Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Gaganawati

Wanita Indonesia di Jerman, ibu rumah tangga, 3 anak; menanam kebaikan saja tidak cukup, teruslah selengkapnya

Mengajak Bayi Berenang dan Pijat? Why Not?

OPINI | 20 May 2012 | 04:25 Dibaca: 1348   Komentar: 15   6

1337444655441495703

Mengajak bayi berenang sejak dini

Saya perhatikan sampai tamat sebuah video dari youtube yang memamerkan artis Krisdayanti sedang membawa bayinya ke sebuah salon SPA (renang dan pijat) di Jakarta, dan beberapa bayi keluarga lainnya (yang maaf, lupa menutupi kemaluan si bayi). Semoga ini diambil kebaikannya dan ditinggalkan sesuatu yang dianggap mungkin kurang pas. Wow, membiasakan bayi berenang sejak dini memang ada manfaatnya.

***

Pemda Jerman paling gencar memberi semangat para ibu agar anak-anak mereka mendapatkan pelayanan Baby SPA. Saat melahirkan, segepok tiket diberikan (diskon kursus bayi SPA (renang dan pijat), tiket gratis KA sekeluarga dalam sehari dan lain-lain).

Semoga ini diikuti pemda di tanah air sehingga menyemangati para keluarga muda untuk mengajak anak-anaknya rajin berenang sejak dini. Bangsa kita yang dikenal memiliki nenek moyang pelaut masak takut air, tak bisa berenang ? Hiks malu … dan bisa bahaya.

Kemarin dulu, seorang ibu yang sedang hamil mengeluh bahwa kaki, pinggang dan punggung terasa capek. Oleh dokter Jerman, ia dianjurkan untuk banyak jalan dan berenang! Tapi karena merasa enggan, bumil yang punya kolam renang di lantai dasar itu tak menurutinya. Ya sudah, saya bilang terserah dia saja. Selanjutnya, ia saya rekomendasikan untuk ikut kursus baby SPA dimana bayi bisa ikut berenang bersama ibu dan kawan-kawan, di sebuah rumah sakit terdekat.

Banyak hikmah dari Baby Spa yang bisa diambil:

1. Pengenalan bayi pada air

Adaptasi anak-anak kami pada rasa basah dan dingin (apalagi usai keluar dari air) membuat mereka PD tak takut air, tahu tekanan air (dengan menyelam dan berenang), merasakan tekanan udara dari pernafasan terengah-engah akibat berenang dan seterusnya. Itu menjadi sebuah proses yang sangat kami nikmati untuk diperhatikan. Mungkin anak-anak desa yang kebiasa nyemplung di kali, karakternya bisa jadi lebih kuat (tahan banting) dari anak kota yang harus berenang di air bersih, lantaran terbiasa menerima keadaan sekedarnya. Begitu pula dengan anak yang sering berenang dan hampir tidak pernah berenang?

2. Olah raga air.

Sebagai orang Indonesia yang kaya akan air laut, danau, sungai dan sejenisnya ternyata banyak orang asing yang nyentil ke saya justru orang kita banyak yang malas ke pantai atau parahnya tidak bisa berenang (hiks, malu saya dengan gaya batu, kupu-kupu patah sayap, atau katak dalam tempurung). Saya yakin, pembiasaan masyarakat Jerman untuk mengajak bayi berenang sejak dalam kandungan akan menstimulasi ketertarikan akan dunia ini semaksimal mungkin. Itu terbukti. Ketiga anak kami amat gila air, ih seperti bapaknya. Ya, sejak dalam perut memang mereka sudah kami ajak main air sampai beberapa minggu sebelum lahir. Walah, bundanya hanya jadi tukang panjat saja.

3. Hubungan ibu dan anak semakin erat dengan sentuhan saat berenang bersama dan pijat.

Relaksasi dengan orang terdekat (dalam hal ini saya selaku ibu bahkan sesekali ayah) dan stimulasi positif pada bayi mempererat hubungan ibu dan anak, melalui sentuhan tubuh dan kulit waktu SPA.

Apa yang harus diperhatikan dalam melakukan Baby SPA ini?

1. Biasanya anak-anak kami yang baru saja di imunisasi, badannya panas atau tidak enak badan bahkan rewelnya minta ampun. Sehingga sering kami tunda acara berenang sekeluarga sampai bayi pulih benar.

2. Pembiasaan berenang bersama anak-anak kami telah dilakukan sejak dalam kandungan, dan beberapa bulan setelah pusar kering dan jahitan ibu kering benar.

3. Alhamdulillah karena anak-anak lahir tidak cacat (jantung, hati, telinga, paru-paru dan sebagainya sehat) tak terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan saat mereka kami ajak masuk air barang satu-tiga jam (minus pause).

4. Saat putra-putri kami sedang mencret, muntah, panas, batuk, atau sakit lainnya kami amat berhati-hati mengajak berenang dan hanya memberikan pijat tradisional ala nenek moyang saya; bawang merah dan minyak jlantah ala Jawa … waaaa anaknya nangis kenceng, tapi badannya segaran!).

5. Jika sedang berenang dengan atau tanpa ayah, penyediaan kursi/keranjang kursi bayi (red: seperti Autositz maxi cozy di Jerman) amat mutlak ada demi meletakkan bayi dengan aman memakai tali pengaman. Demi menghindari kerepotan saat saya berganti baju atau kekhawatiran terhadap bayi jatuh dan lainnya.

6. Karena Jerman seringnya dingin, mantel mandi atau handuk yang lembut untuk mengeringkan/ menghangatkan tubuh sebelum ganti baju kering, selalu ada di tas berenang.

7. Pernah saat istirahat berenang, saya susui bayi, ternyata setelah diikutkan berenang lagi, bayi bisa muntah meski telah bersendawa ya? Jadi setidaknya waktu terakhir minum/makan adalah 30 menit sebelum berenang/pijat agar tidak muntah.

Lalu apa bedanya Baby SPA di Indonesia dengan Jerman?

1. Setiap bayi di Jerman diharuskan memakai pakaian renang saat berenang (atau pembalut khusus anti air untuk berenang), bukan telanjang seperti di Indonesia yang kebanyakan di up load di youtube (kan bisa dilihat orang sedunia, bisa malu kalau sudah besar barangkali). Saya pikir selain dari sisi etika, kenyamanan dalam berolahraga air dengan pakaian yang semestinya hingga tidak mengganggu, juga patut diperhatikan.

2. Desain pelampung yang digunakan di tanah air mengapa melingkar di leher? Pernahkah orang dewasa mencoba ini dan merasakannya? Rasanya kok tidak nyaman sesuatu yang besar melingkar di leher, padahal jaket pelampung (pesawat atau rafting) saja melingkarnya di seputar dada jika pakai rasanya aneh. Kami selalu memakai pelampung untuk bayi yang didesain bagai cincin plastik yang memiliki dudukan, agar posisi bayi benar tegak dengan safety belt.

3. Nampaknya kebiasaan rajin melakukan baby SPA di Jerman patut dicontoh karena peran ibu sangat besar dalam mengerjakannya dipandu instruktur ahli atau dirumah dengan pengalaman kursus. Sentuhan asli dari ibunda saat bersama-sama berenang atau memijat, membuat kasih sayang mengalir pula dengan deras. Ah, bapak-bapak juga boleh ….

Sedangkan di tanah air, beberapa orang yang justru mempercayakan pada orang lain. Padahal bisa dipelajari dan dilakukan sendiri dirumah. Biasanya bisa di bath tub atau ember raksasa dengan air temperatur yang hangat.

Pengumpulan ibu-ibu yang baru melahirkan biasa dilakukan rumah sakit Jerman, seperti di tempat kami tinggal. Voucher diskon bahkan disediakan pemerintah sebagai hadiah selamat datang memenuhi jagad Jerman.

Belum lagi Hebamme (red: bidan) yang ditugaskan masing-masing rumah sakit tempat melahirkan akan berkunjung selama kurun waktu tertentu untuk memeriksa bayi dan memberitahu cara menyusui yang baik, memijat dan lain sebagainya.

Demikianlah, pengalaman saya saat hamil di Jerman dan banyak berenang demi kesehatan diri dan janin seperti yang disarankan dokter Jerman dan baby SPA setelah bayi sudah lahir (yang ini belum pernah dianjurkan dokter langganan di tanah air kala itu).

Hmmm hasilnya? Anak-anak kami tak ubahnya Deny manusia ikan. Lihat air langsung mak byurr … Yup, baby SPA tak hanya milik KD saja.(G76)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Perjuangan PPP & PPP Perjuangan …

Ribut Lupiyanto | | 31 October 2014 | 14:24

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 6 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 10 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 10 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kompasiana-Tanoto Foundation Blog …

Kompasiana | 8 jam lalu

Sang Pawang Jati …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Meningkatkan Kesadaran Tentang Korupsi …

Andrew Ebeneizer Se... | 8 jam lalu

Moratorium CPNS 5 Tahun? Slow aja! …

Niztchan | 8 jam lalu

Vergiss-mein-nicht (Gema di Lautan Sunyi …

Monika Chandra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: