Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Rz Hakim

Rakyat biasa yang senang menulis. Tinggal dan berteduh di rumah singgah Panaongan - Jember.

Tentang Kucing Jantan Belang Telon

REP | 07 January 2013 | 17:11 Dibaca: 11782   Komentar: 30   7

Rasa penasaran saya pada kucing jantan belang telon atau tiga warna, dimulai sejak awal Desember 2012. Saat itu, saya menemukan seekor anak kucing yang tergeletak dan sudah tak bernyawa. Rupanya dia kucing berkelamin jantan, dan memiliki tiga warna. Nenek saya biasa menyebut kucing seperti ini dengan nama kucing belang telon.

Gara-gara penemuan itu, dongeng-dongeng masa kecil (yang pernah Nenek dongengkan) kembali hadir di pikiran saya. Benarkan kucing jantan belang telon tidak memiliki kesempatan hidup lebih panjang hanya karena dia resesif? Apa benar yang dulu Nenek dongengkan, semisal kucing ini hidup hingga dewasa, dia akan memiliki keistimewaan khusus seperti daya hipnotis terhadap mangsa? Itu semua kembali berkeliaran dalam pikiran saya. Itulah yang membuat saya penasaran hingga menuliskannya di jejaring sosial.

Di waktu yang lalu (8 Desember 2012), saya pernah update status di jejaring sosial facebook seputar kucing belang telon alias belang tiga warna. Saya tuliskan disana bahwa kucing belang telon jantan memiliki masa hidup yang tidak panjang. Berikut adalah catatan selengkapnya.

Ini catatan saya pada 8 Desember 2012

1357551917813097893

Kucing jantan belang telon (belang tiga warna) memiliki masa hidup yang tidak panjang, oleh sebab dia selalu diburu oleh kucing-kucing yang lain, untuk kemudian dihabisi. Tidak jarang, kucing belang telon (yang jantan) akan dicabik-cabik oleh ayah biologisnya sendiri, karena dianggap sebagai ancaman.

Konon kabarnya, kucing belang telon memiliki keistimewaan pada sorot mata yang bisa menghipnotis. “Untuk menangkap tikus, kucing belang telon cukup memandangnya saja, maka ‘blukk..’ jatuhlah tikus itu,” begitu kata Nenek saya dulu.

Sebagai seorang bocah yang sudah mengenal serial Little Missy dan kartun POLICE ACADEMY, tentu saja saya tidak mempercayainya. Dulu saya selalu membatin, “Opo rah kah Mbah Uti iki, maktakker onok kucing sing koyok ngono jare.”

Dan semua ketidakpercayaan saya pada dongeng Almarhumah Nenek berhenti sejak beberapa hari yang lalu, ketika saya mendapati sendiri, kucing kecil (jantan dan belang telon) yang mati tercabik. Padahal umurnya masih sekitar satu minggu.

Ah, ternyata Nenek benar.

Masih ada banyak lagi kisah-kisah dari orang-orang sepuh di sekitar kita yang belum tergali. Tentang suasana desa tempo dulu, keindahan negeri ini, keramahtamahan, segala kepribadian bangsa, dan puisi-puisi kuno yang dilestarikan oleh sebuah kata bernama Gak Ilok. Yang kita butuhkan hanyalah menyediakan hati dan telinga, senyum, serta daya nalar yang bijaksana.

Ini catatan saya pada 1 Januari 2013

13575522211414675731

- Masih Tentang Kucing Jantan Belang Telon -

Di waktu yang lalu (8 Desember 2012), saya pernah update status seputar kucing belang telon alias belang tiga warna. Saya tuliskan disana bahwa kucing belang telon jantan memiliki masa hidup yang tidak panjang.

Biasanya dia selalu diburu oleh kucing-kucing yang lain, atau bahkan dicabik-cabik oleh ayah biologisnya sendiri, karena dianggap sebagai ancaman.

Kenapa demikian? Sebab semisal dia bisa tumbuh hingga besar, maka kucing belang telon jantan dipercaya memiliki kekuatan lebih (hipnotis) yang bisa melumpuhkan mangsa buruan hanya dengan menatapnya saja. Sangat jauh berbeda dengan kucing-kucing jantan pada umumnya.

Dari mana saya mengetahui semua itu? Hmmm, sebenarnya itu hanya dongeng yang saya dapat dari Ibu. Beliau mendapatkan kisah itu dari ibunya. Entah, Nenek saya mewarisi cerita itu dari siapa, mungkin dari Ibunya.

Bisa dikatakan, kisah di atas hanyalah cerita rakyat belaka.

Jika dilihat dari dunia perkucingan, tidak ada potensi keberadaan kucing jantan belang telon. Kalaupun ada, pasti akan membawa cacat-cacat genetis tertentu. Belang tiga selalu betina. Dan mitos tentang kucing belang telon selalu berkelamin betina bisa diterangkan secara akademis.

Pada 1 Januari 2013 yang lalu, saya sangat senang ketika mendapati kenyataan, ada seekor kucing belang telon jantan yang lenggang kangkung tanpa permisi. Dengan santainya dia berjalan tak jauh dari tempat saya nyruput kopi.

Saya tidak peduli apakah dia adalah kucing jantan belang tiga yang kadar hormon dan kromosomnya tidak normal, atau komposisi warnanya yang tidak balance, atau apalah. Sudah sejak lama sekali saya merindukan perjumpaan ini. Entah, saya lupa, sejak SD kelas berapakah itu.

Dan berikut adalah catatan saya pada 2 Januari 2013

13575527561526791906

Iya benar. Setelah saya perhatikan, ternyata kucing jantan belang telon itu kemayu. Meskipun berkelamin jantan, dia memiliki sifat-sifat yang menyerupai kucing betina.

Ketika saya coba mencari tahu, saya dihadapkan pada istilah-istilah biologi seperti eumelanin, phaeomelanin, kromosom X, kromosom Y, diploid (2n), haploid (n), triploid (XOXoY), somatis, meiosis, gen heterozigot, rumus XOXo, genotipe XoXo alias homozigot resesif, genotipe XOY, dan entah apa lagi. Itu semua membuat saya semakin bingung.

Saya akan mencoba menjelaskan dengan lebih sederhana, kenapa kucing jantan belang tiga terlihat cantik.

Menurut dunia permeongan, ahli waris warna rambut belang tiga dari tetuanya adalah kucing betina, bukan yang jantan. Bila ada kucing jantan yang memiliki tiga warna, bisa dipastikan kucing tersebut bakal menuai ajal atau fertil alias mandul. Hmmm, berarti kucing jantan belang telon yang saya temui adalah kucing mandul.

Jika menggunakan gaya bahasa genetis, maka kalimatnya akan menjadi seperti ini. Kucing yang saya temui (belang telon jantan) kemungkinan besar memiliki kromosom X tambahan (XXY). Seharusnya hanya memiliki satu kromosom X (XY) yang tidak mengalami X - inaktivasi. Bila kondisi ini dialami manusia, maka akan dikenal sebagai sindrom Klinefelter.

Kucing jantan belang telon terlahir dari rahim induk betina yang mengalami proses meiosis (pembentukan sel kelamin) tidak normal. Peristiwa meiosis tak wajar ini akan menghasilkan sel kelamin bersifat diploid (2n). Padahal sel kelamin normal itu bersifat haploid (n).

Tapi biar bisa dianugerahi bulu belang tiga, kucing jantan tersebut musti memiliki sepasang kromosom X plus 1 buah kromosom Y. Yang terjadi pada kucing jantan belang telon, dia mengalami pendistribusian kromosom secara tidak merata sewaktu terjadi fertilisasi atau pembuahan. Dengan demikian, berarti kucing tersebut tak lagi bersifat diploid namun menjadi triploid (XOXoY).

Hadduh, tambah posang saya. Pokok intinya, jika ada kucing jantan belang telon dewasa, berarti dia mengalami gangguan hormonal.

Kabarnya, kemungkinan dilahirkannya kucing belang telon berkelamin jantan hanya sebesar 1 : 10.000 (ada juga yang mengatakan 1 banding 3000, melalui perhitungan pohon faktor genetis). Meskipun langka, keberadaan kucing belang telon jantan bukanlah sebuah kemustahilan. Itu artinya, masih ada kemungkinan dilahirkan kucing belang tiga berkelamin jantan, seperti yang tampak pada foto.

Sekarang pertanyaannya, kenapa bayi kucing belang telon jantan seringkali dicabik oleh induknya sendiri? Ini dia jawabannya, dapatnya nyontek di berbagai sumber, haha..

Induk terpaksa membunuh bayinya yang belang telon jantan karena pada umumnya kucing ini dilahirkan dalam kondisi ringkih. Kucing jantan ini berstamina lemah lantaran memiliki jumlah kromosom yang berlebihan. Itulah kenapa dia mengalami gangguan hormonal. Sang Induk nggak rela jika keadaan tersebut menimbulkan gangguan kesehatan bagi anak-anak kucing yang lain.

“Ooooo…”

Sedikit Tambahan

Setiap yang langka pasti punya kelebihan. Mungkin apa yang dulu Nenek (dan Ibu) dongengkan benar. Saya rasa, kucing jantan belang telon dewasa mampu menyatukan antara kejantanan dan kelembutan.

Bapak Didik Raharyono, seorang pengasuh situs dan funpage Javan Tiger Center, dan peneliti keberadaan karnivor besar di Jawa, turut memberikan apresiasinya pada tulisan saya tentang kucing jantan belang telon. Berikut adalah komentarnya.

“Secara umum, dia yang jantan kembang telon nggak berumur panjang… tetapi di dunia Biologi selalu ada ‘perkecualian’ nah ini yang menarik untuk dikaji… perkecualian itu..: Inilah mengapa Biologi itu bukan ilmu pasti… Karena selalu ada “kelenturan = perkecualian” tersebut… Sebab jantan kembang telon secara teori mempunyai kelainan gen terpaut sex yang bersifat LETAL (mati)…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Stanley, Keindahan Sisi Selatan Hongkong …

Moris Hk | | 29 August 2014 | 14:46

Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 10 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 13 jam lalu

Jokowi Mengkhianati Rakyat Jika Tidak …

Felix | 14 jam lalu

Ganteng-Ganteng Hakim MK …

Balya Nur | 15 jam lalu

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

BBM Naik Kenapa Takut? …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Kasus Florence : Salahkah Bahasa …

Mania Telo | 8 jam lalu

Waspada, Demam Berdarah Mulai Jangkiti …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Dilarang Berenang di Laut Mati …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Udah Ngapain Aja untuk Menghadapi Masyarakat …

Zuhri Muhammad | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: