Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Chris Suryo (paknethole)

Rileks, semua tulisanku anggaplah obrolan sembari minum kopi,..srupuut..

Rally Point? No Way!

OPINI | 01 May 2012 | 13:32 Dibaca: 3080   Komentar: 12   0

13358357361556676830

Badminton kebon. Foto: Punya saya pribadi, dong!

Bagi penggemar olah raga bulutangkis/badminton sejati, maksudnya adalah yang hobby/menyukai dan gemar memainkannya (seperti saya,..hehe), saat ditanyakan sistem skoring manakah yang lebih dia sukai, rally point seperti yang sekarang resmi berlaku ataukah sistem lama, hampir dipastikan bahwa sebagian besar menjawab,” Sistem lama!”

Dan tahukah Anda semua, termasuk pula tokoh-tokoh PBSI ataupun induk olah raga tepok bulu ini dalam tingkat dunia (saya lupa namanya), bahwa hampir semua masyarakat penggemar bulutangkis dengan senang hati “mengabaikan” aturan terbaru itu? Dengan kata lain, model skoring ala rally point itu hanya dijalankan pada event/turnamen resmi tingkat nasional/internasional, sedangkan untuk event lain jelas diragukan penerapannya.

Sedikit mengingat, pada sistem rally point, skor akhir (game point) adalah pada angka 21, tanpa mengenal pindah bola (service over), tiap keberhasilan mematikan lawan ataupun lawan mati dengan sendirinya karena kesalahan sendiri, semua dihadiahi point. Sangat mirip aturan dalam permainan tenis meja. Sangat-sangat tidak menghibur karena di sana pemain yang bertanding tidak benar-benar “lepas” dalam berkreasi, tertekan untuk dituntut sebuah kesempurnaan.

Pada sistem skoring yang terdahulu, game point berada pada angka 15 (untuk tunggal putra, ganda putra serta ganda putri) dan 11 untuk tunggal putri, terdapat sistem pindah bola (tidak melulu diberikan poin), dan deuce pada angka sama (14 dan 10). Di sinilah serunya olah raga permainan ini. Para pemain benar-benar bermain bebas tanpa rasa takut salah, lepas! Leading di awal bukanlah jaminan akan menang di akhir pertandingan. Apalagi jika permainan itu seimbang kekuatannya, kejadian bergantian pindah bola akan menjadikan sesuatu yang sangat menegangkan namun menghibur.

Dan kembali saya tegaskan, ini kenyataan! Paling tidak di komunitas saya dahulu, penggemar bulutangkis “lapangan kebon” ataupun GOR, rally point itu benar-benar dilupakan. No way! Ogah banget!

Sekedar pengakuan bahwa kami pun ternyata lebih sering menggunakan pola skoring “sistem komunitas kami sendiri”, yaitu game point pada angka 30. Sebenarnya pola game 30 ini mengadopsi sistem skor yang lama, hanya saja pada saat salah satu pihak ada yang  mencapai angka 15 maka terjadi perpindahan tempat (sisi lapangan), lalu pertandingan dilanjutkan dengan skor seterusnya 16 sampai berakhir di angka 30, tidak ada rubber/long set.

Pola skor terakhir ini bagi kami terasa lebih mengasyikkan, mengingat dalam keseharian berlatih, banyak rekan-rekan yang menunggu antrian. Dan kalau tak salah, bukan hanya di lapangan kebon saja, di GOR pun pola game 30 ini 99% dimainkan. Anda boleh lihat, banyak GOR yang pada papan skornya menyediakan angka sampai dengan 30.

Sangat setuju bahwa sebenarnya bulutangkis ini sangat merakyat, meskipun keterbatasan lahan membuat lapangan kebon ini mulai berkurang. Padahal jika cuaca mendukung, paling nikmat adalah bermain badminton di lapangan alam ini. Segar dan meriah. Kenapa meriah? Karena bagi kami, bulutangkis bukan hanya smash, drop shot, drive, netting, jumping, atau offside saja (ada yang nggak tahu istilah offside dalam badminton?), namun di sana ada keakraban dan sosialisasi warga. Meskipun yang namanya bapak-bapak ngumpul, ledek-ledekan itu tak terhindarkan, justru menambah semangat “balas dendam” dalam pertandingan. Heboh, meriah, apalagi jika ada “isian”. Bukan duit lho, biasanya sih yang kalah bayarin minuman, nasi uduk dan rokok (ih! Ironis banget ya?). Yaah, namanya juga “atlit kebon”, setelah berjibaku mengalahkan lawan, sangat menikmati “hisapan” kemenangan. Tentu saja buat yang masih merokok lho, tak semua! Yess, nikmatnya kemenangan,…baal..bul…., malah ada yang lupa, karena tak mau keduluan yang lain, masuk ke lapangan lagi pun masih menenteng “tegesan/puntung”. Hoii!! Sopan bos! Ini lapangan!

Sekali lagi, rally point? No Way! Cemen Banget!

Salam lapangan kebon.

.

.

C.S.

Sangat ditakuti pukulan drivenya.

NB: Salam untuk Edi Sudimantoro, Abung Burhanudin, Siswantoro, Budiantoro, Sutarno, Utoyo, Johan Riwanto, Suyadi (Mithun), Muzaini (Jay), Moh. Taridi, Supri, Hari, Wiji, Anzhar, dll, Kapan ya bisa bermain bareng lagi? Di tempat yang baru, raketku banyak nganggur. (Kali aja ada di antara mereka yang kompasianer)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 11 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 11 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 12 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 12 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: