Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Bu Anni

Istri, Ibu dari dua gadis cantik, Pendidik. Kata orang, saya orangnya biasa saja, tapi baik selengkapnya

Kapankah Terakhir Kali Engkau Menerima Surat Cinta?

REP | 09 May 2013 | 06:07 Dibaca: 593   Komentar: 49   9

13680542272096601324clipartpal.com

Suatu malam, ketika sedang asyik mengerjakan PR Bahasa Indonesia, putri saya yang duduk di kelas X SMA bertanya, bagaimana cara menulis surat izin  yang ditujukan kepada Wali Kelas jika kita berhalangan masuk sekolah.

Sejenak saya tertegun. Menulis surat izin tidak masuk sekolah adalah hal yang sangat sepele. Tetapi itu bagi saya yang hidup di era surat menyurat. Sementara bagi putri saya dan banyak remaja lainnya yang hidup di era digital seperti sekarang ini, menulis surat menjadi sesuatu yang lumayan rumit. Anak-anak ini tidak terbiasa mengungkapkan maksud hatinya kepada seseorang melalui sepucuk surat. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuat anak-anak menjadi sangat asing dengan kegiatan saling berkirim surat. Jika mereka ingin berkomunikasi dengan seseorang yang berada di tempat yang jauh,  mereka cukup menggunakan SMS, Email, atau chatting melalui berbagai sosmed. Tak ada lagi kegiatan surat menyurat secara manual.

Kini menulis surat dipandang sebagai kegiatan yang tidak efisien, membuang-buang waktu dan tenaga, dan tentu saja sudah ketinggalan zaman. Bukankah dengan sekali dua kali SMS kita dapat berkomunikasi lebih cepat dengan orang yang kita tuju ? pesan kita dapat sampai dalam hitungan hanya beberapa detik, dan beberapa detik kemudian kita sudah mendapatkan balasannya, lebih mudah dan murah pula . Bandingkan dengan jika kita mengirim surat. Tidak mungkin surat kita dapat sampai ke tempat tujuan hanya dalam beberapa detik dan mendapat balasan dalam beberapa detik pula.

Surat cintaku yang pertama, membikin hatiku berlomba …♬”

Sambil mengajari anak saya menulis surat, saya jadi teringat kenangan puluhan tahun silam, saat saya masih aktif menulis surat. Menulis surat kepada teman, kepada sanak famili, kepada kekasih, kepada sahabat pena. Ah sahabat pena. Masih adakah  orang-orang menjalin sahabat pena sekarang ini ?. Betapa indahnya suasana hatiku disaat menulis surat. Dan perasaan indah itu kembali menelusupi hatiku, saat putriku mulai menuliskan seuntai  kalimat, ” Kepada Yang Terhormat …”

Lalu berkelebatlah bayangan indah puluhan tahun yang lalu, saat saya duduk manis menghadap meja dengan selembar kertas dan  bolpoin dalam genggaman jemariku. Kuhela nafas dalam-dalam, berfikir, dan tersenyum membayangkan wajah orang-orang yang akan kukirimi surat itu. Lalu mengalirlah kalimat demi kalimat tanpa henti. Mengalir dari dalam lubuk hatiku, hingga tumpah semua perasaanku, seolah dia benar-benar ada di hadapanku. Alangkah indahnya kenangan saat itu, saat aku remaja dulu.

Warna dan motif  kertas surat menunjukkan makna

Bagi teman-teman yang pernah mengalami asyiknya menulis surat, tentu paham benar  bahwa tak boleh dengan sembarang kertas kita menulis surat. Seolah ada aturan entah dari mana yang mengharuskan warna dan motif kertas musti berbeda, tergantung kepada siapa surat itu ditujukan. Kertas dengan motif bergaris biru-merah yang terkesan formal, adalah kertas yang biasanya dipakai oleh para mahasiswa perantauan untuk menyurati orang tua di kampung halaman, bahwa kiriman wesel ( ha ha .. wesel ! ) sudah diterima dengan baik. Kata-kata pembuka suratpun sangat khas, ” Kepada Yang Terhormat Ayah dan Ibu di rumah “. Lalu ditutup dengan, ” Salam sembah penuh takzim dari ananda. Jangan putus mendoakan untuk kesuksesan ananda ya…”. Dan biasanya masih ditambah juga dengan air mata kerinduan tak tertahankan kepada Ayah- Bunda tercinta, yang tak dapat disertakan dalam surat itu.

Berbeda halnya Jika kita ingin berkirim surat pada teman, sahabat pena, atau saudara sepupu yang seumuran dengan kita. Pilihan kertas surat yang digunakan lebih bebas baik dari ukuran, bentuk, maupun motifnya. Warna dan motifnya boleh apa saja , bebas, yang penting tidak bermotif hati, karena motif hati hanya untuk kekasih tersayang.

Lalu mulailah kita menulis dengan penuh keceriaan, dimulai dengan kalimat, ” Kepada Sahabatku yang Baik hati…”. Selanjutnya, ” Hai, apa kabar ? apakah kamu ada dalam keadaan sehat ? aku alhamdulillah sehat walafiat. Oh iya, aku sudah menerima suratmu minggu lalu. Wah, senangnya. Akan aku menyimpan suratmu dengan baik. Terimakasih ya sahabatku, … dst …”.

Alangkah indahnya persahabatan di masa itu. Begitu tulus dan murni, penuh kesantunan.  Bahkan kesantunan inipun tetap terjaga dalam bahasa tulisan.

Lalu buat kekasih ? nah ini dia yang paling spesial. Pilihan warna kertasnya tentu berbeda dengan surat biasa. Harus berwarna lembut dan berkesan romantis. Bisa berwarna merah muda, biru muda, oranye muda, hijau muda, merah hati, apa saja yang penting berwarna lembut. Abu-abu lembutpun boleh, asal motifnya berwarna terang, misalnya bunga mawar dan hati berwarna pink cerah., boleh saja. Asal jangan berwarna hitam dan merah, karena itu tanda putus dan marah, he he …
Motifnya pun harus spesial. Kan suratnyapun ditujukan bagi orang yang spesial di hati kita. Motifnya bisa hati, bisa rangkaian bunga cantik, lukisan Putri dan Pangeran yang sedang memadu kasih, dan ada juga kertas surat yang bermotifkan kata-kata romatis seperti, ” I Love You forever ” , ” I miss you ” , ” Be My Valentine “, dsb

Untuk kekasih, tentu pembukaan suratnyapun bernada romantis. ” Kepada kekasihku yang selalu kurindukan “. Atau, ” Kepada Yang Tersayang Kekasih Hatiku “. Kemudian berjuta kerinduan, selaksa rasa kangen mengalir dan terus mengalir dari hati melalui goresan tinta bolpoin ke atas secarik kertas yang indah. Kalimat-kalimat yang menggambarkan berbunga-bunganya hati, melukiskan dalamnya rasa cinta kepadanya, menggambarkan kerinduan yang sangat untuk segera bertemu.  Ditutup dengan kalimat indah, ” Rinduku selalu bersamamu “, atau, “Semoga kita dipersatukan dalam mahligai rumah tangga yang bahagia” , dst , yang serba indah , romantis, namun tetap santun.

Begitulah pada lalu, orang-orang mengekpresikan rasa cintanya kepada yang terkasih dengan penuh kelembutan, keindahan, dan romantisme yang lugu. Dulu rasanya tidak ada orang yang mengekspesikan kerinduan kepada kekasihnya dengan ekspresi, ” muaacch, muaacch, muaachh 1000x “. Kayaknya nggak ada deh. Beda dengan zaman sekarang. Waduh, nggak muda nggak tua,  ekspresi ciuman diumbar dimana-mana, dilengkapi dengan emoticon yang mendukung. Ciuman gratis bertebaran tanpa memandang status, apakah sudah berpasangan secara resmi ataukah belum. Seandainya anak-anak muda zaman sekarang dapat menjalin kasih sayang dengan tetap menjaga akhlak yang baik, tidak melibatkan nafsu birahi, tentu tak perlu terdengar kabar, sekian puluh persen remaja putri Indonesia sudah dalam kondisi tak perawan lagi. Sungguh memprihatinkan.

Sertakan parfum, dan kecupan manis untuk sang Kekasih

Menulis surat kepada Kekasih memang mengasyikkan.  Kadang sampai lupa waktu, karena kita terhanyut dalam genangan kerinduan dan keindahannya. Kala itu, sepucuk surat cinta dapat berarti segalanya. Sebagai pengganti ketidakhadirannya di sisi kita, sebagai bukti dalamnya rasa cinta, dan sebagai curahan kasih sayang.Oleh karenanya sudah lazim pada masa itu, para pecinta memilih tinta dengan warna -warna yang dianggap dapat mewakili perasaan kita. Kalau tidak salah, tinta berwarna merah berarti marah atau cemburu. Tinta hijau menunjukkan kita menerima cintanya, tinta hitam dan biru tanda cinta yang tulus, dsb. Entah benar atau tidak jika warna-warna itu memang memiliki makna tersendiri, dan entah siapa juga yang memulai ide itu, tak ada yang tahu. Yang jelas, remaja di saat itu banyak yang mengikuti trend tersebut.  Lucu juga kalau diingat-ingat.

Lalu ini yang paling fantastis : saking cintanya kepada si dia, para kekasih sering menyemprotkan parfum ke atas kertas surat cintanya. Sehingga ketika surat itu dibuka dan dibaca oleh kekasih, yang pertama tercium adalah aroma harum yang menghambur, aroma parfum yang biasa dipakai si dia, yang membuat hati semakin dicekam kerinduan yang mendalam.

Oh iya, ada juga yang tak lupa disertakan, yaitu kecupan manis di atas kertas surat cinta, sebagai pengganti ciuman kita untuk si dia. Cukup satu kecupan ringan, nggak usah pakai  napsu, toh si dia juga nggak akan tahu dan nggak mungkin merasakan ^___^

Nah, selesai sudah surat cinta kita. Lipat dengan manis. Eh tunggu, cara melipat suratpun ada maknanya lho, tapi tak akan saya tulisakan sekarang, bisa kepanjangan soalnya. Lalu masukkan ke dalam amplop yang serasi. Direkat, tempelkan perangko,dan cepat kirimkan. Jangan lupa berdoa agar surat tersebut tidak salah alamat. Jangan sampai alamat yang tertera justru alamat kekasih yang kedua, ha ha …

Menulis surat adalah menyertakan sentuhan pribadi

Ada yang tak tergantikan oleh SMS, BBM, chatting atau Email, yakni sentuhan pribadi, sentuhan kehangatan hubungan antar manusia. Selalu saja ada yang hilang manakala sesuatu yang bersifat instant menggantikan hal-hal yang bersifat manual yang melibatkan kedalaman emosi.

Ketika kita merima surat cinta yang rasanya begitu lama kita nantikan, maka perasaan hangat yang indah akan mengaliri hati kita, merayapi relung jiwa kita, dan menjalari segenap indera kita dengan sentuhan keindahan yang tak trgambarkan. Dari awal hingga salam akhir, membuat dunia ini dan segalanya menjadi begitu indah dan penuh warna. Sayang sekali, romantika menulis surat sudah harus ditinggalkan. Keasyikan merangkai kata yang sangat bermanfaat bagi kehalusan budi pekerti harus dilupakan. Kini semuanya telah tergantikan dengan SMS : pesan yang sangat pendek saja. Sayang sekali. Nah teman-teman, masihkan engkau ingat kapankah terakhir kali engkau menulis dan menerima surat cinta ? dan masihkan teman-teman menyimpan surat cinta itu ? ayo baca sekali lagi, dan rasakan keindahannya yang tak lekang oleh waktu …

Salam sayang,

Anni

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 8 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 8 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 8 jam lalu

Ada Oknum “Nakal” di BPN Jakarta …

Syaifudin | 9 jam lalu

Wow, Cantiknya Puteri Bu Susi …

Den Hard | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: