadanya.

“heyyy! kerja sana! minggat dari kursi!” tapi itu hanya di batinku. ponsel kukeluarkan dari kantong celana. sial! batere hampir habis. kubaca ulang beberapa pesan sambil terus awas pada si bapak. pokoknya, sedikit dia beranjak maka kursi akan aku kuasai!

tibatiba kereta terguncang agak keras. si bapak menengok ke arah luar. bergegas ia ke pintu. kursi lantas berpindah padaku. yuhuu! semenitdua ia kembali. melihat kursinya telah kududuki, mukanya jadi agak masam. tak kupedulikan. ritual kopi dan rokok berlanjut. kereta berjalan kencang. lelaki muda di sebelahku tampak beringsut pelan. tampaknya ia akan kembali ke gerbongnya. membayar ia dan pergi.

kereta memperlambat lajunya. mulai tampak di depanku pohonpohon yang mengering.

“tragedi. menyedihkan sekali bukan?!” seorang lelaki agak tua tahutahu telah duduk di sebelahku. aku tersenyum menanggapinya. ia melepas topi. menaruh jisamsu di meja. membetulkan celana kargo pendeknya. matanya nanar menatap ke depan. pohonpohon keringmati semakin banyak.

“bukan. bukan tragedi,” kataku. ia menoleh, raut mukanya agak kaget mendengar komentarku. dahinya berkerut, meminta jawaban lagi.

“ratusan, ribuan, jutaan. itu semua hanya statistik belaka,” kataku.

lalu ia mengangguk. kami tertawa. miris.

tampak sebuah rumah di tengah genangan lumpur. tinggal separuh. tak berpenghuni lagi tentunya. mungkin ada halaman kecil dengan sepetak rumput dan bungabunga di depannya. dulu.

agak dekat rel, terpancang tulisan bercat merah di kain putih, “kami menolak relokasi”. terpasang agak miring dan lusuh. ia tampak berkibarkibar di beberapa sobekan. di sekitarnya tak ada manusia. lengang.

restorasi mendadak sunyi senyap. tak ada orang bersuara. seperti turut hanyut. mata mereka tertuju ke luar jendela.

kereta teranggukangguk pelan. orangorang tak bergerak. seperti menahan napas. diam dan begitu hening. satudua saling berpandangan. tersenyum miris dan menggeleng kecil seolah tak percaya.

lelaki sebelahku menyemburkan asap rokoknya. pelan.

“ini bencana nasional,” katanya lirih tanpa mengalihkan pandangan.

“bukan. ini bukan bencana nasional,” kataku.

ia menoleh. tampak matanya memerah dan berair.

“tak ada nasion di sini,” tambahku. ia kembali menyetujuiku dengan mengangguk. kini tampak dam buatan yang memanjang. kereta masih waspada jalan perlahan karena terancam amblas tanahnya. orangorang masih banyak terdiam.

sejurus lelaki sebelah merogoh kantong celana. ponselnya tampak berkerlapkerlip. tersenyum ia sebelum memencet tombol dan mengucap, “iyaaa… hampir sampai. sudah sampai porong.”

“naik darimana?” tanyanya padaku setelah menutup telepon.

“jember,” jawabku singkat.

“kuliah di sana?” tampaknya ia cermat, tahu aku bukan orang ‘timur’.

“ahhh, nggak. ketemu beberapa teman.”

“pulang atau mau ke mana lagi?” lagilagi tertebak olehnya.

“ke surabaya.”

“temanteman juga?”

“iya. mereka dan acara nanti malam,” jawabku sembari tertawa. ia tertawa pula.

“acara resmi atau…”

“festival film. di cak durasim,” jawabku menyambung.

“ohhhh… oke…oke..”

“ini anakanak saya,” sambil menunjukkan satu foto di ponselnya. senyum yang mengembang menandakan ia bangga. lantas ia tunjukkan satu foto lagi.

“ini istri saya. mereka semua di surabaya. akhir pekan saya selalu pulang.”

aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. tak tahu bagaimana harus meresponnya. aku mengerenyitkan dahi. ia seolah tahu pertanyaan yang tersimpan di otakku.

“bali. saya main musik di bali,” jelasnya.

lelaki itu bercerita, jazz menjadi pilihan hidupnya. dua anak lelakinya juga bermusik. sedang satu anak perempuannya yang terlihat cantik di foto, sedang berkarier menjadi mc dan penyiar radio. istrinya seorang penari.

“tapi sudah pensiun! hahaha…” katanya dengan kocak. aku ikut tergelak. ponselnya bergetar lagi.

“niiihh… mantan penarinya telpoooon!” candanya padaku. lalu dengan mesra menyapa suara di ujung sana.

nyaris terlupa ia harus turun sebelum gubeng. ia tersenyum dan mengucapkan sampai jumpa sembari tergesa bangkit dari kursi. aku membalasnya.

mutiaratimur mulai bergerak menuju gubeng. aku membayar kopi dan merapikan bawaanku. lalu menunggu.

menunggu…

menunggu…

ahhh, apa yang kudapati siang ini?

bisnis tanpa tempat duduk…

lautan lumpur yang mengerikan..

orangorang yang terusir..

ayah yang mencintai anakanaknya..

istri yang kangen..

hmmm…

semua ada di sini.

di negeri yang apakabar ini.*

bayu bergas

medio november 2007

//grafisosial.wordpress.com

Makasih utk Glenn Stefanus atas fotonya. http://grafisosial.wordpress.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 4 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 5 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 6 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: