Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Mercy

Pengalaman manis tapi pahit, ikutan Fit and Proper Test di DPR.

Curangnya Perusahaan Penyelenggara Undian Berhadiah

REP | 17 July 2013 | 12:05 Dibaca: 1196   Komentar: 4   1

Danaxxx, nama bank itu selalu melekat di hati saya.  Sederhana saja, karena di tahun 1990-an, rekening saya yang tinggal  Rp 130 ribuan, terpilih menjadi pemenang undian ke-2, motor. Itu undian murni, tanpa rekayasa, tanpa punya kenalan di bank, tanpa kasak kusuk,  saya beruntung mendapat motor yang saa itu nilainya sekitar Rp 4 juta. Lumayan banget kan.

Saat penyerahan motor, iseng-iseng saya tanya, siapa yang beruntung jadi pemenang utama, pemenang pertama yang berhadiah  mobil, jawabannya mengagetkan. Kalau pemenang 1 bukan keberuntungan, tetapi jatah pejabat. Hah? Pernyataan keceplosan dari  ”orang dalam” itu saya simpan dalam hati

Ada juga kisah nyata dari tante saya. Dia memang nasabah besar, importir dan eksportir barang. Sejak puluhan tahun, dia telah menjadi nasabah dari Bank Tiga Huruf  yang merupakan bank papan atas di Indonesia.  Suatu hari, entah bagaimana awal mulanya, akhirnya tante saya “mengancam” kalau tidak menang undiah Tahapan di Bank tiga huruf, dia akan tarik semua simpanannya.

Percaya atau tidak, ancaman itu berhasil. Sebulan atau dua bulan kemudian, tante saya diumumkan menjadi pemenang Tahapan Bank Tiga Huruf (saya lupa periode berapa) yang berhadiah mobil (dulu harganya sekitar Rp 100 jutaan). Tante sayapun tersenyum, dan sampai hari ini, tanteku adalah nasabah loyal di bank tiga huruf itu.

Pertanyaannya, apakah pantas perusahaan publik melakukan tindakan tersebut?

Sejak saya mempelajari UU no 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik,  saya mulai menyadari bahwa cukup banyak kecurangan yang dilakukan perusahaan publik. Okelah, kita sebut saja oknum di perusahaan itu. Tapi nggak mungkin oknum itu cuma satu atau dua orang, kan. Apalagi ini urusan undian yang pasti melibatkan banyak pihak, termasuk pihak luar yang notaris atau kementerian sosial.

Saya tidak mau berbasa-basi. Saya katakan hampir selalu ada modus kecurangan oleh  semua perusahaan yang mempromosikan perusahaannya dan produknya dengan cara memberi iming-iming hadiah bagi pengirim kupon atau pembeli produknya.

Misalnya perusahaan memberi hadiah untuk 100 orang pemenang.  Mungkin,  yang murni hasil undian, tanpa rekayasa, itu maksimal 90%. Sementara 10% lainnya, mulai dari pemenang utama adalah “tipu muslihat” penyelenggara.

Bentuk tipu muslihat bisa seperti Bank Danaxxx  tadi, untuk jatah pejabat, atau Bank tiga huruf, untuk nasabah kelas kakap, atau yang paling gampang adalah untuk orang dalam sendiri.

Tentu saja para penyelenggara undian ini tidak bodoh, mereka menggunakan nama orang lain dulu sebagai pemenang, baru selanjut diatur cantik. Pasti sudah ada skenario matang untuk melancarkan pemenang yang sudah disiapkan oleh para penyelenggara.

Nah, kalau anda sekarang sedang bermimpi dan berharap mendapat hadiah utama atau hadiah lain berikutnya yang “wah”,  padahal anda hanya dengan modal membeli produk atau mengirim kupon, please, anda sebaiknya segera  menginjak tanah.  Hadiah utama itu adalah jatah. Nanti sisa-sisanya mungkin baru untuk peserta, itupun kalau jatah orang dalam sudah tercukupi semua.

Di Indonesia, kecurangan ada dimana-mana.

Namun  Puji Tuhan, saat sedang galau itu,  ternyata masih ada perusahaan (terutama cabang dari perusahaan asing) yang konsisten memberi kesempatan masyarakat untuk memenangkan hadiah dengan perjuangan tertentu. Misalnya, dengan memilih foto terbaik atau karya tulis terbaik. Jadi agak fair untuk menentukan pemenang.

Kebetulan saya pribadi punya pengalaman manis. Saat ikut undian Baygon. Dengan bermodalkan membeli 2 kaleng baygon agar dikutsertakan dalam lomba menulis  pengalaman pribadi dengan Baygon, saya dan keluarga, mendapat hadiah liburan yang sangat nyaman di Bali.  Ini beneran, tanpa rekayasa, tanpa ada kenalan orang Baygon atau biro iklannya.

Atau pengalaman anak saya, yang pernah kena demam berdarah. Kebetulan foto anak saya di rumah sakit ketika sedang diambil darahnya oleh suster, terpilih menjadi salah satu pemenang lomba foto Demam Berdarah yang dipromosikan oleh Baygon (lagi). Lumayanlah mendapat hadiah produk baygon selama setahun.

Btw, tulisan ini sama sekali tidak disponsori Baygon loh.

Apakah Para Kompasiana punya pengalaman sejenis?  Boleh dong share , supaya kita makin tahu, mana perusahaan yang jujur dan mana yang curang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 15 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 15 jam lalu

(Saatnya) Menghukum Media Penipu …

Wiwid Santoso | 16 jam lalu

Setelah Kalah, Terus Apa? …

Hendra Budiman | 16 jam lalu

Jokowi Raih Suara, Ahok Menang Pilpres …

Syukri Muhammad Syu... | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: