Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Mata Pena

Bertindak mengikuti kata hati

Menjajali Keindahan Puncak Maras

REP | 15 January 2013 | 00:51 Dibaca: 348   Komentar: 0   0

1358185636924113751

*Bukit Tertinggi di Pulau Bangka

Sekedar informasi tempat highcamp bagi yang datang ke Pulau Bangka dan ingin menuntaskan dahaga pendakiannya. Memang pecinta alam atau siapapun yang hobby ke gunung belum lengkap bila ke Pulau Bangka tidak menginjakkan kaki ke puncak Maras. Masyarakat Bangka lebih menyebutnya dengan Gunung Maras, walaupun sebenarnya dalam kategori bukit, karena ketinggiannya yang tak sampai 1.000 mdpl.

Informasi Mengenai Maras

Puncaknya kurang lebih sekitar 699 mpdl, untuk ketinggian sebuah gunung memang belum ideal, tetapi pecinta alam setempat, begitupun masyarakatnya cukup bangga dengan keberadaan Gunung Maras yang dinilai masih terlihat disegani. Saya lebih suka menulis dengan sebutan Puncak Maras saja, karena itu lebih adil untuk sebuah Maras yang terlalu kerdil dibilang bukit, namun memang masih jauh bila dibandingkan dengan tinggi gunung seharusnya.

Puncak Maras berada di area Desa Rambang Kecamatan Riau Silip, sebagian wilayahnya juga masuk Kecamatan Bakam Kabupaten Bangka dan Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia. Kalau ditempuh dari Kota Sungailiat (Ibukota Kabupaten Bangka) jaraknya sekitar 70km, Pangkalpinang 100km sedangkan dari Kecamatan Belinyu sekitar 33km.

Trek yang biasa kami gunakan adalah melalui Desa Buhir Kecamatan Riau Silip, ada juga pendakian lewat jalur Dusun Rambang dan Kelapa. Untuk jalur Desa Buhir, dari aspal ujung desa perjalanan menuju kaki bukit 1 yang dibawahnya terdapat sebuah air rerjun. Di sini biasanya kami melepas lelah sejenak untuk istirahat, makan dan sholat. Bahkan juga kadang mandi, karena airnya sangat jenih sekali dengan bebatuan di sekelilingnya.

Pendakian bukit 1, trek langsung menanjak sehingga kadang untuk pemula agak kaget dengan kondisi ini. Terkadang bisa saja setengah pingsan sebelum habis melumat bukit pertama. Anehnya, ketika berhasil melewati bukit 1 sedikit mulai bisa beradaptasi dengan jalur pendakian walau tetap mesti ada istirahat.

Di sepanjang jalan, hutan-hutan masih tampak rimbun dengan pohon-pohon yang besar, namun ada juga yang tumbang karena faktor alam. Hutan di sini masih dilestarikan benar dengan hukum adat setempat, jadi tidak ditemui pohon yang ditebang untuk illegal logging ataupun perkebunan rakyat.
Sepanjang jalan, suara-suara alam terus menemani bersama desahan nafas kami yang yang ngos-ngosan, hingga ketika jantung sudah berdegup cepat, biasanya kami sudah beristirahat di titik manapun kami mau. Terkadang hanya dengan sambil merebahkan ransel untuk sejenak menghilangkan pegal di pundak.

Ada beberapa bukit yang harus dilalui untuk mencapai puncak dan yang paling terdasyat adalah bukit ke 7. Bukit ke 7 adalah bukit yang seakan tiada habis tebingnya untuk ditaklukkan. Merupakan trek paling tersulit sebagai bagian dari badan Bukit Tambun Tulang yang konon dikenal “angker”.
Cerita yang berkembang di masyarakat, Bukit Tambun Tulang tidak boleh didaki sembarangan orang, karena terkenal angkernya itu. Ada yang bilang, bukit itu dinamakan Tambun Tulang karena dulunya pada zaman perang banyak tulang-tulang manusia yang berserakan. Informasinya perang zaman Belanda, sehingga mayat yang bergelimpangan membentuk sebuah bukit.

Di bukit inilah hal-hal magis masih berlaku sehingga sering dikunjungi pecinta magis juga. Kalau kami tidak pernah ke situ karena niat kami menikmati mengagumi alam Puncak Maras. Usai melewati bukit ke 7, ada 1 bukit lagi yang tidak terlalu tinggi yang ditumbuhi kantong semar. Disini biasanya kami membuka kantung semar untuk merasakan air alam.

Lalu bukit ke 9 yang dikenal dengan nama Bukit Palas. Di Palas pemandangannya sangat menakjubkan. Ke arah utara terlihat hamparan hijau dan laut serta sebuah pulau yang membentuk seperti hati (Love). Bila ke arah selatan, hutan masih begitu lebat dan sering kami bertanya apa yang ada di dalam hutan itu. Hutan yang tampak masih perawan ini terlihat sangat jarang terjamah.
Ke arah barat, terlihat puncak Bukit Tambun Tulang menyembul dengan gagah. Semua pendaki merasakan hal yang nyaman apabila mencapai Bukit Palas, karena seakan terbayar sudah semua keletihan selama perjalan sebelumnya.

Di Puncak Palas seakan berganti dengan rasa bangga bisa menggapai puncak ini, serta rasa syukur pada yang Maha Kuasa dengan tiada henti-hentinya. Tak lupa juga berfoto ria karena latar belakang pemandangannya cukup mempesona. Kadang di tempat ini juga banyak pendaki yang nge camp, cuma karena tidak ada sumber air maka harus membawa dari bawa atau mengambil ke Puncak Maras dengan perjalanan normal sekitar 30 menit.

Perjalanan dilanjutkan menuju arah timur dari Puncak Palas dimana sebelah kiri dan kanan jalan berjajar pohon sapu-sapu yang sedikit membuat perbedaan dari trek sebelumnya. Lalu pada puncak ke 9 di sebelah kanan jalan ada dua buah pohon sapu-sapu. Kalau kita berfoto di tengah-tengahnya fotonya seolah terbingkai secara alami.

Tentunya, hasil foto menjadi sangat bagus dengan ke khasannya sendiri. Sebab dua pohon sapu-sapu itu, daun dan dahannya amat bercitarasa seni tinggi. Jadi, jangan lupa ambil pose di sini kawan. Bukit ini kami namakan Bukit Bingkai.

Ketika perjalanan dilanjutkan menuju Puncak Maras, trek masih melewati dua bukit yang lumayan menguras konsentrasi dan stamina. Rata-rata dari bukit ke 9 ini ditempuh + 30 menit sepanjang perjalanan dijumpai pohon dengan kulit luar  dilapisi lumut hijau tebal.

Lumayan sangat menguras tenaga dan stamina lagi, terkadang untuk menaklukkan dua bukit ini kami agak sedikit terdiam karena keletihan dan pengen buru-buru sampai puncak. Mendekati puncak, jalan sedikit berkelok dengan beberapa kayu-kayu pohon yang menghalangi jalan, tapi trek tetap terlihat jelas.

Hingga akhirnya di penghujung bukit terakhir ini tibalah Puncak Maras yang di lokasi campnya terdapat karpet alami dari rerumputan hijau. Merupakan lokasi camp favorit para pendaki untuk menginap mendirikan tenda. Di atas Puncak Maras ini bisa menampung hampir 50 orang, kalau tenda dome ukuran 3-4 orang bisa didirikan sampai 12 dome.

Di sinilah kami mendirikan tenda, sujud syukur, menikmati alam, meresapi belaian angin, diselimuti kabut, melihat awan lebih rendah, bercengkrama, teriak melepas kepenatan tanpa harus malu, bercerita, mendapatkan ketenangan, damai dan mensyukuri kebesaran Tuhan.

Kami juga merasa bangga dan membanggai punya Puncak Maras sebagai daratan tertinggi di Pulau Bangka bahkan paling tinggi se Provinsi kami. Oh ya, Untuk lama perjalanannya dalam waktu normal sekitar 3- 4 jam dengan beban lumayan. Bisa lebih lama dari waktu standar tersebut, bisa juga lebih cepat kalau tanpa beban berat dan stamina fresh.

Di Puncak Maras ada sebuah sumur kecil, sebuah mata air yang jaraknya tidak lebih 10 meter dari Puncak Maras. Sangat dekat sekali, sehingga sumber air ini biasa kami gunakan untuk keperluan selama di Puncak Maras. Rasa-rasanya alam Puncak Maras sudah menyediakan segalanya untuk membuat kami betah.

Malamnya dengan sebuah gitar kami melantunkan lagu bersama sambil menatapi bintang dan bulan bertaburan (kalau sedang tidak kabut) yang terasa amat dekat. Menikmati hangatnya kopi susu, mengikrarkan mimpi-mimpi yang akan diwujudkan suatu saat nanti.

Saat terbangun pagi dan cuaca sedang tidak diselimuti kabut, pemandangan dari Puncak Maras amat menakjubkan dengan hamparan hijau, pantai yang surut, pulau yang membentuk love, Jembatan Perimping, awan yang bergantung seakan bisa digapai. Tentunya juga udara pagi di puncak ini sangat segar sekali.

Bersama tetesan embun yang membasahi dedaunan hijau, kuncup-kuncup tunaspun muncul pada pagi hari menambah semaraknya Puncak Maras. Biasanya sambil memegang secangkir kopi susu, kami berdiri menatap dan menikmati semua yang ada. Setelah sarapan kami turun ke sumber air yang di bawah. Lumayan jauh, sekitar 30 meter dengan menuruni bukit.

Kenapa kesini?, karena di sini airnya lebih luas untuk mandi. Sebuah sumber  mata air dengan berbatuan yang diselingi akar pohon sangat terjaga kejernihannya, di sinilah kami mandi sepuasnya. Saran, untuk puas menikmati Puncak Maras minimal harus menginap 2 malam sehingga total dengan perjalanan 3 hari 2 malam.

Kita bisa menikmati keindahan Puncak Maras dengan cara apapun (asal tidak menganggu alam dan “penghuninya”). Hendak pulang?, tenang kalau turun lebih mudah, walau tetap letih. Perjalanan turun lebih ringan, cuma butuh waktu 1,5-2 jam, karena tanjakannya tidak sesulit ketika naik. Kadang kami sambil berlari supaya cepat sampai.

Setelah sampai di bawah tak lupa tetap singgah di air terjun untuk mandi sepuas-puasnya, makan dan lainnya. Kadang disini juga kami menangkap udang karena lumayan banyak udangnya yang dicampur masak dengan mie instan. Setelah berpuas-puas di air terjun yang biasa kami lakukan sekitar 2 - 3 jam kami melanjutkan pulang menuju jalan di pinggir desa untuk menuju mobil jemputan, tempat penitipan motor ataupun sekedar numpang (ngeteng/ngoboi/backpackeran).

*Menuju Puncak Maras lebih asik bila:

1. Menempuh perjalanan sampai kaki bukit dengan ngeteng/ngoboi, karena selain irit juga terasa jiwa petualangannya. Backpacker sejati kawan, juga melatih kita untuk bersikap dan berturur kata yang santun, karena kalau tidak santun mana ada orang yang mau kasih tumpangan. Selain itu, kita akan menemukan tempat-tempat pemberhentian yang berbeda dan akan mengenalkan kita pada orang-orang baru suasana baru serta menambah keanekaragaman hidup kita.

2. Bawa perlengkapan yang secukupnya saja supaya tidak berlebihan beban dan tidak capek, cuma jangan minim banget karena akan menyulitkan kita di atas, sebab gak ada toko kawan apalagi warung padang dan lamongan pecel lele.

3. Jangan lupa bawa gitar, batre hp cadangan (sekarang dah ada power bank), kamera dan lebih asik di atas itu kalau bawa ikan dan cumi untuk dibakar, karena sensasinya beda sekali (lebih nikmat).

4. Untuk menjaga stamina, dibawa juga gula merah/gula kabung, karena makanan yang satu ini bisa menjaga stamina kawan.

5. Tenda sebaiknya menggunakan tenda dome, karena lebih terlindung dari dingin, badai dan hujan.

6. Jangan lupa bawa buku tulis, sebab kebanyakan dapat inspirasi, siapa tau bisa menulis sesuatu yang bagus.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 8 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 11 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 15 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 16 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: